Bagi sebagian besar umat muslim, Ramadan adalah momen untuk memperlambat ritme kerja dan memperbanyak iktikaf. Namun bagi Rohana, perempuan tangguh asal Utan, Kabupaten Sumbawa, Ramadan justru menjadi puncak dari segala kesibukan.
Rohana menetap di Arab Saudi sejak tahun 1990. Di bawah bayang-bayang menara Masjidilharam, ia berjibaku dengan kepulan asap dapur katering dan padatnya lalu lintas Tanah Suci.
"Kalau di sini, siang jadi malam, malam jadi siang," ujar Rohana membuka perbincangan hangat mengenai pengalamannya berpuasa di negeri orang.
Kalimat itu bukan sekadar kiasan. Di Makkah, ritme hidup memang berbalik total saat bulan suci tiba. Rohana adalah potret sukses diaspora Indonesia yang jeli melihat peluang.
Mengelola usaha katering di Makkah, ia menjadi jembatan pelepas rindu bagi para jamaah umrah yang mendambakan cita rasa nusantara. Saat Ramadan, pesanannya melonjak tajam.
Kesibukannya dimulai jauh sebelum azan subuh berkumandang. Pukul 09.00 pagi, ketika matahari mulai menyengat kota Makkah, dapur Rohana sudah berdenyut kencang.
Ia dan timnya harus menyiapkan ratusan hingga ribuan boks makanan untuk berbuka puasa.
"Jam dua atau jam tiga sore, makanan harus sudah stand by di hotel. Kenapa? Karena jalanan ke arah Masjidilharam itu padatnya luar biasa. Kalau telat sedikit, kita terjebak macet dan jamaah bisa telat berbuka," jelas perempuan kelahiran 1979 ini.
Berbicara soal pengalaman pertama kali puasa di rantauan, Rohana mengaku cukup sulit. Saat itu, dirinya masih berusia 11 tahun. Ikut pindah tinggal bersama neneknya di sana.
Awalnya, Rohana cukup kesulitan beradaptasi dengan makanannya. Sebab cita rasa kuliner Indonesia, khususnya khas Sumbawa sangat kontras dengan kuliner Arab Saudi. Belum lagi perbedaan kondisi iklim daerahnya.
“Namanya masih kecil, awalnya memang sedikit susah, apalagi beda iklim, beda budaya, beda juga cita rasa makananya,” bebernya.
Baca Juga: Mataram Gundam, Bisnis Sukses yang Lahir dari Hobi
Namun kata ibu dua anak ini, perlahan dia mulai terbiasa. Memasuki tahun berikutnya, dirinya sudah mulai terbiasa dengan iklim hingga makanan di sana saat berpuasa. Namun, ada satu tradisi yang tak boleh hilang dari mejanya es buah dan es campur.
Di Sumbawa, menu es campur seperti sebuah tradisi. Di antara banyaknya menu khas berbuka puasa, es campur hampir wajib ada di antara mereka. Menu ini sedikit mengobati rasa rindunya terhadap Sumbawa ketika memasuki bulan puasa.
"Itu wajib ada. Cuaca di sini mulai panas, jadi es buah atau es campur itu menu yang harus ada setiap berbuka," tambahnya.
Menjalankan bisnis di pusat peribadatan dunia bukan tanpa kendala. Rohana menceritakan bagaimana harga bahan baku merangkak naik. Layaknya fenomena di Indonesia ketika menjelang puasa dan Lebaran.
Stok bahan makanan Indonesia seperti bumbu-bumbuan memang tersedia melimpah di Al Kakiyah, pusat perbelanjaan grosir di Makkah. Namun harganya pun ikut melambung tinggi.
“Ada beberapa menu khas Sumbawa yang rempahnya tidak dijual di sini. Jadi kalau kangen masakan Sumbawa, resepnya sedikit dimodifikasi,” jelasnya.
Belum lagi urusan transportasi. Rohana mengisahkan betapa tarif taksi bisa melonjak drastis dari 20 Riyal menjadi 100 Riyal (sekitar Rp 400 ribuan) sekali jalan, karena tingginya permintaan dari jutaan jamaah yang datang dari seluruh dunia. Beruntung, ia memiliki armada sendiri untuk mobilitas operasional kateringnya.
"Suka dukanya ya capek, itu sudah pasti. Tapi karena kegiatannya banyak, puasanya jadi tidak terasa. Tahu-tahu sudah buka, tahu-tahu sudah tarawih," kata Rohana.
Sudah 36 tahun merantau, Rohana kini telah menganggap Makkah sebagai rumah utama. Suaminya adalah warga lokal, dan kedua anaknya lahir di Arab Saudi kini duduk di bangku SMA.
Dirinya hanya pulang ke Indonesia dua kali dalam tiga dekade terakhir. Rasa rindu pada keluarga di Sumbawa biasanya ia obati melalui kecanggihan teknologi.
"Sekarang gampang, kalau kangen tinggal video call. Rasanya sudah seperti dekat saja," tuturnya.
Meski anak-anaknya cenderung menyukai kuliner lokal Arab, Rohana tetap menjaga identitasnya melalui usaha katering yang ia kelola. Di musim haji, ia bahkan mempekerjakan hingga 50 orang untuk memenuhi permintaan jamaah.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Dracin Romantis yang Cocok Ditonton di Momen Valentine
Bagi Rohana, Ramadan di Makkah bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan pengabdian melalui pelayanan.
Melalui setiap nasi box yang ia antar ke hotel-hotel di sekitar Masjidilharam, ia menyisipkan doa dan semangat bagi para tamu Allah yang sedang menjalankan ibadah.
Editor : Redaksi Lombok Post