Menyingkap Makna Ritual Nyemulak di Desa Wisata Sade Lombok Tengah

Lestari Dewi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 10:22 WIB
Tokoh adat mendoakan agar proses pembangunan rumah adat usai menjalani ritual Nyemulak berjalan lancar dan mendapat keberkahan Allah SWT pascamusibah kebakaran di Desa Wisata Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah.
Tokoh adat mendoakan agar proses pembangunan rumah adat usai menjalani ritual Nyemulak berjalan lancar dan mendapat keberkahan Allah SWT pascamusibah kebakaran di Desa Wisata Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah.

 

Ritual Nyemulak merupakan tradisi sakral turun-temurun warga Dusun Sade yang wajib digelar sebelum memulai pembangunan rumah adat untuk memohon keberkahan dan keselamatan. Diwarnai deretan perlengkapan kaya filosofi, ritual ini menjadi momentum warga untuk menyucikan niat sekaligus merekatkan kebersamaan sebelum bergotong royong mendirikan kembali hunian mereka.

----

MENTARI terbit menyiram Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, dengan sinar yang hangat. Langit cerah seolah memberi pasokan semangat baru bagi warga yang tengah bersiap memulainya kembali. 

Di antara puing sisa kebakaran hebat yang sempat melahap permukiman mereka, derap langkah para tokoh adat dan warga tampak begitu sibuk. Tidak ada ratapan, yang ada hanyalah tekad untuk bangkit.

Baca Juga: Jelang MotoGP 2026, Sirkuit Mandalika Bersolek

Sebelum ayunan palu dan kayu dipasang, warga berkumpul menggelar ritual Nyemulak, sebuah tradisi sakral turun-temurun sebelum mendirikan bangunan adat. Ritual perdana dipusatkan di Bale Toak, bangunan tertua yang menjadi muara sejarah Dusun Sade.

Suasana khusyuk menyelimuti saat peletakan batu pertama dimulai, Rabu (3/9). Tokoh adat dengan penuh kehati-hatian meletakkan lelepak—sirih dan pinang—sebagai alas fondasi rumah. Tak lama berselang, seekor ayam kampung disembelih, dan darahnya disiramkan ke salah satu tiang penyangga utama di area Bale Beleq yang sebelumnya hangus terbakar.

Rangkaian ritual ini kaya akan filosofi peninggalan leluhur. Sembilan ikat daun sirih dan pinang yang dipasang melambangkan pusaka dari ibu sebagai simbol perbaikan niat dalam hati agar tidak gegabah.

Baca Juga: Utang RSUD Praya Rp 23 Miliar, Pelunasan Tunggu Audit 

“Sembilan gulungan tembakau berbalut kulit jagung menjadi simbol pusaka ayah, sedangkan penyembelihan ayam adalah wujud ketaatan pada ajaran leluhur,” papar Amaq Cindaki tokoh adat setempat pada Lombok Post.

Kehadiran uang bolong—mulai dari 25, 125, hingga 250 koin—menjadi simbol ketauhidan untuk mengingat 25 nabi dan rasul. Bahan pokok seperti beras, bumbu dapur, gula merah, ketan, dan air kendi disiapkan sebagai lambang bekal serta warna-warni manis pahitnya kehidupan.

Usai prosesi penyembelihan, doa-doa keselamatan dipanjatkan agar pembangunan mendapat keberkahan. Tokoh adat bersama warga kemudian menikmati sajian mengunyah daun sirih dan pinang, diselingi hidangan ketan parut kelapa dengan gula merah. 

“Daging ayam yang disembelih pun dimasak untuk disantap bersama seluruh warga, sebelum nantinya bergotong royong membangun rumah adat,” terangnya.

Baca Juga: Pemda KLU Ambil Langkah Darurat, Droping Air ke Gili Trawangan

Terpisah, Koordinator Pengelola Desa Wisata Sade Talif mengungkapkan, penentuan hari dimulainya pembangunan ini didasarkan pada penanggalan adat Sasak. Tepatnya tanggal 21 bulan Maulid nabi SAW. Langkah cepat ini diambil agar 75 unit rumah adat untuk 75 Kepala Keluarga (KK) dapat rampung sebelum musim penghujan tiba.

“Waktunya pun dilakukan pagi hari, baiknya jam 07.00 hingga 10.00 Wita, lewat dari itu maka harus menunggu tahun depan,” ucapnya.

Meski dibangun kembali, Talif menegaskan bahwa seluruh struktur, desain, dan pantangan adat—seperti larangan penggunaan listrik modern dan kompor gas di area inti—akan tetap dipertahankan secara ketat demi menjaga kesucian warisan leluhur.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Nyemulak rumah adat tradisi Pembangunan Desa Wisata Sade