Jihan Masih Menunggunya di Jembatan ACC

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Selasa, 3 November 2026 | 14:09 WIB
Ani (Ibu Gibran), Jihan (adik Gibran), dan Nyayu Ernawati, seusai tahlilan, Jumat (30/10).
Ani (Ibu Gibran), Jihan (adik Gibran), dan Nyayu Ernawati, seusai tahlilan, Jumat (30/10).

 

 

NAMUN, sore itu berbeda. Gibran tak lagi datang menjemputnya. 

Kakak yang selama ini selalu menemani dan melindunginya telah meninggal dunia. Setelah menjadi korban pembacokan kelompok pengendara motor di Jalan Udayana, Kota Mataram.

“Jihan yang menunggu kakaknya ini diceritakan pamannya,” ungkap Nyayu Ernawati dengan mata berkaca-kaca, Jumat (30/10).

Kisah Jihan menjadi salah satu kenangan paling membekas di hatinya. Anggota DPRD Kota Mataram dari daerah pemilihan Ampenan itu mengenal Gibran dan adik-adiknya melalui Rumah Aspirasi yang selama ini dibukanya.

“Lokasi yang memang saya sediakan sebagai tempat mengaji bagi anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu,” ungkapnya, sambil menghela nafas panjang. 

Di tempat itulah Gibran tumbuh dalam ingatan Nyayu sebagai anak yang baik. Bukan hanya karena sikapnya, melainkan juga kedekatannya dengan Jihan yang hampir tidak pernah bisa dipisahkan.

“Dia itu (Jihan, Red) kalau mengaji tidak mau pisah sama kakaknya. Padahal anak perempuan dan laki-laki biasanya kami pisahkan tempat duduknya. Kalau yang perempuan di sebelah kiri, laki-laki di sebelah kanan. Tapi khusus Jihan, dia tidak mau. Maunya dipangku atau dekat sama kakaknya,” kenang Nyayu.

Rumah Aspirasi Nyayu memang menjadi tempat berkumpul puluhan anak dari berbagai lingkungan di Ampenan. Jumlahnya sekitar 50 anak. 

 

Baca Juga: Korban Kriminal Udayana Tak Tercover BPJS Dewan Nyayu Dorong Penggalangan Bantuan dan Penambahan CCT

Mereka datang untuk belajar mengaji, mendapatkan pendampingan, sekaligus merasakan suasana kebersamaan. Kegiatan berlangsung setiap Senin hingga Jumat. 

Anak-anak biasanya datang sebelum salat Asar. Setelah mengaji, mereka melaksanakan salat berjamaah dan baru pulang setelahnya.

Kedekatan itu kini menjadi kenangan yang menyisakan kesedihan. Dalam percakapan dengan keluarga korban, Nyayu mendapat cerita bahwa setelah Gibran meninggal, Jihan masih menunggu kakaknya di sekitar jembatan untuk berangkat mengaji ke Rumah Aspirasi.

“Ya Allah, sedih sekali,” lirihnya.

Bagi Nyayu, Gibran bukan sekadar salah satu dari puluhan anak yang datang mengaji. Ada kedekatan emosional yang terbangun melalui pertemuan sehari-hari. 

Ia mengenal anak itu sebagai sosok yang tidak pernah membuat masalah. “Kalau saya secara pribadi mengenal dia, anak ini tidak pernah aneh-aneh. Dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah,” katanya.

Kedekatan Nyayu dengan keluarga Gibran tidak berhenti pada kegiatan mengaji. Ia juga mengenal kondisi keluarga yang tinggal di kawasan permukiman padat di pinggir kali, tepatnya di sekitar Jembatan ACC, dekat Pasar ACC, Ampenan.

Rumah keluarga tersebut berada di deretan bangunan sederhana di bantaran sungai. Bangunan yang jauh dari gambaran rumah layak huni itu menjadi tempat ibu Gibran membesarkan anak-anaknya setelah kehilangan suami.

Kondisi tersebut membuat Nyayu merasa prihatin. Terlebih, keluarga itu harus menjalani kehidupan dengan keterbatasan ekonomi yang cukup berat.

 

Baca Juga: Nyayu Ernawati: Usut Dugaan Aborsi Hingga Nakes Digaji Murah!

Menurut cerita yang diterimanya dari warga sekitar, kebutuhan sehari-hari anak-anak tersebut terkadang dipenuhi dengan bantuan tetangga. Bahkan, persoalan air bersih menjadi salah satu kesulitan yang mereka hadapi.

Nyayu menyebut seorang tetangga bernama Mak Ipit cukup dekat dengan keluarga tersebut. Anak-anak Gibran kerap makan di sana. Hubungan mereka bahkan sudah seperti keluarga sendiri.

“Kadang-kadang malam, Mak Ipit dengar suara keran air dibuka. Ternyata anak itu minum. Di rumahnya memang tidak ada air,” ungkapnya.

Kehidupan di Kampung Melayu, menurut Nyayu, masih memiliki ikatan sosial yang kuat. Warga saling membantu tanpa harus memiliki hubungan darah. 

Ketika ada keluarga yang kesulitan makanan, tetangga akan ikut memperhatikan. Rumah Aspirasi yang dibukanya juga menjadi bagian dari lingkungan sosial tersebut. 

Anak-anak bebas datang untuk mengaji, minum, atau sekadar mencari makanan sederhana. “Anak-anak itu kalau mau minum, mau makan, rumah terbuka saja. Kadang saya sediakan mi atau apa di belakang. Kalau mau nasi kuning, tinggal ambil di sebelah, nanti saya yang bayar. Begitulah gotong royong kita di kampung,” tuturnya.

Nyayu mengaku tidak selalu bisa berada di rumah karena memiliki sejumlah kegiatan di luar. Ia juga harus pulang setelah Magrib untuk merawat ibunya yang sedang sakit. 

Kepedulian Nyayu terhadap keluarga Gibran semakin besar ketika mengetahui kondisi korban setelah peristiwa pembacokan. Gibran mengalami luka berat di bagian kepala. Kondisinya sempat membutuhkan penanganan intensif di rumah sakit. 

Bahkan, sempat muncul rencana tindakan operasi dengan kebutuhan biaya yang tidak sedikit. Nyayu mengaku ikut memikirkan bagaimana keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas itu dapat memenuhi kebutuhan pengobatan.

 

Baca Juga: Nyayu Ernawati Desak Kominfo Matikan Nomor HP Pelaku Grooming

Ia bahkan menyebut sempat menawarkan diri untuk menjaminkan dirinya agar Gibran tetap mendapatkan penanganan medis. “Saya sampai bilang, bagaimana ini? Saya jaminkan diri saya ke rumah sakit. Masa anak ini tidak ditangani?” kenangnya.

Bagi Nyayu, persoalan tersebut bukan semata-mata tentang Gibran, melainkan menyangkut tanggung jawab negara terhadap seluruh warga. Termasuk anak-anak dari keluarga miskin.

“Negara harus adil. Mereka ini rakyat Republik Indonesia. Mereka membayar pajak, membayar listrik, semuanya. Seharusnya mereka juga mendapatkan haknya dari negara,” tegasnya.

Ia menilai, keluarga seperti Gibran lebih membutuhkan jaminan pendidikan dan layanan kesehatan. Mudah diakses dibandingkan berbagai program bantuan yang belum tentu menjawab kebutuhan paling mendasar mereka.

“Anak-anak seperti ini mau mendapatkan uang dari mana? Ibunya tidak bekerja. Untuk makan saja terkadang susah. Yang mereka butuhkan itu pendidikan gratis dan rumah sakit gratis,” ujarnya.

Di balik kesedihan atas meninggalnya Gibran, Nyayu mengaku menyimpan kemarahan terhadap para pelaku penyerangan. Ia mengikuti perkembangan penanganan kasus tersebut dan mengetahui adanya sejumlah anak di bawah umur yang turut terlibat. 

Namun, sebagai orang yang selama ini juga memperhatikan perlindungan anak, ia berusaha menahan diri agar tidak bertindak di luar jalur hukum. Nyayu mengaku sangat geram. Bahkan, ia merasa ingin meluapkan kemarahannya secara langsung kepada para pelaku.

Namun, ia menyadari bahwa persoalan tersebut harus diserahkan kepada aparat penegak hukum. “Kalau yang mengikuti kasus ini saja geram, saya juga geram. Saya perempuan, tetapi kalau mau, bisa saja saya meluapkan kemarahan. Namun, saya harus berpikir panjang. Saya juga punya tanggung jawab dalam perlindungan anak. Jadi, serahkan saja kepada aparat,” katanya.

Ia juga menyayangkan bagaimana anak-anak bisa terlibat dalam tindakan kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang. Menurutnya, sebagian dari mereka mungkin belum memahami sepenuhnya konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.

 

Baca Juga: Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 KLU Mulai Aktif, Tampung 595 Siswa

Kini, setelah Gibran meninggal, keluarga yang ditinggalkan harus menjalani kehidupan dengan kehilangan yang tidak mudah digantikan. Bagi Nyayu, peristiwa tersebut seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan perhatian terhadap anak-anak, terutama mereka yang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi dan pengawasan yang minim.

“Anak ini sangat baik. Mudah-mudahan dengan kejadian ini, perhatian terhadap anak-anak semakin besar,” pungkasnya.

 

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
Kasus pembacokan Gibran Mataram Kisah Jihan dan Gibran Nyayu Ernawati