Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sempat Menolak Imbauan MUI, Warga Bengkel Akhirnya Melunak

Redaksi LombokPost • Senin, 4 Mei 2020 | 13:41 WIB
BUTUH SOSIALISASI INTENS: Sejumlah warga Desa Bengkel menggelar salat Jumat (1/5), pekan lalu.
BUTUH SOSIALISASI INTENS: Sejumlah warga Desa Bengkel menggelar salat Jumat (1/5), pekan lalu.

GIRI MENANG-Ratusan warga Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi yang sempat memprotes imbauan MUI Lobar bersama pemerintah kecamatan akhirnya melunak. Kaitannya dengan imbauan peniadaan sementara salat Jumat di Masjid dan menggantinya dengan salat Duhur di rumah.


"Alhamdulillah warga sudah mulai paham setelah mendapat sosialisasi dari Kapolres, Dandim dan pemerintah kecamatan usai salat Jumat lalu," jelas Kepala Desa Bengkel H Idrus kepada Lombok Post, Minggu (3/5).


Memang hingga pekan lalu, warga masih melaksanakan salat Jumat. Mereka menolak untuk diminta meniadakan salat Jumat sementara dan menggantinya di rumah. Alasan warga menolak imbauan, kata Idrus, karena mereka masih belum memahami dengan baik tujuan imbauan ini untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.


Terlebih, masjid lokasi salat Jumat berada di pinggir jalan raya arah Mataram ke Lombok Barat. Sehingga pihak MUI dan Pemerintah Kecamatan langsung yang turun tangan. "Tapi namamya masyarakat. Ada yang tidak percaya," sesalnya.


Namun setelah Kapolres, Dandim Lobar MUI dan semua tokoh agama Jumat pekan lalu kembali sosialisasi, masyarakat perlahan mulai menerima. "Kami juga bersama kepala dusun terus berupaya memberikan warga pemahaman. Insya Allah mereka terima. Kalau untuk salat tarawih memang sudah tidak ada di masjid. Warga menggelarnya di rumahnya masing-masing," ucapnya.


Pemerintah daerah meminta warga Bengkel meniadakan salat Jumat sementara menyusul ditemukannya kasus positif Korona di desa ini. Salah seorang warga inisial N dinyatakan positif transmisi lokal. Lantaran ia tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar daerah terjangkit.


Namun N dinyatakan sembuh dalam waktu singkat. Tak lebih dari dua pekan. Ini yang memunculkan spekulasi atau anggapan di masyarakat Desa Bengkel, kasus positif N membuat mereka ragu. Terlebih, hasil rapid tes terhadap warga yang pernah kontak dengan N juga negatif semua. Jadi masyarakat sulit diberikan pemahaman kalau N secara medis memang sudah dinyatakan positif. "Mungkin karena daya tahan tubuhnya bagus, makanya cepat sembuh," jelasnya.


Anggota DPRD Lobar asal Bengkel Ahmad Suparman mengklarifikasi video yang beredar. Karena muncul anggapan jika warga mengusir pihak MUI dan Pemerintah Kecamatan. "Warga tidak pernah mengusir. Warga datang waktu MUI dan camat pergi," jelasnya.


Untuk tokoh agama dan tokoh masyarakat, sebagian besar setuju salat Jumat diganti dengan salat Duhur di rumah. Menurutnya hanya masyarakat yang awam saja yang protes. Sehingga ia menilai perlu strategi sosialisasi bagaimana dampak atau akibat Covid-19 ke warga agar mereka paham. "Jadi memang kita harus lebih serius lagi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat," pintanya.


Pekan lalu, ia mengakui di desa memang tetap dilaksanakan salat Jumat. Namun setelah salat Jumat, Dandim dan Kapolres langsung memberikan pemahaman, pengarahan dan berdiskusi dengan masyarakat. "Untuk Jumat depan masyarakat sudah menerima untuk tidak salat Jumat di Masjid," tandasnya. (ton/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Warga Bengkel #Maklumat MUI #Salat Jumat