”Dampak covid sangat terasa untuk perekonomian. Tapi, UKM olahan ini masih bertahan,” kata Kades Lembar Selatan H Benny Basuki.
Di Lembar Selatan, pengolahan rajungan dan kepiting berada di Dusun Puyahan. Masih dilakukan secara manual. Seperti yang dituturkan Husniadi, salah satu warga yang mengolah rajungan dan kepiting.
Katanya, olahan dari rajungan dan kepiting dibuat mnenjadi kerupuk. Brandnya itu Kerupuk Rajungan. Meski dalam pembuatannya bercampur antara rajungan dan sedikit daging kepiting.
”Kan ada olahan kepiting juga. Ada sisa-sisa dagingnya yang tidak diambil, itu kita olah kembali jadi kerupuk,” kata Husniadi.
Bahan baku kerupuk diambil dari nelayan yang juga merupakan warga Lembar Selatan. Kemudian, dari industri rumahan ini, bahan-bahan tersebut diolah untuk menjadi produk.
Husniadi mengatakan, seluruh proses produksi dilakukan sendiri. Mulai dari membeli bahan baku hingga proses pengolahannya. Pekerjanya juga berasal dari internal keluarga. ”Karena sekarang pandemi pekerja memang berkurang. Yang masih aktif juga pengolahan kerupuk rajungannya,” tuturnya.
Kerupuk rajungan masih sangat jarang diproduksi industri rumahan dan UKM di wilayah Lobar. Tentu ini bisa menjadi potensi yang bagus. Terutama terkait pemasarannya.
Sejauh ini, penjualan kerupuk rajungan masih seputar wilayah Lobar saja. Terutama yang berada di Kecamatan Lembar. Dititipkan ke sejumlah kios dan rumah makan. Meski begitu, kata Husniadi, bukan berarti tidak ada pemesanan dari luar daerah.
Industri rumahan yang dikelola Husniadi kerap juga mengirim kerupuk rajungan ke luar daerah. Pemesanan datang dari Surabaya, Bali, hingga Jakarta. Sejumlah relasi mereka yang bekerja dan tinggal di luar negeri, seperti Australia maupun Malaysia, kerap juga memesan kerupuk rajungan.
Hanya saja, untuk pemesanan luar daerah maupun luar negeri, tidak selalu rutin. ”Soalnya mereka untuk konsumsi sendiri. Bukan untuk dijual kembali,” jelas Husniadi.
Peminat kerupuk rajungan dari luar Lobar menyimpan potensi. Pemasaran produksi olahan mereka bisa lebih luas lagi. ”Harganya juga kan tidak terlalu mahal ini. Untuk per bungkusnya cuma Rp 5.000,” katanya.
Meski belum bisa menjangkau pasar luar Lobar, Husniadi cukup merasa bersyukur. Di tengah kondisi pandemi sekarang, usahanya masih tetap bisa berjalan. Bisa bermanfaat untuk keluarga dan warga sekitar.
”Memang masih tergolong usaha kecil-kecilan, tapi ada penghasilan tambahan untuk warga lain,” jelas Husniadi.
Sementara itu, Kapolsek Lembar Ipda Boy Ari Purnomo mengatakan, usaha kerupuk rajungan bagian dari produk kreatif. Yang dilakukan warga Desa Lembar Selatan dalam bidang ekonomi. ”Selama proses produksi, penerapan protokol kesehatan juga tetap dilakukan,” kata Boy Ari.
Terkait dengan Lomba Kampung Sehat, Polsek Lembar bersama tim sempat meninjau secara langsung proses olahannya. Meski dilakukan secara manual, Kapolsek memastikan bahan bakunya bebas dari pengawet dan kimia.
”Tanpa bahan kimia. Potensinya menjanjikan, apalagi di Dusun Puyahan ini merupakan penghasil kepiting maupun rajungan,” tandas Boy Ari. (dit/r6)
Editor : Administrator