LombokPost-Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tripat Gerung dikeluhkan terkait penyediaan darah kepada pasien. Pihak rumah sakit diminta tidak mempersulit warga yang membutuhkan darah. Menyusul adanya pasien yang mengaku diminta menyiapkan pendonor sebelum mendapatkan pelayanan.
”Kebetulan ada keluarga yang membutuhkan 10 kantong darah. Kami diminta cari pendonor oleh pihak rumah sakit, tetapi karena belum ada pendonor akhirnya keluarga minta bantuan ke PMI Lobar,” ujar MA, salah seorang warga kepada Lombok Post.
Namun syarat untuk mendapatkan bantuan darah dari PMI adalah surat pengantar atau blanko dari RSUD Tripat. Surat pengantar inilah yang menurut keluarga pasien kemudian tidak dikeluarkan pihak rumah sakit. Sehingga mereka kebingungan. ”Bahkan sampai mendesaknya, kami keluarga pasien sampai mau beli darah. Mohon hal seperti ini jadi atensi,” ungkapnya.
Pihak keluarga pasien hanya berharap mereka diberikan solusi. Jangan sampai dalam kondisi darurat atau mendesak justru dipersulit. ”Kalau memang ada stok di UTDRS rumah sakit tolong dilayani saja dulu pasien. Kami akan berusaha cari pendonor untuk menggantikannya,” ucapnya.
Jika memang tidak ada, dia juga berharap pihak rumah sakit segera mengeluarkan surat pengantar ke PMI Lobar. Agar keluarga pasien bisa mencari stok darah yang dibutuhkan.
Menanggapi keluhan warga tersebut, sejumlah pejabat RSUD Tripat memberikan penjelasan. Wadir Pelayanan RSUD Tripat dr. Kaspan menjelaskan jika sebisa mungkin pihak UTDRS rumah sakit akan memberikan permintaan darah yang dibutuhkan pasien. ”Selama stok darah di rumah sakit tersedia, kami tidak mungkin memberikan blanko untuk pasien minta darah ke PMI,” jelasnya.
Kalau memang ada imbauan untuk keluarga pasien mencari pendonor, itu dijelaskan sifatnya tidak wajib. Pendonor dibutuhkan untuk tetap menjaga ketersediaan stok darah yang ada di UTDRS.
”Penggantian darah itu tidak wajib. Apalagi kemudian ada istilah beli darah, itu kami luruskan tidak pernah ada itu jual beli darah,” timpal Dirut RSUD Tripat dr. Suriyadi.
Suriyadi menambahkan pihaknya tidak pernah ada upaya pihak rumah sakit mempersulit pasien dan keluarganya mendapatkan darah. Selama UTDRS memiliki stok darah, mereka pasti akan memberikan kepada pasien. Kalau memang sudah tidak ada, baru akan diberikan blanko untuk dikirim ke PMI atau UTDRS lain yang memiliki stok darah sesuai golongan yang dibutuhkan.
”Kami juga sudah kerja sama dan kolaborasi dengan PMI. Jadi tidak ada kompetisi,” tegasnya.
Bahkan, beberapa kali UTDRS RSUD Tripat mengirim stok darah ke RSUD Awet Muda Narmada. Seperti belum lama ini 50 kantong dikirim ke sana. Namun itu bukan jual beli darah. Karena penyediaan darah untuk pasien ini sudah masuk klaim BPJS Kesehatan.
”Sekali lagi kami ingin luruskan, tidak ada upaya mempersulit masyarakat mendapatkan darah. Tidak pernah ada juga jual beli darah. Imbauan untuk mencari pendonor itu juga tidak wajib,” tandasnya.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Lobar Muhammad Munip mengingatkan pihak rumah sakit jangan sampai membuat pasien merasa kesulitan mendapatkan darah hanya karena prosedur pendonor yang belum dipenuhi.
Dia menyebut jika stok darah sebenarnya sudah tersedia di setiap rumah sakit atau PMI. Namun sistem yang mensyaratkan atau mengimbau adanya pendonor membuat proses menjadi terhambat, terutama di saat-saat darurat.
”Stok darah itu sebenarnya sudah ada. Cuma keluarga diminta cari pendonor agar stok tidak kosong. Padahal darah yang didonorkan juga yang langsung digunakan untuk pasien,” paparnya.
Namun dalam kondisi kritis dan butuh darah segera, rumah sakit diingatkannya harus tetap memberikan pelayanan tanpa menunggu pendonor datang. Pihak rumah sakit juga diharapkan bisa bekerja sama dengan PMI untuk mengakses stok darah yang tersedia.
”Jika pendonor belum tersedia saat itu juga, maka dapat dibuat kesepakatan atau perjanjian kapan pendonor bisa menyusul. Ini soal nyawa, tidak boleh ada stigma bahwa mendapatkan darah itu sulit dan pelayanan harus diutamakan dalam kondisi darurat,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam