Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dr Lalu Anton Hariawan, Putra Lombok Barat yang Sukses Menjadi Pengacara Kondang karena Tak Ingin Melihat Orang di Sekitarnya Terzalimi

Hamdani Wathoni • Rabu, 24 September 2025 | 07:23 WIB
Dr. Lalu Anton Hariawan
Dr. Lalu Anton Hariawan

LombokPost-Dr Lalu Anton Hariawan kini kian berkibar di jagat hukum NTB. Pria kelahiran Gerung, Lombok Barat, September 1986 ini tak hanya dikenal sebagai pengacara muda yang cerdas, tapi juga berani bersuara lantang membela mereka yang tak mampu memperjuangkan haknya.

Popularitasnya semakin melesat setelah ia secara sukarela menjadi kuasa hukum keluarga almarhum Brigadir Esco Faska Rely. Anton mendesak aparat kepolisian mengungkap tuntas kasus dugaan pembunuhan Esco, yang menyeret sang istri, Brigadir Rizka Sintiani, sebagai tersangka.

”Saya siap membantu tanpa bayaran. Karena banyak orang terzolimi bukan karena salah, tapi karena tidak memahami hukum,” kata Anton kepada Lombok Post.

Perjalanan Anton di dunia hukum bermula dari pengalaman pribadi melihat orang-orang di sekitarnya diperlakukan tidak adil. Banyak di antaranya kalah dalam perkara perdata hanya karena tidak mengerti tata beracara di pengadilan.

”Saat itu saya berpikir, harus ada orang yang paham hukum untuk membantu. Dari situlah tekad saya bulat masuk ke fakultas hukum,” kenangnya.

Langkahnya tak main-main. Gelar sarjana hukum ia raih dari Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) Mataram. Lalu ia melanjutkan pendidikan S2 hingga S3 di Universitas Mataram (Unram).

”Sejak mahasiswa, saya sudah terjun ke persidangan menggunakan kuasa insidentil. Dari sana semakin yakin jalan saya adalah menjadi pengacara,” tuturnya.

Kini, sebagai advokat, Anton banyak menangani perkara di NTB, Bali, hingga Jakarta dan Jawa Barat. Namun, satu hal yang membuatnya berbeda, ia tidak segan membantu masyarakat kecil yang tak punya biaya.

”Kalau ada masyarakat membutuhkan bantuan hukum tapi tidak punya uang, kami bantu secara sukarela. Itu prinsip saya,” ujarnya.

Bahkan, bersama tim kecil yang terdiri dari delapan orang, Anton pernah membela 20 warga yang digugat terkait rumah ibadah.

”Kami turun tangan, karena kalau tidak, mereka pasti kalah. Saya percaya, pengacara bukan hanya soal honorarium, tapi soal tanggung jawab moral,” tambah bapak dua anak ini.

Anton juga sering bersuara lantang soal praktik mafia hukum yang kerap menjerat orang-orang awam.

Menurutnya, banyak pihak kalah bukan karena salah, tetapi karena tidak memahami aturan main. Orang yang tidak paham hukum, tidak mengerti tata beracara.

”Inilah celah yang dimanfaatkan mafia hukum. Di situlah kami hadir,” tegasnya.

Ketekunan dan keberaniannya membuat Anton kini disejajarkan dengan pengacara-pengacara kondang di NTB, bahkan mulai diperhitungkan di tingkat nasional.

Meski begitu, ia tetap rendah hati. Baginya, menjadi pengacara adalah jalan pengabdian. ”Saya ingin terus membantu orang-orang yang membutuhkan. Itu yang membuat saya merasa bahagia,” katanya.

Anton menempuh pendidikan dasar di Gerung dan SMP di Sekotong, lalu melanjutkan SMA di Bali. Latar belakang sederhana membuatnya terbiasa berjuang sejak dini. Kini, dengan gelar doktor hukum di genggamannya, Anton ingin membuktikan bahwa ilmu hukum harus digunakan untuk melindungi mereka yang terpinggirkan.

”Menjadi pengacara itu bukan sekadar profesi, tapi jalan hidup. Saya ingin keberadaan saya bermanfaat, khususnya bagi mereka yang selama ini terzalimi,” pungkasnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
#Lombok Barat #hukum #advokat #pengacara #dedikasi