LombokPost - Garam Sekotong menjadi salah satu komoditi unggulan di Lombok Barat. Namun tahun ini, produksi garam oleh para petani tidak berlangsung mulus. Banyak tantangan yang dihadapi.
Langit biru yang seharusnya menjadi tanda berkah bagi petani garam di Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, kini justru menyimpan keraguan. Musim kemarau yang dinanti-nanti untuk menghasilkan kristal-kristal putih berkualitas, tahun ini diprediksi datang dengan wajah yang lain yakni kemarau basah.
Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ini menjadi hantu baru yang menghantui Mahyudin dan rekan-rekan petani garamnya, membuat mereka ragu untuk memulai produksi. ”Kami dapat informasi perkiraan BMKG tahun ini adalah kemarau basah. Ini membuat kami ragu-ragu buat garam,” keluh Mahyudin, seorang petani garam setempat, kepada Lombok Post.
Kekhawatiran Ketua Kelompok Petani Garam Cendi Manik ini bukan tanpa alasan. Proses pembuatan garam adalah pertaruhan panjang melawan waktu dan cuaca. Untuk menghasilkan air tua saja, cairan dengan konsentrasi garam tinggi, mereka butuh waktu hingga satu bulan.
Setelah itu, air tua baru bisa dipindahkan ke meja garam untuk proses kristalisasi. Jika di tengah proses yang memakan waktu berbulan-bulan itu hujan tiba, semua usaha bisa sirna. Buktinya sudah ada di sudah mereka alami. ”Lima petak yang sudah mereka siapkan kini rusak akibat cuaca tak menentu,” ucap Mahyudin menunjuk ke salah satu petak lahan pembuatan garam.
Di tengah dilema cuaca, kendala klasik yang tak kalah pelik muncul ke permukaan yakni modal. Untuk mengantisipasi kegagalan panen akibat hujan, para petani di Sekotong telah beralih menggunakan terpal pada petak-petak garam mereka. Inovasi ini memang memberikan hasil yang signifikan.
Dengan terpal, proses panen menjadi lebih efisien. Setelah air garam mengering, mereka tinggal menambahkan air tua (brine) secara bertahap. Cukup empat kali penambahan air tua, satu ton garam bisa dipanen dari satu petak. Namun, efisiensi ini berbanding lurus dengan biaya awal yang cukup mencekik. Untuk membuat satu petak garam yang dilengkapi terpal, modal yang dibutuhkan bisa mencapai belasan juta rupiah.
Meskipun terpal tersebut dapat digunakan hingga enam tahun, angka sebesar itu sangat memberatkan para petani skala kecil. ”Ada terpal bantuan dari pemerintah, tapi kondisinya tipis,” ujar Samsudin, menyiratkan bahwa bantuan yang ada belum sepenuhnya menopang kebutuhan mereka.
Beruntung, di tengah keterbatasan modal, petani garam Desa Cendi Manik masih memiliki sandaran. Mereka tergabung dalam koperasi yang berperan vital, tidak hanya membantu pendanaan, tetapi juga menampung hasil panen mereka. Setelah panen, stok garam langsung diserahkan ke koperasi.
Garam Sekotong memang bukan garam biasa. Kualitasnya yang sangat bagus membuatnya memiliki pasar khusus. Garam hasil panen kelompok petani ini disalurkan untuk kebutuhan air minum oleh PT Air Minum Giri Menang.
Bahkan, garam premium ini juga diminati untuk konsumsi para Aparatur Sipil Negara (ASN), menunjukkan betapa tingginya mutu kristal putih dari Sekotong ini. Selain terpal dan modal, perjuangan petani garam ini juga masih membutuhkan sentuhan modernisasi. Salah satunya adalah kebutuhan mendesak akan mesin.
”Selain itu butuh mesin untuk menyedot dan mengangkat air,” tambah Mahyudin. Penggunaan mesin ini akan memangkas waktu dan tenaga yang terbuang saat memindahkan air tua, sebuah langkah penting untuk beradaptasi dengan tantangan cuaca yang kian sulit diprediksi.
Mahyudin dan ratusan petani garam lainnya di Cendi Manik kini hanya bisa berharap, prediksi kemarau basah tidak seburuk yang mereka bayangkan.
Di pundak mereka, terletak nasib kristal-kristal putih yang tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga kebanggaan akan kualitas garam lokal Lombok Barat. Tanpa dukungan modal yang kuat dan alat yang memadai, mereka khawatir, kualitas terbaik dari Sekotong itu akan kembali gagal mengkristal. (*)
Editor : Siti Aeny Maryam