Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Deteksi Dini dan Penanganan Anak Kaki Pengkor, LombokCare Gelar Workshop di Puskesmas Sekotong

Hamdani Wathoni • Jumat, 21 November 2025 | 14:34 WIB
BANTU DISABILITAS: Yayasan LombokCare bersama para peserta workhsop foto bersama di Puskesmas Sekotong, Kamis (20/11).
BANTU DISABILITAS: Yayasan LombokCare bersama para peserta workhsop foto bersama di Puskesmas Sekotong, Kamis (20/11).

LombokPost – Upaya meningkatkan deteksi dini dan penanganan kaki pengkor (clubfoot) pada anak terus dilakukan Yayasan LombokCare. Bekerja sama dengan Puskesmas Sekotong, LombokCare menggelar workshop melibatkan tenaga kesehatan di wilayah Sekotong dan Lembar, Kamis (20/11).

"Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memastikan lebih banyak anak dengan kaki pengkor mendapatkan penanganan sedini mungkin," jelas Pembina Yayasan LombokCare Mindie Schreurs.

Dia maparkan, workshop tersebut digelar untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, terutama bidan dan koordinator bidan.

Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan Kepala Puskesmas, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), serta relawan dari Entry Foundation. 

"Tujuan utama kami adalah memastikan deteksi dini bisa dilakukan di tingkat layanan kesehatan pertama. Semakin dini ditemukan, semakin besar peluang anak untuk pulih tanpa operasi besar," ujarnya.

Workshop menyasar empat puskesmas di wilayah Sekotong, yaitu Pelangan, Sekotong, Eat Mayang dan Puskesmas Jembatan Kembar. LombokCare menekankan pentingnya menemukan kasus clubfoot sejak bayi baru lahir, karena pada usia tersebut struktur kaki masih mudah dikoreksi. 

"Tantangan terbesar justru mendeteksi sejak awal. Banyak anak baru dibawa ke LombokCare saat mereka sudah berusia dua hingga empat tahun, dan pada usia ini penanganannya jauh lebih sulit," kata Mindie.

Dalam workshop tersebut, LombokCare memperkenalkan metode Ponseti, metode non-bedah yang telah menjadi standar internasional dalam penanganan clubfoot. Metode ini meliputi tiga fase. Mulai dari pemasangan gips secara bertahap (casting), tindakan tenotomi atau pemotongan tendon secara ringan oleh dokter ortopedi, serta penggunaan brace atau sepatu khusus yang harus dipakai minimal 23 jam per hari setelah tindakan.

Namun, penerapan Ponseti masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah ketersediaan brace yang sesuai ukuran anak. Brace harus diganti hingga enam kali mengikuti tumbuh kembang kaki. 

"Kesulitan mendapatkan brace adalah tantangan nasional. Kami juga menghadapi kendala stigma masyarakat. Ada orang tua yang enggan kondisi anaknya diketahui sehingga menunda penanganan," jelas Mindie. 

Padahal, keterlambatan penanganan dapat berdampak serius terhadap masa depan anak. Ia mencontohkan seorang karyawan yang berjalan menggunakan mata kaki akibat terlambat mendapat perawatan. 

"Ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi soal masa depan anak," tegasnya. LombokCare menegaskan bahwa Ponseti bukan operasi besar, tidak menakutkan, dan tidak meninggalkan bekas luka signifikan. 

Intervensi non-bedah ideal dilakukan sejak bayi, namun masih bisa diterapkan hingga usia enam tahun. Pada kasus di atas usia tersebut, operasi besar biasanya diperlukan.

Sementara itu, Kepala Tata Usaha Puskesmas Sekotong Herman Jayadi menyampaikan, apresiasi atas dipilihnya wilayah mereka sebagai lokasi pelaksanaan workshop. "Kami sangat berterima kasih kepada LombokCare. Ini adalah kesempatan besar untuk membantu anak-anak dengan kondisi clubfoot di wilayah kami," ujarnya. Ia menegaskan komitmen puskesmas untuk bekerja sama dalam menindaklanjuti kasus yang ditemukan.

Puskesmas Sekotong memiliki wilayah jangkauan pasien yang luas, mencakup empat desa dengan jumlah penduduk sekitar 34 ribu jiwa.

Karena itu, Herman menilai kegiatan ini sangat relevan untuk memperkuat kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan deteksi dini.

"Kami siap mendukung penuh agar anak-anak bisa ditangani dengan cepat dan tepat," katanya.

Melalui workshop ini, diharapkan semakin banyak anak di pelosok Sekotong mendapatkan kesempatan untuk tumbuh tanpa hambatan akibat kaki pengkor.

Program ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan sejak dini adalah kunci utama dalam mencegah disabilitas jangka panjang. 

Editor : Kimda Farida
#Lombok Barat #Kaki Pengkor #Clubfoot #Lombokcare #Sekotong