LombokPost — Realisasi retribusi pasar di Kabupaten Lombok Barat hingga November 2025 baru mencapai sekitar 70 persen dari target tahunan sebesar Rp 4,5 miliar.
Artinya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ini baru terkumpul sekitar Rp 3,15 miliar. Kondisi ini membuat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Barat bekerja ekstra agar realisasi bisa terdongkrak menjelang akhir tahun.
"Realisasinya memang masih belum sesuai target. Kita kejar sampai akhir tahun mudahan bisa 80 persen," jelas Kabid Perdagangan Disperindag Lombok Barat Lalu Muhammad Adirin.
Realisasi retribusi pasar ini tentu belum sesuai harapan. Mengingat potensi pasar tradisional di Lobar sebenarnya sangat besar. Di Lobar terdapat 23 pasar yang tersebar di 10 kecamatan. Lima di antaranya masuk kategori pasar besar dengan target pendapatan tertinggi.
Pasar Gerung menjadi penyumbang terbesar dengan target Rp 543 juta, disusul Pasar Narmada Rp 488 juta, Pasar Keru Rp 475 juta, Pasar Kediri Rp 393 juta, dan Pasar Gunung Sari Rp 257 juta.
Sementara itu, 18 pasar lainnya masuk kategori pasar sedang, termasuk Pasar Kuripan, Lembar, Perampuan, Ndut, Kumbung, Pelangan, Kebon Ayu, Sekotong, Ilir, Tempos, Jerneng, Duman, Jalateng, Sidemen, Jembatan Kembar, Eat Mayang, Jagaraga Indah, dan Suranadi.
"Cuma beberapa pasar sedang seperti Eat Mayang, Jagaraga, dan Sidemen, bahkan tidak beroperasi setiap hari. Pasar Sidemen, misalnya, hanya ramai pada musim buah sehingga kontribusi retribusi tidak bisa stabil," paparnya.
Kendala utama yang menyebabkan target sulit tercapai berasal dari kondisi infrastruktur dan minimnya sumber daya manusia (SDM). Banyak los di sejumlah pasar, seperti Pasar Kediri, Gerung, dan pasar lainnya, sudah tidak layak.
Para pedagang pun enggan menggunakan fasilitas pasar modern seperti los tertutup karena lebih nyaman berjualan dengan konsep pasar terbuka. Masalah lain muncul saat musim hujan. Banyak pasar yang tergenang sehingga aktivitas perdagangan menurun drastis. Dampaknya, pendapatan retribusi ikut anjlok.
"Kunjungan pasar menurun saat hujan deras, karena kondisi los kurang baik dan rawan banjir," ungkap Adirin. Tidak hanya itu, kekurangan juru pungut juga menjadi persoalan serius.
Pasar Gerung, yang memiliki target terbesar, hanya memiliki dua sampai tiga juru pungut. Jumlah juru kebersihan pun minim sehingga pasar sering mengandalkan Dinas Kebersihan tanpa ada petugas yang benar-benar menjaga kebersihan harian. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Lobar telah mengajukan permohonan perbaikan kepada pemerintah pusat.
Bupati bersama Kepala Dinas Kominfo telah mengajukan proposal perbaikan untuk 10 pasar. Minimal lima pasar besar ditargetkan mendapat perbaikan terlebih dahulu.
Disperindag memproyeksikan target retribusi tahun 2026 meningkat menjadi Rp 6 miliar. Karena itu, perbaikan infrastruktur dan penambahan SDM dianggap wajib dilakukan agar potensi retribusi dapat dioptimalkan.
"Jika infrastruktur pasar diperbaiki dan SDM ditambah, kami optimistis target tahun depan bisa tercapai," tandas Adirin.
Editor : Pujo Nugroho