LombokPost – Komisi III DPRD Lombok Barat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pengolahan sampah dengan teknologi Manajemen Sampah Zero (Masaro) di wilayah Lingsar, Kamis (8/1).
Sidak ini bertujuan untuk memastikan efektivitas anggaran besar yang telah dikucurkan pemerintah daerah terhadap hasil nyata di lapangan. Dalam sidak ini, beberapa anggota Komisi III yang hadir menekankan dua poin krusial dalam pengawasan tersebut. Mulai dari operasional teknologi Masaro hingga kejelasan output produk yang dihasilkan.
"Berdasarkan info awal, teknologi Masaro diklaim mampu mengolah hingga 20 ton sampah atau setara dengan tiga truk sampah per hari. Kami harus cek ulang, apakah dengan anggaran yang sangat besar ini, daya pengolahannya maksimal jika hanya menangani tiga truk per hari?" ujar anggota Komisi III DPRD Lobar Lalu Irwan.
Dewan dikatakannya ingin memastikan apakah Masaro mampu menangani volume sampah yang ada di Kecamatan Lingsar dan Narmada. Jangan sampai proyek yang menelan anggaran fantastis tidak bisa menyelesaikan sampah di dua kecamatan tersebut.
Selain masalah kapasitas, politisi Gerindra ini juga mempertanyakan keberlanjutan produk turunan dari pengolahan sampah tersebut, yakni pupuk kompos. Ia mengaku belum mendapatkan kepastian mengenai serapan pasar atau distribusi hasil kompos Masaro.
"Jangan sampai seperti program-program sebelumnya, masyarakat sudah diberdayakan tapi tidak berkelanjutan. Kami harap Pemerintah Daerah menjadi pembeli pertama (offtaker) produk ini, misalnya untuk pemupukan taman-taman kota," tegasnya.
Di lokasi, ditemukan kendala teknis berupa masih campurnya sampah organik dan anorganik. Material seperti potongan besi dan bata sering kali ikut masuk ke mesin pengolahan, yang berpotensi merusak alat.
Menanggapi himbauan Pemerintah Provinsi terkait pemilahan sampah dari rumah tangga, Lalu Irwan menilai langkah tersebut tidak cukup hanya dengan surat edaran. Menurutnya, mengubah perilaku masyarakat jauh lebih sulit daripada membangun gedung.
"Mengubah mindset itu tidak bisa hanya dengan selembar kertas himbauan. Harus ditunjang dengan aksi nyata di lapangan seperti sosialisasi yang masif dan berkelanjutan agar alat ini benar-benar bisa bekerja dengan optimal," tegas Irwan.
Sementara Mahdi, pengelola teknis Masaro yang ditemui di lokasi memaparkan jika mesin ini sudah beroperasi sekitar 15 hari. Setiap harinya, sampah yang dibakar dan dipilah menjadi kompos kisaran dua sampai tiga dump truk.
"Hari ini baru dua truk yang datang. Kita lihat nanti sampai sore, jelasnya. Selama uji coba Masaro, belum ada kendala yang terlalu berarti dihadapi. Hanya saja memang masyarakat sebenarnya diharapkan sudah memilah sampah dari rumah. Sehingga proses pengelolaan dan penanganan sampah bisa lebih cepat.
Editor : Jelo Sangaji