LombokPost - Di balik deru mesin dan aroma sampah yang perlahan berubah rupa, Masaro kini mulai beroperasi setiap hari. Sudah lebih dari sebulan fasilitas pengolahan sampah ini beroperasi di Lingsar dan Batulayar.
Masaro mulai terasa hadir mengurai persoalan yang selama ini menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tantangan di sisi hulu memang masih terasa, tetapi di hilir, Masaro mulai menunjukkan hasil nyata. Salah satu produk yang kini mencuri perhatian adalah pupuk kompos.
Bukan sekadar hasil samping, kompos Masaro justru menjadi rayuan baru bagi masyarakat. Tumpukan sampah organiknyang biasa menggunung, siap memberi manfaat bagi tanaman sayur serta buah warga Lombok Barat.
Pemerintah Kabupaten Lombok Barat memilih langkah tak biasa. Alih-alih langsung menjual, kompos Masaro akan dibagikan gratis kepada masyarakat.
Instruksi ini datang langsung dari Bupati. Tujuannya sederhana agar warga merasakan sendiri manfaatnya. "Pak Bupati sudah menyampaikan, kompos itu bagikan dulu ke masyarakat secara gratis. Biar mereka tahu hasilnya," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lobar M Busyairi.
Harapannya, ketika warga melihat tanaman mereka tumbuh lebih subur, kepercayaan terhadap program ini tumbuh dengan sendirinya. Strategi tersebut bukan tanpa hitung-hitungan. Pemerintah ingin membangun kesadaran jangka panjang.
Setelah masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya barulah kompos Masaro akan dipasarkan melalui kerja sama dengan OPD terkait, seperti Dinas Pertanian. Harganya pun dijanjikan lebih murah dari harga pasar sebagai insentif bagi petani lokal.
Namun, pembagian gratis itu belum dimulai. Busyairi meminta warga bersabar. Saat ini, pihaknya masih mengumpulkan stok dalam jumlah besar agar distribusi massal berjalan merata. "Biar nanti tidak ada yang kecewa karena kehabisan," katanya.
Masaro sendiri berdiri di dua lokasi Lingsar dan Senteluk. Lingsar unggul dari sisi akses karena berada di pinggir jalan utama. Sementara Senteluk lebih lapang secara lahan. Meski mesin sudah beroperasi, peresmian Masaro masih menunggu jadwal Bupati.
"Operasional sudah jalan. Launching itu soal seremoni saja," ujarnya. Investasi Rp10 miliar per lokasi menunjukkan keseriusan Pemkab Lobar. Namun, mesin canggih tak akan berarti tanpa peran warga. Pesan itu mengemuka saat Komisi III DPRD Lombok Barat berkunjung. Masaro bukan sekadar insinerator.
Sampah plastik bernilai ekonomi tetap dipilah, didaur ulang. Hanya residu yang benar-benar tak berguna yang dibakar. Target akhirnya jelas mengurangi beban TPA Kebon Kongok yang kian sesak. Residu dari Masaro dikirim dalam volume jauh lebih kecil dan terkontrol.
"Kami butuh kerja sama masyarakat. Pilah sampah dari rumah," pesan Busyairi. Kini, masa depan Masaro bukan hanya urusan mesin. Ia bergantung pada satu kebiasaan sederhana di dapur rumah kita: memilah sampah. Dari situlah sejarah kemandirian sampah Lombok Barat bisa dimulai. (*)
Editor : Jelo Sangaji