Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Romiadi Kurniawan, Pegawai Dispar Lobar yang Sukses Berbisnis Hidroponik

Hamdani Wathoni • Senin, 2 Februari 2026 | 07:48 WIB
PRODUKTIF: Romiadi Kurniawan, pegawai Dispar Lombok Barat mengisi waktu kosong dengan usaha tanaman hidroponik.
PRODUKTIF: Romiadi Kurniawan, pegawai Dispar Lombok Barat mengisi waktu kosong dengan usaha tanaman hidroponik.

LombokPost - Di tengah kesibukannya sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat, Romiadi Kurniawan berhasil membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan penghalang untuk tetap produktif.

Bermula dari halaman rumah yang terbengkalai di wilayah Narmada, kini ia sukses menyulap lahan tidur tersebut menjadi "tambang hijau" melalui instalasi sayur hidroponik yang menjanjikan.

​Langkah Romi dimulai pada tahun 2023. Saat itu, ia baru saja menetap di kediaman barunya di Narmada.

Area di sekitar rumahnya awalnya merupakan kebun buah naga yang sudah tidak terawat dan tidak lagi produktif.

Alih-alih membiarkannya dipenuhi semak belukar, Romi memutar otak untuk mencari komoditas yang cocok dikembangkan di lahan terbatas.

​"Awalnya saya melihat teman-teman komunitas hidroponik di Mataram. Saya perhatikan, latar belakang mereka bukan petani, ada yang dosen dan profesi lain, tapi kok bisa jalan. Dari sana saya tertarik mencoba," ujar Romi mengenang awal perjalanannya.

​Ia tak langsung terjun dengan modal besar. Romi memulai dengan satu meja instalasi bekas milik rekannya.

Tahun 2023 ia gunakan sebagai fase trial and error. Ia banyak belajar secara otodidak melalui YouTube dan berdiskusi intensif dengan komunitas.

Tepat pada Februari 2023, dengan modal yang terkumpul, ia resmi mengoperasikan instalasi skala produktif.

​Kini, kebun hidroponik milik Romi telah berkembang pesat. Dari awalnya hanya ratusan lubang, kini sudah mencapai 1.200 lubang tanam yang terbagi dalam beberapa meja instalasi.

Meski sempat mencoba berbagai jenis sayuran seperti pakcoy, selada, hingga kangkung, Romi akhirnya memilih fokus pada satu komoditas utama yakni selada keriting.

​Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Sebagai pekerja kantoran, ia membutuhkan tanaman yang memiliki manajemen pasar yang stabil.

"Kalau pakcoy itu harganya sering naik turun tajam di pasar. Tapi kalau selada keriting, harganya relatif stabil. Ini lebih aman untuk skala bisnis sampingan," jelasnya.

​Dari 1.200 lubang tanam tersebut, Romi mampu memanen sekitar 180 hingga 200 kilogram selada untuk 40-50 per minggu.

Sehingga panen per bulan sekitar 180-200 kilogram. Dengan serapan pasar yang sudah pasti mulai dari hotel, restoran, pengepul hingga pedagang di pasar Narmada.

Dengan modal awal sekita Rp 30 juta untuk instalasi hidroponik dan green house semi permanen, Romi mampu meraup omzet kotor sekitar Rp 3 sampai Rp 4 juta setiap bulannya.

Dikurangi biaya operasional listrik, pompa dan lainnya, kadang omzetnya mencapai Rp 3 juta.

"Kadang dagang kebab, burger, frozen food pernah juga ke hotel dan restoran. Cuma kendalanya kalau kirim kw hotel dan resto Mataram terkendala biaya kirim. Sehingga fokus ke Namada saa dulu," paparnya.

Pesanan juga meningkat di hari-hari besar keagamaan. Karena Romi menerapkan konsep non-pestisida kimia. Ia lebih memilih menggunakan pestisida nabati dari bahan alami seperti bawang putih atau daun pahit-paitan untuk mengusir hama.

Hal ini membuat kualitas sayurnya lebih sehat dan diminati konsumen, meski risiko serangan ulat dan belalang menjadi lebih tinggi.

​"Kendala terberat memang di cuaca dan hama. Kalau terlalu panas, nutrisi air cepat panas dan akar bisa busuk. Kalau hujan, ulat banyak muncul. Karena tidak pakai kimia, ya harus rajin cek manual setiap pagi sebelum ke kantor atau sore hari setelah pulang kerja," tambahnya.

​Baginya, hidroponik bukan sekadar mencari tambahan penghasilan, tapi juga bentuk penyaluran hobi yang menenangkan di sela rutinitas dinas yang padat.

Ia pun berencana menambah kapasitas produksinya hingga 3.000 lubang tanam di masa depan melihat tingginya permintaan pasar yang belum mampu ia penuhi seluruhnya.

​Romi berharap inisiatifnya bisa memotivasi warga lain, terutama rekan sesama pegawai, untuk memanfaatkan lahan sekecil apa pun di sekitar rumah.

"Jangan biarkan lahan menganggur. Selain untuk ketahanan pangan keluarga, kalau ditekuni, hasilnya sangat lumayan untuk menambah uang dapur," pungkasnya dengan senyum. 

Editor : Akbar Sirinawa
#dinas pariwisata #Lombok Barat #cuan #hidroponik #romi