LombokPost - Nama Bukit Keteri Desa Banyu Urip Lombok Barat belakangan makin terkenal di kalangan para pendakian bukit tek-tok. Hal ini karena bukit ini memang menawarkan pengalaman menantang dan pemandangan yang indah.
Angin sepoi menyambut setiap pengunjung yang menapakkan kaki di kaki Bukit Keteri, Desa Giri Sasak, Kuripan, Lombok Barat.
Di balik tanjakan yang menantang, bukit ini kini menjelma menjadi primadona baru bagi pemburu matahari terbit (sunrise) maupun matahari terbenam (sunset) dan pecinta olahraga hiking.
Meski tergolong baru, Bukit Keteri telah mencatatkan diri sebagai destinasi wisata yang diperhitungkan. Heri Wijaya, salah satu pengelola Bukit Keteri, menceritakan bahwa destinasi ini lahir dari semangat swadaya pemuda setempat.
"Awalnya kami hanya iseng. Teman-teman di sini memang hobi mendaki dan sering tek tok (naik-turun gunung dalam sehari) ke Sembalun. Akhirnya kami pikir, kenapa tidak buka jalur sendiri di sini?" kenang Heri kepada Lombok Post.
Langkah berani itu membuahkan hasil. Sejak resmi dibuka pada 25 Agustus 2025, Bukit Keteri tak pernah sepi. Pada akhir pekan, jumlah pengunjung bisa menembus angka 50 orang per hari.
"Alhamdulillah, kalau weekend bisa sampai 50-an orang yang mendaki, bahkan banyak yang memilih untuk camping di puncak," tambahnya.
Bukit Keteri hadir mengisi kekosongan setelah Bukit Jami Tura yang dulunya masuk dalam daftar Summit Lombok ditutup karena lokasinya yang berdekatan dengan tempat peribadatan.
Kini, di bawah naungan Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKM) Bunga Lestari, Bukit Keteri tampil dengan wajah baru yang lebih tertata.
Daya tariknya bukan hanya pada puncaknya yang eksotis, tetapi juga keramahan kantong wisatawan. Tiket masuk hanya dibanderol Rp10.000 per orang.
Bagi pendaki pemula seperti Sukma dan Wulan yang datang jauh-jauh dari Mataram, bukit ini memberikan pengalaman perdana yang tak terlupakan.
"Ini pendakian pertama kami. Pilih ke sini karena lokasinya dekat dari kota dan memang lagi ramai di media sosial teman-teman. Ternyata pemandangan di atas aesthetic banget, tidak mengecewakan!" ujar Sukma dengan antusias.
Kehadiran wisata Bukit Keteri bukan sekadar tempat berfoto. Ekonomi warga desa mulai berdenyut.
Warung-warung kecil mulai tumbuh di sekitar basecamp hingga pos pendakian. Hal ini menjadi napas baru bagi 22 pemuda lokal yang terlibat langsung dalam pengelolaan.
Editor : Kimda Farida