LombokPost – Penanganan darurat amblasnya ruas jalan di wilayah Taman Baru dan Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, memicu dinamika di tengah masyarakat.
Warga setempat dikabarkan menolak pemasangan ribuan geobag (karung pasir) yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat (Lobar) bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP).
”Itu memang penanganan darurat sementara. Ketahanannya mungkin tidak sampai dua bulan, tapi kajian dari PU sudah ada untuk penanganan permanennya,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Lobar Toni Hidayat.
Dia menjelaskan, penggunaan geobag merupakan standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan darurat bencana. Langkah ini diambil agar akses transportasi tidak terputus total sembari menunggu perbaikan permanen dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN).
Menurut Toni, penolakan warga muncul karena adanya kekhawatiran bahwa pemasangan karung pasir tersebut justru akan membahayakan pengguna jalan. Padahal, secara teknis, pemasangan lebih dari 1.500 geobag tersebut diawasi langsung oleh pihak PU agar kendaraan bisa melintas dengan aman.
Toni menekankan bahwa pihaknya telah mengambil tindakan cepat. Setelah kajian teknis dari Dinas PUPRPKP selesai dalam waktu kurang dari sehari, pihak ketiga langsung ditunjuk untuk mengeksekusi di lapangan. Namun, pada Sabtu pagi, pengerjaan tersebut dihentikan karena penolakan warga.
”Mungkin warga menganggap penanganan darurat ini tidak relevan. Padahal di seluruh Indonesia polanya sama, kedaruratan dulu baru perencanaan permanen. Kami minta kesabaran masyarakat,” imbuhnya. Ia menambahkan, perbaikan jalan di ruas tersebut akan dikaji lebih dalam setelah lebaran.
Koordinasi dengan Balai Besar Jalan pun terus diperkuat. Mengingat, pengaspalan tidak bisa serta merta dilakukan jika dinding jalan tak dikuatkan. Sehingga, inilah yang akan dikoordinasikan dengan balai besar jalan nasional. ”Kami tidak punya kewenangan untuk penulutan (talud). Tahun lalu juga terjadi kerusakan di ruas yang sama, akhirnya bagian luarnya amblas,” jelasnya.
Sementara itu, Kapolsek Sekotong Iptu I Ketut Suriarta mengonfirmasi adanya penolakan dari warga. Berdasarkan informasi di lapangan yang ia terima, warga trauma dengan penanganan serupa di titik jalan yang rusak sebelumnya. Karung pasir yang dipasang pada kejadian terdahulu justru amblas dan dinilai tidak berfungsi maksimal. Kekecewaan inilah yang mendorong warga melakukan penanganan darurat secara swadaya.
”Alasan penolakannya yang kami terima seperti itu. Namun, sejauh ini situasi di masyarakat tetap aman dan kondusif,” papar Suriarta. Pihak kepolisian menyarankan agar komunikasi antara pemerintah daerah dan masyarakat diperjelas melalui pihak kecamatan. Namun Camat Sekotong Andi Purnawan yang dikonfirmasi mengenai detail koordinasi dengan Pemda Lobar belum memberikan respons.
Editor : Redaksi Lombok Post