Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Kazirin, PMI Asal Lombok Berpuasa Diuji Panas dan Beratnya Buah Sawit Malaysia

Hamdani Wathoni • Rabu, 4 Maret 2026 | 22:33 WIB

PEJUANG KELUARGA: Kazirin, warga asal Gerung Lombok Barat saat mengangkat buah sawit ke atas truk pengangkut perkebunan ladang sawit Malaysia.
PEJUANG KELUARGA: Kazirin, warga asal Gerung Lombok Barat saat mengangkat buah sawit ke atas truk pengangkut perkebunan ladang sawit Malaysia.

LombokPost - Menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di perkebunan sawit Malaysia bukan perkara mudah. Apalagi bekerja sambil menjalankan ibadah puasa. Hal itulah yang dirasakan Kazirin, PMI asal Lombok Barat yang bekerja di negeri jiran.

Terik matahari belum benar-benar tinggi ketika Kazirin mengikat niatnya. Pukul 05.00 pagi, ia sudah menuntaskan sahur di rumah sederhananya di Malaysia. Waktu Subuh di sana baru masuk sekitar 06.30. Artinya, tak lama setelah azan berkumandang, lelaki perantau itu bersiap menuju kebun sawit—medan tempur hariannya.

Pukul 08.00, pekerjaan dimulai. Di hamparan perkebunan kelapa sawit yang luas, Kazirin bergulat dengan tandan-tandan buah yang berat. Ia memanen, mengangkat, dan mengeluarkan buah sawit dari sela-sela pelepah. Pekerjaan fisik yang tak kenal kompromi. Sementara itu, matahari Malaysia pelan-pelan naik, memancarkan panas yang menyengat kulit dan menguras cairan tubuh.

“Yang paling terasa itu hausnya,” tuturnya melalui sambungan telepon ke Lombok Post. Bekerja di perkebunan sawit bukan sekadar soal kuat otot. Ini soal daya tahan. Dulu, ketika pohon-pohon sawit masih pendek dengan tinggi sekitar 1,5 meter tantangannya lebih berat lagi. Tak ada tempat berteduh.

Sinar matahari langsung menghantam tubuh sejak pagi hingga siang. Kini, pohon sawit tempat Kazirin bekerja sudah lebih tinggi. Daun-daunnya membentuk naungan alami yang sedikit banyak mengurangi sengatan panas. “Sekarang lumayan lebih teduh,” katanya.

Biasanya, Kazirin baru pulang dari ladang sawit antara pukul 14.00 hingga 15.00. Dalam rentang enam hingga tujuh jam itu, tubuhnya terus bergerak. Mengangkat tandan sawit yang bisa berbobot belasan kilogram. Berjalan di lahan yang tak selalu rata, dan bertahan tanpa setetes air pun menyentuh bibir. Inilah ujian para pekerja di ladang sawit.

"Kadang berat buah sawit ini bisa sampai 40 bahkan 50 kilogram," ungkapnya. Sebagai muslim, ia memahami kewajiban Ramadan. Ia juga paham adanya rukhsah atau keringanan dalam agama bagi mereka yang benar-benar tidak mampu. Lansia atau orang sakit diperbolehkan tidak berpuasa dengan membayar fidyah. Namun, Kazirin merasa dirinya masih muda dan kuat.

Karena itu, ia memilih tetap berusaha. Dalam sebulan, targetnya minimal 15 hari berpuasa penuh. Jika kondisi fisik benar-benar drop. lemas berlebihan atau hampir dehidrasi, ia terkadang memutuskan untuk tidak berpuasa pada hari tertentu. Bukan untuk mencari mudah, melainkan agar tetap bisa bekerja dan menjaga keselamatan diri.

“Kalau memang sudah tidak sanggup, ya diganti (qadha) di lain hari,” ujarnya. Keputusan itu bukan tanpa pergulatan batin. Ia sadar, meninggalkan puasa tanpa alasan syar’i adalah dosa. Di sisi lain, pekerjaan di kebun sawit adalah sumber nafkah. Ada tanggung jawab keluarga yang tak bisa ditunda. Di antara kewajiban ibadah dan tuntutan kerja, Kazirin berdiri di garis tipis.

"Cuaca menjadi faktor paling menentukan. Suhu di perkebunan sawit bisa sangat tinggi, terutama menjelang siang," ujar bapak dari Citra dan Arbani tersebut. Dalam kondisi normal saja, risiko dehidrasi mengintai. Apalagi saat berpuasa. Tubuh kehilangan cairan lewat keringat, sementara asupan baru baru bisa diperoleh saat Magrib tiba. Tanda-tanda dehidrasi seperti pusing, lemas, dan pandangan berkunang-kunang bukan hal asing baginya.

Karena itu, ia belajar mengenali batas tubuhnya sendiri. Baginya, puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga soal menjaga amanah tubuh. Di sela rutinitas berat itu, ada ketulusan yang terasa. Ia tidak mengeluh berlebihan. Tidak pula membandingkan nasibnya dengan orang lain. Baginya, ini adalah pilihan hidup.

Merantau ke Malaysia, bekerja di perkebunan sawit, dan tetap berusaha menjalankan ibadah sebaik mungkin. “Kalau kuat, ya lanjut. Kalau memang tidak kuat, diganti nanti,” ucapnya sederhana. Cerita Kazirin mencerminkan realitas banyak pekerja lapangan di luar negeri. Mereka berhadapan langsung dengan alam yang panas, hujan, lumpur dan tanpa fasilitas mewah.

Ramadan bagi mereka bukan hanya soal suasana religius dan hidangan berbuka, tetapi tentang bertahan di tengah tekanan fisik. Ada pelajaran tentang keseimbangan dalam kisah ini. Islam memberi ruang bagi umatnya untuk menjaga kesehatan.

Namun, juga mendorong tanggung jawab pribadi untuk tidak mudah menyerah. Kazirin mencoba berdiri di tengah-tengahnya ikhtiar maksimal, tetapi tetap realistis. Kini, ketika pohon-pohon sawit itu semakin tinggi dan memberi sedikit keteduhan, perjuangannya belum selesai. Setiap Ramadan datang, ujian itu kembali hadir. Sahur pukul 06.00, bekerja mulai 08.00, pulang sore hari dengan tubuh lelah.

Lalu menunggu azan Magrib dengan tenggorokan kering dan keringat yang belum sepenuhnya mengering. "Panas Malaysia itu beda dengan panas Lombok. Di sini panasnya menyengat berlipat-lipat," akunya.

Namun pria 36 tahun ini memiliki tekad seorang pekerja yang ingin tetap taat, tanpa mengabaikan realitas hidup. Sebuah perjuangan yang mungkin tak banyak terlihat, tetapi nyata terasa di setiap ayunan tangan dan setiap langkah di kebun sawit. (*)

Editor : Marthadi
#sawit #pekerja migran indonesia #Diaspora #Puasa #Malaysia