LombokPost - Jembatan penghubung Pantai Cemara kembali jadi sorotan. Kondisinya yang dianggap membahayakan namun tak kunjung diperbaiki.
Padahal rencana perbaikan sudah diwacanakan bahkan dicek langsung dari era Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid hingga Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.
Riak air di bawah jembatan kawasan Lembar Selatan sore itu tampak tenang. Namun, bagi Muhammad Saleh, ketenangan itu menyimpan kecemasan yang terus berulang selama bertahun-tahun.
Sebagai Kepala Desa Lembar Selatan, Saleh tak hanya memimpin administrasi, tapi juga memikul beban harapan warganya akan sebuah infrastruktur yang layak yakni jembatan permanen.
Baca Juga: Wabup Lombok Barat Serahkan Bantuan Alat Tangkap, Nelayan Cemara Kian Bersemangat Melaut
Diskusi mengenai jembatan ini bukanlah barang baru. Saleh mengingat betul bagaimana deretan pejabat, mulai dari mantan kepala dinas hingga bupati, silih berganti datang melakukan pengecekan.
”Sudah berapa kali itu pejabat semua sudah cek ke sana. Bahkan gubernur juga sudah turun,” beber Saleh.
Kondisi jembatan saat ini memang memprihatinkan. Padahal, jalur tersebut merupakan urat nadi menuju kawasan wisata yang tengah naik daun. Menjelang sore hari atau pagi akhir pekan, mobil keluarga dan wisatawan melintas di sana.
Saleh khawatir, jika perbaikan hanya dilakukan secara tambal sulam, risiko kecelakaan akan selalu mengintai.
”Saya lebih fokus pada perbaikan jembatan ini karena memang membahayakan. Apalagi ini kawasan wisata, banyak orang bawa mobil sama keluarga ke sana,” tuturnya.
Saleh membeberkan bahwa untuk membangun jembatan permanen yang kokoh, dibutuhkan dana setidaknya Rp 25 miliar.
Angka yang fantastis bagi sebuah desa, namun krusial bagi keselamatan publik. Selama ini, pihak desa hanya mampu melakukan perbaikan kecil yang tidak bertahan lama.
”Kalau tambal sulam sering kita lakukan, tapi mana bisa tahan lama,” imbuhnya.
Harapan sempat membubung tinggi ketika Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama pihak Korem turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengukuran lahan.
Kala itu, Saleh mengira realisasi pembangunan sudah di depan mata. Namun, pasca pengukuran, progresnya kembali menguap begitu saja.
Baca Juga: Nikmati Kuliner Bisa Langsung ke Pantai Cemara Lembar, Surga Tersembunyi Pecinta Seafood
Selain jembatan, Saleh juga menyoroti kondisi jalan di wilayah yang kerap dilalui truk bermuatan batu bara. Jalan tersebut mulai mengalami kerusakan dan butuh perhatian serupa.
Baginya, pembangunan infrastruktur di Lembar Selatan harus dilihat secara substansial, bukan sekadar janji politik musiman.
Baginya, viralnya kondisi jembatan adalah cara terakhir agar suara masyarakat di tingkat akar rumput terdengar hingga ke pusat kekuasaan.
Ia tidak ingin Desa Lembar Selatan hanya disalahkan ketika terjadi insiden, sementara permohonan bantuan infrastruktur kerap diabaikan. (*/r8)
Editor : Kimda Farida