LombokPost - Nasib malang menimpa Aliman, warga Desa Beleka Lombok Barat. Pengendara ojek online ini kehilagan motornya setelah dibawa kabur pelanggannya di wilayah Kopang Lombok Tengah, Senin (6/7) lalu.
Raut lelah dan kecemasan mendalam terlihat jelas di wajah Andi Aliman saat ditemui Lombok Post Selasa siang (7/7). Pria asal Dusun Bilatepung, Desa Beleka, Kecamatan Gerung ini tak pernah menyangka bahwa keramahannya sebagai seorang driver ojek online justru berbuah petaka.
Motor jenis Yamaha Aerox dengan plat kendaraan DR 3844NI yang menjadi satu-satunya alat untuk menyambung hidup dan membiayai sekolah anak-anaknya, kini raib dibawa kabur oleh penumpangnya sendiri.
Kisah pilu ini bermula pada hari Minggu siang di kawasan wisata Senggigi.
Aliman bertemu dengan seorang pria yang kemudian memesan jasanya secara offline. Pria tersebut meminta Aliman untuk mengantarnya ke Sembalun, Lombok Timur keesokan harinya atau Senin (6/7). Aliman yang sehari-harinya menarik ojek aplikasi, menyanggupi permintaan luar jaringan tersebut.
"Kalau pakai aplikasi, tidak bisa sampai ke sana (Sembalun) masalahnya. Makanya saya layani lewat offline," tutur Aliman dengan suara bergetar.
Sebelum ke Sembalun Hari Senin, di Hari Minggu penumpang yang mengaku bernama Wahyu itu terlebih dulu memesan jasanya untuk mengunjungi sejunlah tempat wisata. Dia sempat minta diantar jalan-jalan ke Pantai Kerandangan dan Cafe Lamper, lalu memberikan uang sebesar Rp 350.000.
Sikap royal dan ramah sang penumpang, bahkan sempat mampir ke rumah Aliman, berhasil meruntuhkan kewaspadaannya. Aliman menaruh kepercayaan penuh pada pria tersebut.
"Dia sempat menelepon keluarganya di Jawa dan saya sempat sapa juga. Dari logatnya, sepertinya dia orang dari Pulau Jawa," ungkap Aliman.
Memasuki hari Senin, rencana perjalanan ke Sembalun mendadak berubah. Sang penumpang menghubungi Aliman dan membatalkan rencana awal dengan alasan ada anggota keluarganya yang masuk IGD di Puskesmas. Justru, siangnya Wahyu meminta Aliman mengantarnya ke Kopang Lombok Tengah untuk mengunjungi kenalannya.
Aliman yang saat itu sedang sibuk mengurus keperluan sekolah anaknya, diminta untuk menjemput pelaku di Bundaran Jempong sekitar pukul 13.00 WITA.
"Dia naik taksi dan ketemu saya di Bundaran Jempong. Saya tawari jemput di rumahnya, tapi dia menolak, katanya terlalu jauh," kenang Aliman.
Baca Juga: BPJS dan GoTo Resmi Lindungi Driver Gojek, Ini Manfaatnya
Setelah bertemu, mereka berboncengan menuju daerah Kopang menggunakan motor Aliman, dengan posisi pelaku yang memegang kemudi di depan. Perjalanan tersebut diselingi dengan berhenti untuk membeli minuman di minimarket dan makan bakso di Kopang.
Petaka akhirnya memuncak saat mereka memasuki area dekat pasar di Kopang. Pelaku berbelok ke kanan di sebuah pertigaan dengan dalih mencari alamat kos temannya. Di tempat itulah, Aliman turun dari motor untuk merokok sambil menunggu pelaku.
Tak lama kemudian, pelaku meminta izin membawa motor sebentar untuk menjemput temannya tersebut. Aliman yang sudah terlanjur percaya, membiarkannya pergi.
Namun, setelah sekian lama menunggu, pelaku tak kunjung kembali.
Kecurigaan Aliman terbukti setelah seorang warga setempat, seorang ibu-ibu, menghampirinya.
"Pak, sedang apa di sana? Mana temannya? Wah, Anda ditipu itu. Di sini memang sering ada orang dilepas (ditinggal) seperti itu," ujar warga tersebut menirukan ucapan sang ibu.
Jalan yang dilewati pelaku ternyata tembus ke jalan besar, memudahkan pelaku untuk kabur dengan cepat.
Aliman panik dan langsung mencoba menghubungi nomor WhatsApp pelaku. Panggilan pertama sempat aktif namun diabaikan. Saat dicoba melalui telepon biasa, panggilannya ditolak, hingga akhirnya nomor tersebut sepenuhnya tidak aktif lagi.
Sadar telah menjadi korban penipuan, Aliman sempat mendatangi Polsek terdekat untuk melaporkan kejadian tersebut dengan membawa foto pelaku dan fotokopi KTP dan foto BPKB miliknya.
Namun karena bukti foto pelaku yang dibawa maupun foto BPKB dinilai kurang jelas. Polisi memintanta datang kembali keesokan harinya. "Padahal harapan saya saat itu bisa diproses dulu agar pelaku tidak menyeberang (keluar Pulau Lombok lewat Pelabuhan)," harapnya.
Kini, Aliman hanya bisa berharap ada keajaiban agar sepeda motornya dapat segera ditemukan. Motor tersebut bukan sekadar kendaraan, melainkan urat nadi ekonomi keluarganya.
"Saya berharap motor itu bisa ditemukan. Itu satu-satunya mata pencaharian saya untuk ngojek demi membiayai anak-anak. Anak pertama saya baru masuk kelas 1 Madrasa Aliyah, dan yang nomor dua baru naik ke kelas 5 SD. Dari motor itulah biaya sekolah dan makan kami sehari-hari didapatkan," pungkas Aliman penuh harap. (*)
Editor : Jelo Sangaji