Pelatihan itu untuk memberikan semangat kepada warga binaan mengembangkan keahliannya. Sehingga mereka memiliki bekal ketika kembali bergabung ke tengah masyarakat. ”Kami ingin memberikan mereka keahlian yang bisa berguna setelah mereka bebas nantinya,” jelasnya.
Banyak para mantan narapidana setelah bebas malah bingung mencari pekerjaan. Dengan adanya pelatihan yang ditingkatkan dalam proses pembinaan paling tidak mereka bisa menyalurkan keahliannya. ”Sehingga bisa bekerja maupun bisa membuka lapangan pekerjaan,” kata dia.
Dengan begitu, mantan narapidana itu tidak lagi mengulangi perbuatannya. Sehingga mereka tidak lagi menginjakkan kaki di Lapas Mataram. ”Harapan kami mereka jangan masuk ke sini (Lapas Mataram) lagi,” harapnya.
Menurut Akbar, para warga binaan tersebut sebenarnya memiliki keahlian khusus. Namun tidak bisa disalurkan dan menjadikannya pekerjaan. ”Keahlian mereka kita gali dan kami coba untuk salurkan,” ujarnya.
Khusus untuk menyalurkan hasil karya kerajinan batik warga binaan, Lapas Mataram telah menggandeng Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) SMKN 5 Mataram. ”Lewat itu nantinya kami pasarkan hasil kerjanya,” kata dia.
Sementara itu, Owner Batik Canteng Koneng Didik Haryanto mengatakan, warga binaan di Lapas Mataram memiliki bakat. Mereka juga memiliki motivasi yang kuat. ”Melihat semangat warga binaan di sini, saya semakin termotivasi untuk berbagi ilmu seluas-luasnya,” kata Didik.
Menurutnya, pasar batik di wilayah Lombok sudah ada. Dia juga meyakini, ke depan pasar tersebut akan lebih luas. ”Untuk itu, perlu persiapan sumber daya manusia yang juga berkompeten di bidang membatik. Mereka (warga binaan) ini juga memiliki potensi,” ujarnya. (arl/r1) Editor : Administrator