Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Terbongkar di Hotel Sekotong, Bule Selandia Baru Diduga Lakukan Kekerasan Seksual dan Threesome

Harli Arl • Selasa, 27 Januari 2026 | 22:18 WIB

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi jelaskan siswi SLB jadi korban pelecehan seksual.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi jelaskan siswi SLB jadi korban pelecehan seksual.

LombokPost - Warga Negara Selandia Baru berinisial RMS diduga melakukan kekerasan seksual terhadap warga lokal. Perbuatan bejat bule ini berlangsung di salah satu hotel wilayah Sekotong, Lombok Barat (Lobar).

Terungkap dugaan kekerasan seksual ini setelah para korban mengadu ke Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Universitas Mataram (Unram). "Kami terima laporan dari tiga orang. Dua orang perempuan dan satu laki-laki," kata Ketua BKBH Unram Joko Jumadi, Senin (26/1). 

Joko menerangkan, salah satu korban bercerita sudah lama mengenal RMS. Perempuan tersebut bahkan dijanjikan sejumlah uang. "Sempat juga akan diajak menikah," kata dia. 

Korban juga sempat memperkenalkan RMS kepada rekannya. Korban dan temannya ini bertemu di salah satu tempat. "Saat itu, korban bersama temannya diajak untuk melakukan tindakan senonoh bersama atau threesome," bebernya.

Baca Juga: WNA Prancis Dibekuk Polisi karena Peredaran Narkotika

RMS yang diketahui pemilik salah satu hotel di Sekotong, Lombok Barat ini mengajak korban bersetubuh dengan dua orang laki-laki. Tidak hanya itu, RMS juga mengajak dua perempuan untuk melayaninya. "Jadi bule itu memiliki kelainan seks," ujarnya. 

Menurut Joko, bukan hanya RMS saja yang memiliki kelainan seksu. Istrinya yang berusia 64 tahun itu diduga melakukan hal yang sama. "Istrinya juga ngajak untuk melakukan threesome," bebernya. 

Dari pengakuan korban, kejadian tersebut berlangsung Juli dan September 2025. "Kami duga bule (RMS) dan istrinya memiliki fantasi (seks) yang tidak seperti pada umumnya," duga Joko.

Baca Juga: Operasi Imigrasi Jaring 220 WNA, Intensifkan Pengawasan Kawasan Tambang

Kini pihaknya sudah memberikan pendampingan hukum terhadap korban. Selain itu, pihaknya juga memberikan pendampingan psikologi. "Kami berikan psikolog agar bisa keluar dari trauma yang dideritanya," ungkapnya. 

Tim dari BKBH Unram berencana melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Selain keterangan saksi-saksi, pihaknya juga mengantongi bukti lain. Salah satunya, rekaman video perbuatan pelaku. "Apakah Polres Lombok Barat atau Polda NTB, kami masih diskusikan. Yang jelas kami punya bukti. Pelaku sekarang masih di Lombok," ujarnya. 

Menurut Joko, perilaku WNA Selandia Baru mengarah kepada Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). "Kita punya videonya. Penyimpangan seksual ini kok ada dan menyita perhatian. Ini yang kemudian kami dalami," ucapnya. 

Editor : Marthadi
#wna #Lombok Barat #kekerasan Seksual #selandia baru #Sekotong