LombokPost - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membedah praktik puasa Ramadan dari sudut pandang sains dan medis.
Riset menunjukkan bahwa pembatasan asupan kalori secara berkala selama satu bulan penuh bukan hanya berdampak pada spiritualitas.
Tetapi juga memicu transformasi biologis yang signifikan pada tubuh manusia.
Proses Perbaikan Seluler (Autofagi)
Salah satu temuan ilmiah yang ditekankan adalah fenomena autofagi. Dalam kondisi perut kosong dalam durasi tertentu, sel-sel tubuh akan melakukan mekanisme "pembersihan mandiri" dengan menghancurkan komponen sel yang rusak dan mengubahnya menjadi energi.
Proses ini sangat vital untuk mencegah penuaan dini dan regenerasi jaringan tubuh secara alami.
Manfaat Bagi Metabolisme dan Organ Vital
Peneliti BRIN menjelaskan bahwa puasa Ramadan memiliki efek sistemik yang positif.
Kesehatan Kardiovaskular: Puasa membantu menurunkan tekanan darah sistolik dan memperbaiki profil lipid (lemak darah), sehingga risiko penyakit jantung koroner dapat berkurang.
Stabilitas Gula Darah: Dengan berpuasa, sensitivitas insulin meningkat, yang membantu tubuh mengelola kadar gula darah dengan lebih efektif, sekaligus memberikan waktu istirahat bagi organ pankreas.
Kesehatan Mental: Secara ilmiah, puasa memicu pelepasan protein neurotropik di otak yang dapat memperbaiki suasana hati (mood) dan menurunkan tingkat kecemasan.
Pentingnya Nutrisi Seimbang
BRIN mengingatkan bahwa manfaat ilmiah ini hanya bisa diraih secara optimal jika pola makan saat sahur dan berbuka dijaga dengan baik. Mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah dan tetap menjaga hidrasi tubuh menjadi kunci agar fungsi fisiologis tubuh tetap berjalan normal selama riset biologis alami ini berlangsung.
Melalui perspektif ini, puasa Ramadan terbukti menjadi instrumen kesehatan berbasis sains yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Penjelasan ilmiah dari BRIN ini semakin menguatkan bahwa puasa adalah "obat" alami bagi tubuh.
Editor : Marthadi