Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kuliner Lokal jadi Incaran Wisatawan Mancanegara

Lestari Dewi • Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:37 WIB
Lukman Ahmadi
Lukman Ahmadi

 

LombokPost - Dosen Seni Kuliner Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok Lukman Ahmadi mengatakan, eksistensi kuliner lokal saat ini justru sedang merangkak naik kelas. 

Inovasi pada sisi pengemasan menjadi kunci utama mengapa jajanan pasar ini kini justru diburu oleh pelancong domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke bentang Lombok-Sumbawa.

“Para bule itu sudah jenuh makan pizza atau spageti. Mereka datang kemari tentu ingin mencoba makanan khas yang belum pernah mereka rasakan di negaranya,” ujar Lukman membuka perbincangan.

Baca Juga: Poltekpar Lombok Pertajam Kurikulum Bahasa Arab

Tantangan terbesar kuliner lokal adalah bagaimana menyajikannya dalam ruang formal seperti restoran dan hotel berbintang tanpa kehilangan keaslian rasanya. 

Lukman mencontohkan menu plecingan rumput laut segar. Dengan taburan parutan kelapa muda, irisan bawang merah, dan cabai rawit, menu ini disajikan secara estetis menggunakan opak-opak sebagai piringnya.

“Pengemasan yang cantik dan unik tentu akan sangat menggugah selera wisatawan,” katanya.

Baca Juga: Menjelajah Keindahan Tersembunyi Pantai Orong Bukal di Sekotong

Inovasi serupa juga mendesak untuk diterapkan pada kuliner berat seperti Ayam Taliwang. Selama ini, kelemahan Taliwang untuk dijadikan oleh-oleh antarprovinsi terletak pada karakternya yang berbumbu basah sehingga mudah basi. 

Menurut pria asal Kelayu, Lombok Timur ini, solusinya adalah memodifikasi bumbu menjadi varian kering yang praktis, yang cukup diseduh air hangat saat hendak disantap di luar daerah.

 

Potensi serupa juga terlihat pada Sate Pucung khas Desa Wisata Bonjeruk. Tampilannya yang eksotis kerap memantik pertanyaan wisatawan luar kota yang ingin membawanya pulang sebagai buah tangan.

Bagi Lukman, peluang ekonomi dari bisnis kuliner tradisional ini sangat menggiurkan dan mampu bersaing ketat dengan kuliner modern. Kuncinya adalah kreativitas dalam memanfaatkan potensi lokal di sekitar, bahkan dari bahan yang kerap dianggap sampah.

Baca Juga: Sinergi Bangun Pesisir, Menteri KKP Tinjau KNMP Bilelando Loteng

“Misalnya pemanfaatan limbah kulit pisang yang biasa dibuang saat membuat pisang goreng. Saya berikan edukasi ke mahasiswa bahwa bagian dalam kulit pisang itu masih bisa dikeruk, dikumpulkan, dan diolah menjadi perasa alami pada adonan kue bolu,” jabarnya.

Menumbuhkan minat generasi muda terhadap kuliner lokal membutuhkan strategi pembuktian konkret. Generasi milenial dan Gen Z perlu melihat langsung bahwa industri tata boga berbasis kearifan lokal memiliki prospek masa depan yang menjanjikan.

Lukman menekankan, pemuda NTB sudah sepatutnya menguasai seni memasak kuliner daerahnya sendiri. Pengalaman menunjukkan, ketika mahasiswa menempuh studi tata boga ke luar daerah atau luar negeri, hal pertama yang paling membuat orang luar penasaran adalah autentisitas kuliner Lombok-Sumbawa. Kemampuan menyajikan makanan daerah menjadi bukti nyata bahwa generasi muda mampu menjaga warisan leluhur.

Baca Juga: Pesona Pantai Tomang-Omang yang Kini Viral di Praya Barat, Cantik Bermahkotakan Rumah Pohon, Haram untuk Berenang

Di Poltekpar Lombok, dukungan terhadap pelestarian ini tidak mandek pada teori di dalam kelas. Pihak kampus turut mengapresiasi karya mahasiswa dengan membantu mempromosikannya ke jejaring media sosial.

Namun, Lukman tidak menampik adanya batu sandungan klasik yang sering dihadapi perintis muda: masalah permodalan. Menurutnya, sebuah usaha baru mutakhir membutuhkan sokongan finansial di awal, sekalipun dalam skala kecil. Stimulus berupa pinjaman modal dinilai bisa memicu kedisiplinan dan keseriusan mahasiswa dalam berwirausaha.

“Ketika ada beban pinjaman, mereka jadi lebih serius. Kendalanya memang sering kali di sini saat anak-anak mau mulai berwirausaha. Karena itu, dukungan modal awal dari berbagai pihak sangat diperlukan tanpa harus menuntut instan apakah usaha tersebut langsung berhasil atau tidak,” pungkasnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
wisatawan Poltekpar Lombok kuliner lokal dosen Inovasi