Kepada Lombok Post Yudi dan Helmi berbagi kisah tentang hari bahagianya itu Sabtu (4/7) di Dusun Sendong Sekeq Desa Beraim, Kecamatan Praya Tengah.
Pernikahan ini digelar di kediaman Yudi usai salat Isya, Jumat (3/7) di kediaman Yudi. Akad dihadiri sekitar 50 orang termasuk petuga dari kantor urusan agama (KUA) Kementerian Agama (Kemenag) Loteng.
“Sampai tiga kali saya salah (ucap ijab Kabul),” ujar pria kelahiran Dusun Sendong 26 November 1996.
Yudi menepis pemberian mahar “nyeleneh” ini sekadar mencari sensasi. Menurutnya ini semua murni keinginan istrinya tercinta. Perempuan cantik asal Desa Jurit, Kecamatan Pringgasela Lombok Timur itu, tidak mau melihat suaminya sampai berhutang, gara-gara memenuhi permintaan kedua orang tuanya.
“Orang tua saya minta Rp 40 juta,” ujarnya.
https://www.youtube.com/watch?v=0QXX-hta5WI
Ia paham dalam kondisi seperti ini tak mungkin bagi sang suami bisa segera mengumpulkan uang seserahan sebanyak itu. Karena itulah ia meminta sesuatu yang sederhana dan terjangkau saja. Sepasang sandal jepit merek Skyway seharga Rp 10 ribu.
Helmi memandang pernikahan tak semestinya menyusahkan apalagi menjadi beban dan menyisakan hutang di hari depan. "Kalau cinta ya cinta saja," tambahnya.
Sayangnya, sikap Helmi ini ditentang keras kedua orang tuanya, keluarga dan kerabat terdekat lainnya. Saat ijab kabul, ia diwakili pihak ketiga. Bukan bapak kandungnya.
Keluarganya dari Lotim, tidak ada yang datang. Kecuali, keluarga Yudi dan rekan-rekannya. “Ke depan semoga orang tua saya menerima,” harap perempuan yang mengenakan sarung bunga-bunga warna ungu tersebut. (DSS/r5/r6) Editor : Administrator