WAHIDI AKBAR SIRINAWA, Mataram
Sepeda listrik milik Gede melaju pelan. Kecepatannya stabil. Sekitar 20 kilometer per jam. Jika dilihat sekilas, sepeda itu berjalan karena pedal yang dikayuh Gede menggunakan kakinya. Namun, bukan seperti yang sebenarnya terjadi. Daya dorong sepeda itu berasal dari baterai listrik beserta dinamonya. Lajunya dikendalikan dari tarikan gas di tangan kanan.
Ketika sepeda melaju di areal bengkel Le-Bui di Desa Keru, Lombok Barat, bunyi deru mesin tak terdengar sama sekali. Hanya suara gesekan ban dengan tanah. ”Kalau di jalan, orang-orang memang lihat seperti kita naik sepeda biasa. Padahal ini sepeda listrik,” kata Gede.
Ide membuat sepeda listrik Le-Bui dimulai lima tahu silam. Kala itu, Gede yang masih tinggal di Kota Mataram, membeli satu sepeda Fatman dari Bali. Sepeda yang memiliki dua roda berukuran besar dan lebar.
BACA JUGA : Kisah Le-Bui, Sepeda Listrik Lombok yang Sudah Go International (1)
”Saya lihat sepeda itu di internet. Kelihatannya gagah sekali. Akhirnya beli, dikirim dari Bali, soalnya belum ada yang jual waktu itu di Mataram,” tuturnya.
Tampilan yang gagah, rupanya membuat Gede kewalahan. Ia tak kuat berlama-lama bersepeda. Ban yang lebar membuat gesekan dengan aspal menjadi lebih besar. Otomatis tenaganya banyak terkuras saat mengayuh pedal sepeda.
BACA JUGA : Le-Bui Sepeda Listrik Lombok : Dibeli Gubernur dan Bos Pertamina (2)
Dari sana, Gede berpikir bagaimana caranya bisa tetap bersepeda tapi tidak mengeluarkan tenaga banyak. Pria 50 tahun ini kemudian berselancar di dunia maya. Mencari teknologi apa yang bisa digunakan.
Gede mengatakan, ia mulanya menemukan mesin tempel yang bisa digunakan di sepeda. Dengan kapasitas 50cc. Tapi, barang itu tak jadi dibeli. ”Hampir beli itu. Saya malah ketemu sama konverter kit lain. Itu saya aplikasikan di sepeda. Ternyata enak, pakai dinamo kecil sama baterai listrik,” kata Gede.
Dari konverter kit itu, Gede menciptakan purwarupa sepeda listrik Le-Bui. Penyempurnannya kemudian dilakukan 2016. Karena sering mengunggah hasil karyanya di media sosial, salah satu pengusaha asal Jakarta mengontak Gede.
Ia diminta datang ke Nusa Dua, Bali. Gede diundang bersama timnya. ”Ternyata di Nusa Dua, dia punya sepeda listrik banyak sekali. Nganggur, gak dipake,” ujarnya.
Si pengusaha kemudian menawarkan Gede untuk membawa satu sepeda. Yang dibuat pabrikan Rusia. Ia diminta untuk mempelajari sepeda listrik itu. Bagaimana sistem kelistrikannya, dinamo apa yang digunakan, hingga seperti apa kontrolnya.
Gede yang cuma lulusan SMA ternyata dengan sangat baik menyelesaikan challenge tersebut. Katanya, ia menciptakan model sepeda listrik pertama. Tentu dengan bentuk yang lebih sempurna.
Sepeda listrik itu dinamakan Semar. Yang sudah dibeli Gubernur NTB dan bos Pertamina di Mataram. ”Itu model sepeda listrik hasil penyempurnaan kita,” tutur Gede.
Setelah sepeda listrik Semar, Le-Bui banyak menerima pesanan dari luar negeri. Australia, Norwegia, Inggris. Sejumlah pemesan juga datang dari negara bagian di Amerika Serikat, seperti New York, Pennsylvania, hingga California.
Selama lima tahun menggarap sepeda listrik, pemesan dari luar negeri mendominasi. Gede mengatakan, total sudah lebih dari 100 unit sepeda listrik ia ekspor ke luar negeri. Sementara untuk pasar Indonesia, hanya laku kurang dari 50 unit.
Jika berpikir bisnis, Gede bisa saja mengutamakan pesanan dari luar negeri. Mereka sudah paham mengenai sepeda listrik. Juga soal menghargai kualitas. Satu sepeda listrik standar, tanpa baterai, bisa dibanderol hingga Rp33 juta.
”Kalau ditambah baterai, harganya bisa naik jadi Rp45 juta,” katanya.
Namun, sepeda listrik yang dibuatnya bukan sekadar bisnis. Karena itu, Le-Bui tetap melayani permintaan lokal. Harganya pun disesuaikan. Gede menyebut, jika pembelinya orang Indonesia, ia hanya mengambil untung dari pembuatan frame saja. Selebihnya tetap menyesuaikan dengan harga di toko.
”Berapa harga di toko, ya segitu harganya. Makanya, kalau saya jual sepeda Rp30 juta misalnya, itu sudah dengan baterai. Kualitasnya sama seperti harga sepeda yang dijual ke luar negeri,” jelas Gede.
Dalam pemasarannya, Le-Bui juga tidak sembarang menerima pesanan. Mereka memilih siapa saja konsumennya. Itu sebabnya, kebanyakan pembeli sepeda Le-Bui, sebelumnya pernah memiliki sepeda listrik.
”Walaupun orangnya punya uang banyak, tapi kalau gak paham sama sepeda listrik, lebih baik kita yang mundur. Takut nanti malah banyak kendala setelah mereka beli,” pungkasnya. (*/r3)
Editor : Administrator