Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita H Edy Sopyan, 25 Tahun Jalankan Perusahaan Penyalur PMI

Administrator • Kamis, 16 Februari 2023 | 00:52 WIB
H Edy Sopyan
H Edy Sopyan
Di kalangan para Pekerja Migran Indonesia (PMI), nama H Edy Sopyan pastinya sudah tidak asing lagi. Ia bisa dikatakan sebagai 'Bapak Para PMI'. Maklum, sudah tak terhitung berapa banyak masyarakat Lombok yang ia berangkatkan untuk mengubah nasibnya dengan merantau ke Negeri Jiran Malaysia.

 

HAMDANI WATHONI, Mataram

 

H Edy Sopyan tengah duduk santai di kediamannya di wilayah Udayana Lingkungan Suradadi Barat Kelurahan Karang Baru. Mengenakan kaos hitam ia ditemani secangkir kopi hangat melewatkan suasana sore.

Tampilannya sederhana dan biasa saja. Di kalangan para PMI, H Edy Sopyan bisa dikatakan sebagai 'Bapaknya para PMI asal Lombok'. Gelar ini bukan tanpa alasan layak disematkan padanya. Ia adalah sosok yang sudah membantu warga Lombok untuk bekerja ke Negeri Jiran Malaysia.

Melalui perusahaan yang dibentuknya yakni PT Cipta Rezeki Utama sudah tak terhitung ribuan bahkan ratusan ribu warga Lombok yang ia berangkatkan. Mereka berhasil mengubah nasib dengan merantau ke Malaysia bekerja di ladang sawit di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan di daerah.

Belum lama ini, H Edy Sopyan sudah beberapa kali memberangkatkan PMI bekerja di ladang Sime Darby.  "Ada sekitar 2.000 orang semenjak Malaysia sudah kembali dibuka (pasca pandemi Covid-19)," tuturnya kepada Lombok Post.

H Edy Sopyan bisa dikatakan sebagai salah satu figur yang sukses menggeluti usaha penyalur jasa PMI. Namun kesuksesan tersebut tidak serta merta didapatkan pria yang juga pernah menjadi PMI ke Arab Saudi itu.

Setelah merasakan menjadi PMI, ia sebenarnya pernah juga terjun ke bidang konstruksi bangunan. Namun ia merasakan passion-nya kurang pas di bidang tersebut. Sehingga ia memilih menggeluti jasa penyalur PMI ke Malaysia sejak 1998 silam.

"Saya pernah jadi kontraktor sebelumnya. Tapi saya merasa saya bukan di sana pasnya. Akhirnya saya memilih bidang ini (penyalur PMI)," ungkapnya.

Hal itu ia rasakan meski susah senang dan pahit getir di bidang penyalur jasa PMI. H Edy tetap merasa senang menggeluti bidang ini.  "Lima tahun saya jadi penyedia jasa TKI yang kantor pusatnya di Jambi. Kemudian ada yang buka cabang juga di sini," kenangnya.

Menggeluti dunia penyalur PMI tidak selalu manis ia rasakan. Terutama ketika para PMI tak kunjung berangkat. Gelombang protes hingga pertanyaan warga terus datang kepadanya. "Bahkan dulu sampai ada Ormas AMFIBI yang mendatangi saya karena calon PMI tak juga berangkat," tuturnya.

Sementara kala itu berkas dan biaya keberangkatan memang sudah diserahkan calon PMI ke perusahaan. "Persoalannya di kantor pusat. Tapi kan masyarakat nggak mau tahu ketika terjadi persoalan seperti itu. Asal mereka berangkat lama, ya protesnya ke kita yang di sini," bebernya.

Namun dengan sabar ia tetap menanggapi dan memberi penjelasan kepada para calon PMI. Sebisa mungkin ia menyampaikan apa adanya dan menunjukkan itikad baik untuk membantu para PMI memenuhi harapannya bekerja di Malaysia.

Akhirnya dengan proses dan berbagai pertimbangan ia memutuskan membuka perusahaan sendiri yang berkantor di Ampenan. Sehingga ia lebih leluasa dan maksimal melayani masyarakat Calon PMI. Termasuk menangani semua masalah yang dihadapi PMI.

Dengan pengaalman dan jaringan yang dimilikinya di Malaysia, ia tak butuh lama membuat perusahaannya berkembang. Sebisa mungkin ia terus memenuhi harapan para PMI agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Malaysia. "Apa keluhan PMI di sana seperti rumah, fasilitas dapur, serta apapun kebutuhannya kami sampaikan ke pihak perusahaan dan itu terus dibenahi," ungkapnya.

Setiap dua sampai tiga bulan sekali ia mengunjungi para PMI untuk melihat kondisi mereka. Menyerap masukan mereka terkait apa saja yang dibutuhkan agar mereka bisa bekerja dengan nyaman dan mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik ketika berada di rantauan maupun ketika pulang nanti.

"Bahkan saya ajak tokoh agama memberikan pemahaman kepada para PMI di sana. Prinsip saya, ketika orang merasa diperhatikan dan dilayani dengan baik mereka pasti akan ingat kita. Apalagi ini kita bantu saudara kita di Negeri orang. Saya yakin kalau kita amanah, usaha kita akan berkah," ucapnya.

Prinsipnya tersebut akhirnya berhasil ia buktikan dengan bertahannya PT Cipta Rezeki Utama yang didirikannya puluhan tahun silam. Masyarakat juga dikatakannya kini menaruh kepercayaan besar pada perusahaan ini. Hal ini terlihat ketika dibutuhkan tenaga PMI sekitar 200-500 orang per bulan, yang datang mendaftar justru mencapai 1.000 lebih. Apalagi dengan adanya sistem zero cost atau pemberangkatan tanpa biaya. Antusias masyarakat untuk bekerja di negeri Jiran Malaysia semakin tinggi.

"Tapi saya tidak mau serakah dengan memanfaatkan kepercayaan masyarakat untuk sebanyak-banyaknya mengirim PMI ke Perusahaan yang ada di Malaysia meski banyak permintaan. Saya sesuaikan dengan kemampuan perusahaan kami," tegasnya.

Ia tidak ingin memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Karena ketika perusahaannya menangani orang di luar kapasitas dan kemampuan mereka, ini bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.

Ia bersyukur kini pola pikir masyarakat tentang bekerja di Malaysia semakin baik. Perlahan mereka bisa menabung, mencari modal usaha hingga untuk kebutuhan lainnya di Malaysia. Di sana mereka minimal mendapat gaji per bulan 1.500 Ringgit Malaysia Rp 5 juta. Itu belum termasuk lembur dan bonus yang lainnya yang bisa mencapai puluhan juta.

Sehingga ini menjadi salah satu solusi di tengah keterbatasannya lapangan kerja bagi masyarakat. Tak heran, jargon yang selalu digaungkan oleh pihaknya adalah bagiamana ke depan para PMI menjadi pekerja migran dan pulang menjadi juragan. (*/r3)

 

  Editor : Administrator
#Buruh Migran NTB #H Edy Sopyan #PT Cipta Rezeki Utama #PJTKI