LombokPost - Bagi sebagian orang, akuarium hanyalah wadah berisi air dan ikan.
Namun bagi Nunang Pradana, akuarium adalah kanvas hidup, tempat seni dan alam bersatu dalam harmoni.
Dari ketidaktahuan tentang aquascape hingga kini menjadi pelaku usaha yang merambah pasar luar daerah, perjalanan Nunang membuktikan bahwa hobi bisa menjadi jalan hidup, bahkan di tengah krisis.
Apa yang dimulainya sebagai hobi pada Oktober 2019, kini telah berkembang menjadi ladang uang menjanjikan serta menjadi sumber penghasilan yang stabil.
“Saat itu saya beli akuarium kosong. Saya belum tahu apa itu aquascape. Saya pikir, seperti akuarium pada umumnya, diisi air dan ikan. Tapi ternyata, aquascape itu beda,” ujar Nunang mengisahkan awal perjalanannya.
Ciptakan Ekosistem
Aquascape sendiri adalah seni menata tanaman air, batu, kayu, dan elemen alami lainnya di dalam sebuah wadah kaca seperti akuarium atau akrilik.
Tujuannya bukan hanya mempercantik, tetapi menciptakan ekosistem air tawar yang menyerupai habitat asli.
Di dalamnya, tumbuhan hidup berdampingan dengan ikan dan mikroorganisme, membentuk siklus biologis yang lengkap dan alami.
Pria 36 tahun itu mulai mengenal dunia aquascape melalui YouTube.
Awalnya, ia mengira tampilan hutan mini yang dilihatnya hanyalah gambar latar belakang.
Tetapi, setelah menyelami lebih dalam, ia sadar bahwa yang dilihatnya benar-benar ekosistem hidup di dalam akuarium.
Rasa penasaran pun berubah menjadi ketertarikan.
Ia mulai menonton berbagai video, belajar teknik dasar, hingga memahami konsep desain dan pemeliharaan.
“Saya baru tahu ternyata ada banyak tema dan model aquascape. Ada komunitasnya juga, walau saat itu di Lombok masih sedikit yang aktif. Tapi saya merasa ini menarik sekali,” katanya.
Titik balik datang di awal tahun 2020, ketika pandemi Covid-19 melanda dan memaksa banyak orang kehilangan pekerjaan.
Nunang yang saat itu bekerja di sebuah perusahaan swasta ikut terdampak. Dia dirumahkan akibat kebijakan pembatasan sosial dan anjuran kerja dari rumah.
Di tengah kebingungan, Nunang kembali pada hobinya.
Ia berniat membuat aquascape untuk mengisi waktu, namun dihadapkan pada kendala, sulitnya mendapatkan bahan-bahan pendukung seperti tanaman air, kayu, batu, dan perlengkapan lainnya.
Beberapa teman sesama pehobi ada yang menjual, tapi pilihannya terbatas. Di Lombok, barang-barang ini memang masih langka.
Tak menyerah, Nunang mulai mencari koneksi dari luar daerah. Usahanya membuahkan hasil.
Setelah ia menyelesaikan aquascape untuk koleksi pribadi, ia mendapati banyak bahan tersisa.
Ia pun memutuskan menjualnya secara iseng, dan di luar dugaan, respon pasar sangat positif.
“Banyak yang datang ke rumah, ada yang minta COD (Cash on Delivery, Red), ternyata laku juga. Dari situ saya pikir ini bisa bantu memenuhi biaya hidup sekaligus menopang hobi saya,” kenangnya.
Ketika permintaan terus berdatangan, Nunang mulai membuka usaha.
Namanya Newnank Aquatiq Lombok, hadir untuk menghiasi ruangan rumah, halaman, kantor dan berbagai macam tempat untuk membuat suasana menjadi alami, tentram, indah dan nyaman.
“Kami menerima pesanan pembuatan aquascape dan menyediakan semua bahan lengkap,” jelasnya.
Dengan bisnis ini, Nunang mulai mendatangkan lebih banyak stok perlengkapan dari luar daerah. Tak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk dijual kembali.
Konsumennya tak terbatas di Lombok saja, permintaan datang dari Lombok Timur, Lombok Tengah, Sumbawa, Bima, hingga Papua.
Bisnis Berbasis Passion
Dari sinilah hobi tersebut mulai benar-benar berubah menjadi sumber pendapatan.
Nunang membangun bisnis berbasis passion, dan mulai menerima pesanan pembuatan aquascape untuk pelanggan.
Pesanan pertama yang diterima Nunang adalah akuarium dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 35 cm.
Sejak saat itu, bisnisnya terus berkembang.
Menurutnya, 60 persen pelanggan berasal dari instansi pemerintah, sementara sisanya dari masyarakat umum, terutama kalangan profesional yang tinggal di perumahan.
Promosi dilakukan secara organik, dari mulut ke mulut, namun justru terbukti efektif.
Selain menjual perlengkapan, Nunang juga menyediakan jasa pembuatan dan perawatan aquascape, termasuk bagi komunitas pecinta aquascape yang kini mulai berkembang di NTB.
“Saya sediakan semua kebutuhannya. Dari flora dan fauna air, akuarium, mesin, filter, pupuk, substrat, hingga batu, kayu, dan pasir. Semua lengkap,” jelas dia.
Menariknya, sebelum mengerjakan pesanan, Nunang selalu melakukan survei langsung ke rumah pelanggan.
Tujuannya, melihat langsung posisi pemasangan, apakah ingin memasangnya di sekat ruang tamu, teras, atau bahkan kamar pribadi.
Survei ini penting untuk menentukan ukuran, pencahayaan, dan tema yang paling cocok.
“Pelanggan juga lebih senang kalau saya survei langsung, karena mereka bisa bicara langsung soal keinginannya. Jadi hasilnya benar-benar sesuai ekspektasi,” katanya.
Setelah survei dan diskusi selesai, Nunang membuat desain dan menawarkan beberapa tema.
Di antaranya Dutch Style yakni berwarna-warni dan kompleks, Iwagumi Style, minimalis dengan batu dominan, dan Natural Style yakni tema meniru alam bebas.
Ia juga menjelaskan kepada pelanggan mengenai tingkat kesulitan perawatannya.
“Yang penuh warna biasanya lebih sulit dirawat. Kalau yang mudah, ya tema yang dominan warna hijau. Tapi semua saya jelaskan, biar pelanggan bisa pilih sesuai kemampuan dan waktu mereka,” jelas Nunang.
Setelah desain disepakati, data pelanggan dikumpulkan dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) disusun. Pengerjaan dimulai setelah uang muka dibayarkan.
Untuk tema sederhana, aquascape bisa selesai dalam satu hari.
Setelah aquascape selesai dibuat, belum bisa langsung dimasukkan ikan, karena pembentukan ekosistem yang sehat membutuhkan waktu.
Agar tumbuhan dan ikan di dalamnya bisa bertahan lama.
Nunang menjelaskan dibutuhkan waktu sekitar satu minggu agar bakteri baik tumbuh dan menstabilkan kondisi air.
“Kalau kita langsung masukkan ikan, kasihan, bisa mati. Harus nunggu sampai bakteri baik muncul. Biasanya seminggu, ikan sudah bisa dimasukkan. Tapi untuk ekosistem benar-benar matang, butuh waktu dua bulan,” paparnya.
Harga Bervariasi
Soal harga, aquascape yang dirancang Nunang di kenakan harga mulai Rp 300 ribu hingga Rp 1,5 juta.
Tetapi itu semua tergantung tingkat kerumitan tema dan perlengkapan yang digunakan.
Pelayanan yang diberikan Nunang tidak berhenti sampai pada pembuatan dan pemasangan aquascape saja.
Ia juga menyediakan layanan perawatan berkala bagi para pelanggannya.
Menurutnya, tidak semua pelanggan memiliki waktu atau pengetahuan yang cukup untuk merawat aquascape secara mandiri.
“Ada pelanggan yang ingin merawat sendiri, ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada saya karena kesibukan mereka,” jelasnya.
Bagi pelanggan yang memilih untuk merawat sendiri, Nunang tetap memberikan panduan lengkap tentang cara perawatan, mulai dari penggantian air, pemberian pupuk, hingga menjaga kestabilan ekosistem di dalam akuarium.
Namun bagi pelanggan yang tidak sempat merawat, Nunang menyediakan layanan perawatan rutin.
Dengan layanan menyeluruh ini, pelanggan tidak hanya mendapatkan aquascape yang indah, tetapi juga terjamin kelangsungan ekosistemnya dalam jangka panjang.
“Biasanya saya catat dalam daftar khusus, lalu saya jadwalkan kunjungan setiap satu minggu sekali ke rumah pelanggan untuk melakukan perawatan. Jadwalnya sudah teratur dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing aquascape,” pungkasnya. (yun/r3)
Editor : Kimda Farida