LombokPost - Di balik gemerlap sisik dan riak air yang tenang, hobi memelihara ikan hias bukan sekadar kesenangan estetika.
Bagi sebagian orang, ia menjelma menjadi pelarian dari stres, sarana meditasi, hingga peluang bisnis menjanjikan.
Di ruang tamu rumahnya di pinggiran kota, Hendra duduk berlama-lama menatap akuarium berisi ikan hias warna-warni.
Air beriak pelan, ikan berenang lambat. Semuanya menciptakan kedamaian yang tak bisa ia dapatkan dari layar gawai atau televisi.
Seperti Hendra, warga Kota Mataram kini semakin banyak masyarakat dari berbagai kalangan menjadikan memelihara ikan hias sebagai hobi yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menenangkan pikiran.
Dalam beberapa kasus, bahkan sampai membuka peluang usaha rumahan.
”Perawatannya (ikan hias) cukup rumit. Butuh waktu ekstra agar ikan hias tetap sehat,” ujarnya.
Hendra memelihara ikan hias sudah sejak 20 tahun lalu. Saat itu, dirinya masih beranjak dewasa.
”Pertama kali saya kenal ikan hias dari bapak. Saya dikenalkan sejak kecil,” ujarnya.
Apa yang disukai orang tuanya kini dilanjutkannya. Tidak hanya menjual ikan hias, melainkan juga menjual peralatannya.
”Sekarang lebih banyak fokus ke penjualan alat dan pakannya,” kata Hendra.
Pemilik toko Lombok Aquatic Aquarium tersebut sudah hafal cara memelihara ikan hias. Baik melalui media kolam atau akuarium.
”Semua ada takaran dan ukurannya yang membuat ikan hias tetap bertahan,” ujarnya.
Setiap jenis ikan hias memiliki penanganan berbeda.
Pada dasarnya, yang utama adalah air harus bersih.
”Air bersih harus didukung dengan filter yang bagus,” ujarnya.
Jika langkah itu sudah dijalankan perlu melihat cara pemberian makan terhadap ikan hias.
Jika ikan diberikan makan berlebihan juga gampang sakit.
”Memberi makan ikan terlalu banyak menimbulkan amoniak. Jika amoniak tinggi itu membahayakan ikan,” ujarnya.
Secara umum, semua ikan hias memiliki kebutuhan yang sama: air bersih, pakan terukur, dan lingkungan akuarium yang sehat.
”Namun, tingkat perawatan dan biaya yang dibutuhkan tergantung jenis ikannya,” jelasnya.
Misalnya, ikan cupang termasuk ikan yang perawatannya murah dan mudah dirawat.
Berbeda dengan ikan koi yang membutuhkan biaya lebih besar karena ukuran tubuh dan kebutuhan lingkungan yang lebih kompleks.
“Makanya, kalau mau memelihara ikan hias, sesuaikan dulu dengan bujet dan waktu yang kita punya,” tambahnya.
Pemeliharaan ikan yang paling merogoh kantong adalah ikan hias dari air laut. Misalnya, ikan nemo dan sebagainya.
”Memelihara ikan laut memang memanjakan mata, tetapi kebutuhan perlengkapannya cukup besar,” jelas Hendra.
Misanya, pada akuariumnya harus disiapkan khusus lampu UV yang bertujuan untuk menghangatkan kondisi ikan pada malam hari.
Selain itu, harus disiapkan karang yang hidup untuk menyeimbangkan adaptasi ikan hias laut.
”Kalau biaya bisa disiapkan bujet antara Rp 10-20 juta untuk pembuatan akuariumnya saja. Belum terhitung ikannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan memelihara ikan laut bukan hanya di perlengkapan, tapi juga memastikan ikan-ikan tetap hidup sehat.
“Kalau pelihara ikan laut, berarti harus siap pelihara ikan hidup yang sensitif terhadap perubahan lingkungan,” tambahnya.
Meski begitu, biaya pakan relatif terjangkau.
Pakan lokal termurah sekitar Rp 20 ribu per 100 gram, sementara pakan impor juga banyak dipilih untuk menjaga kualitas gizi ikan.
Berbeda dengan ikan Koi, perawatannya harus membutuhkan kolam yang lebih luas dibanding ikan hias lainnya.
Tetapi, yang harus dipikirkan itu adalah kualitas air adalah nyawa bagi ikan.
Itulah sebabnya, kolam ikan ideal harus dilengkapi ruang filter yang memadai.
”Keberadaan filter itu sangat penting. Idealnya, luas ruang filter adalah sepertiga dari ukuran kolam,” kata pehobi ikan hias.
Filter sendiri terbagi menjadi tiga jenis: mekanik, biologis, dan kimia.
Filter mekanik biasanya menggunakan kapas atau busa untuk menyaring kotoran fisik dari air.
Filter biologis menggunakan media seperti biobol untuk menampung bakteri baik yang membantu mengurai limbah sehingga tidak mencemari ikan.
Sementara filter kimia berfungsi menjaga kestabilan pH air agar ikan tetap sehat.
“Kalau semua jenis filter ini bekerja optimal, air akan jernih dan ikan lebih kuat menghadapi perubahan lingkungan,” jelasnya.
Bisa Jadi Interior Ruangan
Menggunakan akuarium sebagai partisi ruangan kini menjadi tren di kalangan pecinta desain interior.
Apalagi di dalam akuarium itu terdapat ikan hias yang hidup menambah kesan interior lebih sempurna.
Selain memberikan kesan eksklusif, akuarium juga menghadirkan nuansa hidup yang menenangkan.
Gerakan ikan yang lincah, tanaman aquascape yang hijau, serta efek pencahayaan yang memantul di air menciptakan tampilan dinamis dan memanjakan mata.
”Konsep ini cocok untuk rumah modern maupun kantor yang ingin tampil elegan,” jelasnya.
Selain aspek estetika, akuarium partisi memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, ia menjadi dekorasi yang indah.
Di sisi lain, berperan sebagai pemisah ruang tanpa membuat ruangan terasa sempit, berbeda dengan dinding atau sekat konvensional yang cenderung menutup pandangan.
“Akuarium dapat membantu menjaga kelembapan udara dalam ruangan, bermanfaat untuk kesehatan. Melihat ikan berenang juga terbukti mampu menurunkan stres dan meningkatkan fokus, sehingga cocok ditempatkan di ruang kerja maupun ruang tamu. Itu yang membuat saya senang memelihara ikan hias,” ujarnya.
Dari sisi pencahayaan, akuarium yang diposisikan di tempat strategis dapat membantu mendistribusikan cahaya alami.
Pantulan air dan pencahayaan buatan menciptakan atmosfer ruangan yang lebih hidup.
”Salah satu pilihan terbaik adalah akuarium built-in yang terintegrasi langsung dengan dinding atau furnitur. Model ini memberikan kesan seamless dan mewah, sangat pas untuk rumah bergaya minimalis maupun modern,” ungkapnya.
Bukan Sekadar Hobi
Terpisah, pedagang ikan hias Zainudin mengaku berjualan ikan hias tidak hanya sekadar hobi. Melainkan juga untuk mendapatkan cuan.
”Kalau saya di sini, menjual ikan hias hanya sebagai penyalur hobi. Kalau uang nanti ada yang ngatur,” kata Zainudin.
Awalnya dirinya suka terjun ke bisnis tersebut berawal dari adanya event Koi di Mataram Mall.
”Ternyata ikan seperti ini ada kontesnya. Dari situlah saya terus belajar,” ujarnya.
Bagaimana cara merawat agar bisa membudidaya ikannya. Paling tidak, bisa kembangkan satu ekor menjadi dua ekor.
”Yang paling banyak dicari adalah ikan cupang,” ungkapnya.
Sebab, jika memelihara ikan Koi modal terlalu besar. Sekarang kontes ikan cupang juga sudah ada.
”Tinggal sekarang kita kembangkan dan merawatnya,” ujarnya.
Modal awal hanya Rp 3 ribu untuk per ekor. Jika bisa budi daya bisa mendapatkan uang lebih banyak.
”Terkadang cupang yang menang kontes bisa harganya Rp 1 juta,” kata dia.
Editor : Kimda Farida