LombokPost - URBAN farming di Kota Mataram terus berkembang pesat.
Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang awalnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kini menjelma menjadi peluang usaha dan sekaligus solusi ekologis di perkotaan.
Urban farming di Kota Mataram sejak lama digerakkan lewat P2L.
Prinsip utamanya sederhana, memanfaatkan pekarangan sempit untuk menanam sayuran maupun buah-buahan demi kebutuhan rumah tangga.
Namun dalam perjalanannya, urban farming tidak hanya sekadar untuk dapur sendiri, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi keluarga.
Akademisi Universitas Mataram (Unram) Prof Muhammad Sarjan menuturkan, urban farming sudah lama diterapkan masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan.
Manfaat yang dirasakan langsung adalah ketersediaan pangan segar dari pekarangan sendiri.
“Awalnya hanya untuk kebutuhan keluarga, tapi berkembang bisa jadi usaha. Misalnya jual bibit, cabai, tomat, terong, hingga sayuran segar,” jelasnya.
Diutarakan, urban farming di Kota Mataram semakin menggeliat saat pandemi Covid-19.
Kebijakan work from home membuat banyak warga mulai menanam sayur, buah, hingga tanaman hias di pekarangan.
Bahkan teknologi hidroponik dengan irigasi tetes menjadi tren baru. “Dari yang tadinya tidak hobi bertani, akhirnya menjadikan urban farming sebagai hobi sekaligus peluang usaha,” ujarnya.
Momentum itu diperkuat dengan lomba P2L yang rutin digelar Pemkot Mataram tiap tahun. Pemenang lomba mendapat insentif, sehingga kelompok wanita tani (KWT) makin semangat menjalankan P2L. Produk yang dihasilkan pun tak hanya segar, tetapi juga olahan seperti manisan, minuman, camilan. Bahkan, cabai dan kelor kini menjadi ikon P2L Kota Mataram.
Kini, urban farming di Kota Mataram tidak hanya soal pangan dan ekonomi keluarga. Menurut Prof Sarjan, urban farming juga bisa diarahkan ke fungsi ekologis, terutama untuk mengurangi efek rumah kaca.
Salah satunya dengan memanfaatkan rooftop rumah, kos-kosan, atau gedung perkantoran sebagai lahan hijau baru. “Bayangkan kalau rooftop dipenuhi melon, semangka, atau sayuran. Kota menjadi hijau sekaligus membantu mengurangi pemanasan global,” kata Prof Sarjan.
Agar lebih praktis lanjutnya, teknologi smart farming atau pertanian presisi bisa diterapkan. Pemilik bangunan tidak perlu repot naik turun menyiram atau memupuk tanaman karena semua bisa dikendalikan dari bawah secara otomatis.
Ia menyebutkan, urban farming di Kota Mataram sudah terbukti memberi manfaat ekonomi bagi keluarga. Namun ke depan ia mendorong masyarakat dan pemerintah mengembangkan inovasi teknologi di atas rooftop agar fungsi ekologis juga tercapai.
“Urban farming dari sisi ekonomi sudah jalan. Tinggal kita sempurnakan dengan teknologi agar memberi manfaat ekologis lebih luas,” tegasnya.
Dengan begitu, urban farming di Kota Mataram bukan hanya menjadi gerakan pangan keluarga dan penopang ekonomi rumah tangga. Tetapi juga bagian dari solusi lingkungan untuk masa depan kota. (jay/r3)
Editor : Pujo Nugroho