LombokPost - Di tengah gempuran teknologi baru dan tren digital yang silih berganti, game konsol tetap bertahan sebagai pilihan utama hiburan.
Dari anak-anak yang baru mengenal joystick, remaja yang menjadikannya ajang kebersamaan, hingga orang dewasa yang bernostalgia dengan masa kecil, semua menemukan cerita di balik layar PlayStation.
Konsol ini bukan hanya soal permainan, tapi juga ruang perjumpaan lintas generasi.
Hampir di setiap ruas jalan utama Kota Mataram dapat dijumpai rental PlayStation. Mulai dari Jalan Bung Hatta, Jalan Airlangga, hingga Jalan Sriwijaya, deretan tempat sewa konsol ini berdiri dan selalu ramai oleh pecinta game.
Lokasi-lokasi strategis seperti depan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Simpang Empat Tanah Aji Jalan Sriwijaya, Rembiga, hingga perbatasan Jalan Bung Hatta dan Airlangga, menjadi pusat berkumpulnya para gamers dari berbagai kalangan.
Tak hanya pelajar SMA atau mahasiswa, pegawai kantoran pun kerap meluangkan waktu untuk bermain PlayStation selepas bekerja.
Bahkan di kawasan lain seperti Jalan Airlangga, dekat Hotel Nutana, serta di sekitar Islamic Center Masjid Hubbul Wathan, sejumlah rental PlayStation masih menjadi favorit masyarakat.
Sejak era PlayStation 1 hingga kini generasi ke-5 (PS5), game konsol tetap memiliki penggemar setia. Permainan sepak bola seperti Pro Evolution Soccer (PES) dan FIFA selalu menjadi primadona di hampir semua rental.
Grafik yang terus berevolusi, sentuhan permainan yang semakin realistis, serta sensasi kompetisi, membuat game sepak bola ini tidak pernah kehilangan pesona.
Amaral, salah satu pengunjung rental PlayStation asal Pagutan, mengaku tetap setia bermain PS sejak kecil hingga sekarang sudah bekerja di perusahaan swasta.
“Rasanya nostalgia. Dari kecil sudah main PES, sekarang pun masih. Bedanya, grafiknya makin nyata seperti bola sungguhan. Itu yang bikin saya dan teman-teman tidak pernah bosan,” ungkapnya.
Menurutnya, bermain PlayStation bersama teman kerja hingga teman sepergaulan menjadi pengobat penat yang bisa menenangkan pikiran.
Hal senada juga diungkapkan Zahir, seorang mahasiswa di Mataram menjadikan rental PlayStation sebagai tempat melepas rasa lelah atas berbagai persoalan kehidupan yang melelahkan.
"Saya main PS bukan karena jago, tapi untuk menghilangkan stres. Setelah kuliah seharian, main PS bisa bikin kepala lebih rileks," katanya.
Bisnis yang Masih Menjanjikan
Salah satu rental PlayStation di depan UIN Mataram yang berdiri sejak tiga tahun lalu membuktikan potensi bisnis ini masih sangat menjanjikan.
Dengan 14 unit PS4 dan 1 unit PS5, tempat tersebut hampir tidak pernah sepi pengunjung.
Menurut Hendra, salah seorang penjaga rental, mayoritas penyewa adalah mahasiswa. Namun, anak-anak sekolah menengah hingga pegawai kantoran juga sering datang.
"Hari biasa buka dari jam 10 pagi sampai jam 11 malam. Rata-rata selalu penuh, apalagi malam hari," jelasnya.
Harga sewa yang relatif terjangkau menjadi daya tarik tersendiri. Untuk PS4, tarifnya Rp 8.000 per jam, sementara PS5 dipatok Rp 12.000 per jam.
Ada pula paket hemat, misalnya sewa tiga jam cukup Rp 30.000.
Selain itu, pelanggan yang ingin suasana lebih nyaman bisa memilih ruangan VIP di lantai dua yang ber-AC dengan tarif Rp 15.000 hingga Rp 25.000 per jam, tergantung layanan.
Jika dulu rental PlayStation identik dengan kursi plastik dan suasana bising, kini banyak pengusaha rental berbenah.
Sofa empuk, meja untuk menaruh barang, penjualan minuman segar, hingga fasilitas Wi-Fi tersedia untuk memanjakan pelanggan.
Beberapa rental bahkan menyediakan layanan khusus bagi pemain yang ingin fokus tanpa terganggu penyewa lain.
“Sekarang rental PS jauh lebih nyaman. Dulu suasananya ribut dan bikin cepat bosan, sekarang sudah ada sofa, AC, dan tempatnya bersih. Rasanya seperti nongkrong di kafe, tapi sambil main game," ujar Amaral.
Fenomena bertahannya rental PlayStation di Mataram membuktikan bahwa game konsol masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, meskipun game mobile terus berkembang pesat.
Bagi sebagian orang, bermain PlayStation bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana bersosialisasi sekaligus nostalgia.
"Tidak ada orang yang suka game sejak kecil lalu tiba-tiba berhenti saat dewasa. Kami tetap suka main PS karena bisa bikin semangat hidup kembali, sekaligus mengingat masa kecil," kata Zahir.
Dengan strategi bisnis yang terus menyesuaikan zaman, fasilitas yang semakin modern, serta tarif yang ramah di kantong, rental PlayStation di Mataram tampaknya masih akan tetap eksis dalam beberapa tahun ke depan.
Meski dunia game terus bergerak menuju platform online dan digital, pesona konsol PS tetap tidak lekang oleh waktu. (ton/r3)
Editor : Kimda Farida