Fenomena tahunan ini tak sekadar menjadi ritual spiritual, tetapi juga menjadi napas ekonomi bagi para pelaku UMKM lokal.
Terutama UMKM yang menggantungkan hidup di sekitar areal makam keramat tersebut.
Salah satunya adalah Fitriani, seorang pedagang bunga sekaligus pemilik warung kecil tepat di depan gerbang Makam Loang Baloq.
Bagi perempuan asli Dusun Loang Baloq ini, hari-hari menjelang puasa adalah musim panen yang paling dinanti.
Fitriani bukanlah pemain baru. Ia merupakan generasi ketiga yang meneruskan tongkat estafet usaha keluarganya.
Sudah tiga tahun terakhir ia duduk di lapak yang dulu ditempati neneknya selama puluhan tahun.
"Nenek saya sudah puluhan tahun berjualan di sini, sejak jalan ini masih berkerikil, belum sebagus dan semulus sekarang. Saya hanya meneruskan saja," kenang Fitriani.
Kini, setiap kali musim ziarah tiba, denyut ekonomi di lapaknya meningkat drastis. Jika pada hari biasa pengunjung bisa dihitung jari, maka menjelang Ramadan, keramaian bisa pecah sejak pagi hingga petang.
"Ramai sekali sekarang. Biasanya hanya hari Minggu saja yang ramai, tapi menjelang puasa ini setiap hari orang datang berziarah," sambungnya.
Selain menyediakan makanan cepat saji, produk utama yang paling diburu peziarah adalah paket bunga tabur.
Fitriani jeli menangkap peluang. Ia mengambil bahan baku bunga secara grosir dari daerah Batu Dawe. Kemudian mengemasnya kembali dalam bungkusan kecil yang lebih ekonomis.
Baca Juga: 5 Film Horor Indonesia Terbaru Ini Tayang di Bulan Februari 2026
"Satu bungkusan bunga harganya Rp 5 ribu, itu sudah termasuk air Narmada kemasan kecil. Kalau mau yang air botol besar, harganya Rp 10 ribu," jelasnya.
Bunga yang ia sediakan pun beragam. Mulai dari kembang pancar hingga kembang kuning. Jika pada hari biasa satu bungkus besar bunga sulit habis, kini ia sanggup menyetok hingga 6 bungkus besar setiap hari.
"Satu bungkus besar itu bisa kami bagi menjadi puluhan bungkusan kecil. Alhamdulillah, peningkatannya luar biasa," katanya.
Soal pengunjung makam Loang Baloq, berdasarkan pengamatannya selama bertahun-tahun, rombongan peziarah paling banyak berasal dari Kabupaten Lombok Timur.
Meski ada juga dari Lombok Tengah, Utara, maupun Barat, namun peziarah dari Gumi Patuh Karya biasanya datang dalam jumlah massal menggunakan bus-bus besar.
"Apalagi kalau pas musim haji atau umrah, rombongannya bisa ratusan orang sehari. Kalau sudah ramai begitu, yang paling laris itu air mineral dan Pop Mie. Kadang kami juga sediakan nasi kalau permintaan banyak," tutur Fitriani.
Ikhsan, pelaku UMKM bakso cilok juga mendapatkan berkah jelang Ramadan yang melimpah. Meski tidak standby setiap harinya, namun momen menjelang Ramadan memang memiliki peluang penghasilan menggiurkan.
Bagaimana tidak, H-3 hingga H-1 Ramadan, makam maupun destinasi wisata Loang Baloq selalu dipadati wisatawan lokal.
Hal itu membuat penjualannya meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Bahkan dua hingga tiga kali lipat dari biasanya. Keuntungan yang didapatkan juga lebih besar.
Momen menjelang Ramadan diakuinya menjadi kesempatan bagus bagi semua PKL (Pedagang Kaki Lima). Meski menambah jumlah jualan hingga dua kali lipat, itu selalu ludes dibeli pengunjung.
”Sekarang saja dagangan saya hampir habis,” ujarnya.
Bagi Fitriani, Ikhsan dan kawan-kawan sesama pelaku UMKM di Loang Baloq, Ramadan dan Lebaran bukan sekadar momen ibadah. Melainkan bukti nyata bagaimana tradisi religi mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil.
Lewat segelas air dan sebungkus kembang hingga bakso cilok, mereka memetik berkah dari jejak langkah para peziarah yang datang mendoakan para wali.
Editor : Redaksi Lombok Post