Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pesona Kampung, Magnet Baru Pariwisata: Ubah Pola Pikir Warga Desa

Redaksi • Minggu, 5 Juli 2026 | 13:08 WIB
DESA WISATA: Sejumlah wisatawan mancanegara menikmati keseruan berkeliling dan berswafoto di kawsan Desa Wisata Hijau Bilebante, Pringgarata, Lombok Tengah. (Abdul for Lombok Post)
DESA WISATA: Sejumlah wisatawan mancanegara menikmati keseruan berkeliling dan berswafoto di kawsan Desa Wisata Hijau Bilebante, Pringgarata, Lombok Tengah. (Abdul for Lombok Post)

LombokPost - Gemerlap destinasi wisata modern tak lagi menjadi satu-satunya daya tarik bagi para pelancong. Di Pulau Lombok, kampung-kampung yang dahulu hanya dikenal sebagai kawasan permukiman kini menjelma menjadi tujuan wisata yang menawarkan pengalaman berbeda.  

Hamparan sawah, kehidupan masyarakat yang masih lekat dengan tradisi, kerajinan tangan, kuliner khas, hingga keramahan warga menjadi pesona yang membuat desa wisata semakin diminati. 

Bukan sekadar tempat singgah, kampung kini menjadi ruang bagi wisatawan untuk merasakan kehidupan lokal yang autentik. 

Baca Juga: Keseruan Jelajah Desa Pajangan di Kopang, Lombok Tengah, Menganyam Potensi Wisata di Bawah Bayang Gunung Rinjani

Kehangatan interaksi dengan masyarakat, kekayaan budaya, serta kehidupan yang berjalan apa adanya menjadi nilai lebih yang perlahan mengangkat desa wisata sebagai salah satu tulang punggung pariwisata daerah sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. 

Salah satunya adalah Desa Wisata Hijau Bilebante di Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah.

Destinasi ini kini ramai diburu wisatawan karena menawarkan pengalaman berlibur yang otentik dan menyatu dengan alam.  

Baca Juga: Transformasi Desa Bilebante, dari Tambang Pasir ke Wisata Hijau, Transparansi dan Partisipasi Warga Berhasil Ubah Lanskap Gersang Jadi Hijau Royo-Royo

Di sini, pelancong tidak sekadar datang untuk berswafoto, melainkan melebur dalam ritme kehidupan warga setempat.

Kepala Desa Bilebante Asrok Mudailun mengungkapkan, konsep desa wisata hijau yang diusung merupakan komitmen jangka panjang untuk menjaga kelestarian alam sekaligus mendongkrak ekonomi warga. 

Pariwisata berbasis komunitas ini diakui telah mengubah pola pikir masyarakat.

Baca Juga: Berkunjung ke Desa Penerima Manfaat yang “Dipeluk” Sinyal Komdigi (2): Wisata Tumbuh, Budaya Lokal Menyapa Dunia dari Desa Jeruk Manis

Dari yang awalnya sekadar bertani secara konvensional, kini mampu mengelola potensi desa menjadi daya tarik kelas dunia.

Punya Daya Tarik Berbeda 

Salah satu magnet utama yang membedakan Bilebante dengan destinasi lain adalah ragam aktivitas yang memberikan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjung. 

Wisatawan bisa menikmati kesegaran udara pagi dengan bersepeda menyusuri pematang sawah berlatar Gunung Rinjani, hingga merasakan sensasi kuliner nikmat tepat di tepi sawah. 

Tak hanya itu, desa ini juga memiliki Pasar Pancingan sebuah pasar kuliner tradisional bernuansa bambu yang menyajikan aneka kudapan khas Sasak. 

Uniknya, transaksi di pasar ini wajib menggunakan koin kayu khusus yang disebut kepeng.  

“Ada pula sentra edukasi kebun herbal, tempat wisatawan bisa belajar meracik teh herbal berkhasiat yang diproduksi langsung oleh kelompok wanita tani setempat,” terangya. 

Dampak ekonomi dari geliat pariwisata ini pun dirasakan langsung oleh masyarakat melalui penyediaan akomodasi.

Warga tidak perlu membangun bangunan baru, melainkan memanfaatkan dan menyulap kamar atau ruangan kosong di rumah mereka menjadi homestay yang layak huni bagi wisatawan. 

Selain homestay, para pelaku UMKM lokal juga kecipratan berkah dengan menjual jajanan atau kuliner khas Sasak.

Untuk memperkuat kesan tradisional, penggunaan mata uang kepeng dari bahan kayu tersebut kini telah diterapkan di dua lokasi strategis, yakni Pasar Pancingan dan Pasar Tematik Desa Bilebante.  

“Sistem ini sekaligus memudahkan pemerintah desa untuk memantau seberapa besar volume pertukaran uang yang terjadi di lokasi tersebut,” ucap Asrok. 

Geliat akomodasi ini juga diamini oleh Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bilebante, Abdul Khalik. Saat ini, sedikitnya tersedia 45 kamar siap huni di Desa Bilebante.

Wisatawan yang hendak menginap bisa memilih beragam paket liburan yang dihadirkan, mulai dari paket Tur Cidomo, Tur Sepeda, menjelajah dengan ATV (all-terrain vehicle), kelas memasak, hingga layanan terapis kebugaran.  

“Bagi wisatawan yang menginap, pengelola juga menyediakan paket khusus bernama Betemoe (bertamu),” imbuhnya. 

Sejauh ini, minat terbesar untuk menjajal pengalaman hidup di desa wisata ini justru didominasi oleh wisatawan mancanegara.

Mulai dari Prancis, Australia, Maroko, Amerika Serikat, Brasil, hingga yang terbaru dari Malaysia dan Singapura.  

Terus Berinovasi 

Kendati demikian, menjaga eksistensi desa wisata diakui tidaklah mudah. Pokdarwis Bilebante dituntut untuk selalu konsisten berinovasi menghadirkan paket menarik dengan berbagai rute perjalanan yang menantang.

Guna memperluas pasar, pihak pengelola getol menjalin kerja sama dengan agen perjalanan wisata serta memaksimalkan promosi digital dengan memanfaatkan teknologi dan jaringan sosial pertemanan di media sosial.  

Liburan Murah Meriah 

Bagi wisatawan, selain karena keindahan alamnya, faktor efisiensi biaya juga menjadi alasan kuat mereka untuk berkunjung.

Seperti yang diungkapkan Supriadi, pengunjung Desa Wisata Sesaot, Suranadi dan Buwun Sejati di Kecamatan Narmada, Lombok Barat. 

"Hemat biaya, karena cukup dengan Rp 100 ribu kita sudah bisa berlibur dan makan sepuasnya bersama keluarga," bebernya sembari tersenyum.  

Di sekitar area pemandian, para pengunjung memang dimanjakan dengan beragam pilihan kuliner tradisional khas Lombok.

Mulai dari sate bulayak, pelecing kangkung, ikan bakar, rujak, hingga menu lokal lainnya yang membuat momen liburan semakin lengkap. (ewi/ton/r3) 

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Efisiensi Biaya #Bilebante #media sosial #Narmada #Desa Wisata