Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jajanan Tradisional Tak Lekang oleh Zaman, Lebih Higienis dan Premium lewat Pengemasan

Redaksi • Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:03 WIB
TETAP EKSIS: Salah satu penjual jajan tradisional di Pasar Mandalika, Mataram tetap eksis di tengah gempuran kue modern, Jumat (10/7). (FERIAL/LOMBOK POST)
TETAP EKSIS: Salah satu penjual jajan tradisional di Pasar Mandalika, Mataram tetap eksis di tengah gempuran kue modern, Jumat (10/7). (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost - Di tengah menjamurnya makanan kekinian yang silih berganti viral di media sosial, jajanan tradisional tetap memiliki ruang di hati masyarakat.

Dari pasar-pasar tradisional hingga etalase toko, aneka kudapan warisan leluhur masih bertahan, menjadi bukti bahwa cita rasa autentik tak pernah benar-benar kalah oleh perubahan zaman.

Deretan kue tradisional masih ramai menghiasi lapak-lapak Pasar Mandalika, Kota Mataram sejak matahari belum tinggi.

Baca Juga: ​Kades Sigerongan Perkuat UMKM Cupang Hingga Jajan Tradisional

Cerorot, lupis, putu, serabi, temberodok, hingga aneka jajanan berbahan ketan dan kelapa tak pernah kehilangan pembeli.

Di tengah gempuran makanan kekinian yang silih berganti menjadi tren, kudapan tradisional justru membuktikan daya tahannya.

Zubaedah adalah salah seorang pedagang yang secara konsisten mempertahankan kue-kue basah seperti kelepon, serabi, ketan hitam, hingga lupis.

 Baca Juga: Ketika Ramadan Menghidupkan Kembali Jajanan Tradisional, Tetap Laris Manis di Tengah Gempuran Jajanan Modern

Sadar estetika visual menjadi kunci memikat konsumen, Zubaedah mengemas menggunakan wadah mika kecil agar terlihat lebih higienis dan premium.

Di lokasi lainnya, tepatnya di halaman Pasar Kebon Roek yang menjadi pusat kuliner sore hari.

Inaq Romlah menjual kue tradisional dengan harga mulai dari Rp 5.000 per porsi. Jenis kuenya beragam, seperti sarimuka gula merah, kue abuk, dan lupis kelapa parut banyak diburu warga maupun pekerja kantoran.

Baca Juga: Berawal dari Hobi, Idayani Lahirkan Jajan Kering Tradisional yang Disukai Banyak Orang di Lombok Timur

“Kue-kue ini ada yang saya buat sendiri dan ada yang diambil dari produsen rumahan,” ujarnya.

Dijual secara Online

Lebih dari sekadar berjualan di pasar, penetrasi pasar digital atau online kini menjadi mesin uang baru. Metode ini turut mendongkrak profitabilitas perajin jajanan Sasak ke level tertinggi.

Strategi ekspansif ini sukses diterapkan Wida, salah seorang produsen jajan rumahan. Setiap hari, dapur produksinya mampu mengolah bahan baku lokal seperti ubi, tepung beras, gula merah, dan parutan kelapa menjadi 300 biji kue tradisional siap konsumsi.

Untuk menjaga nilai otentisitas dan aroma khas, Wida tetap mempertahankan daun pisang sebagai elemen pembungkus utama di dalam kemasan mikanya.

Wida memanfaatkan media sosial dan aplikasi perpesanan. Dia berhasil memotong rantai distribusi panjang, memperluas jangkauan konsumen lintas wilayah, hingga mengamankan pesanan partai besar untuk acara hajatan keluarga.

"Alhamdulillah, melalui penjualan online dan offline ini, seluruh jajanan yang kami buat rutin habis dalam sehari," ujar Wida.

Nostalgia Masa Kecil

Bagi sebagian orang, jajanan ini menghadirkan nostalgia masa kecil. Bagi yang lain, kelezatan rasa dan keaslian bahan menjadi alasan untuk terus kembali. “Rasanya enggak pernah berubah, jadi kadang mengingatkan saat zaman-zaman dulu,” kata salah seorang warga Kota Mataram Fatmawati.

Menurut Fatmawati, jajanan tradisional hingga kini masih sangat relevan, karena mampu mempertahankan karakter rasa yang sederhana dan seimbang. Tak hanya dari segi rasa, Fatmawati juga melihat proses pembuatan jajanan tradisional, sebagai nilai yang perlu dipertahankan.

“Banyak yang sampai sekarang masih menggunakan cara lama meski sudah ada alat modern, karena hanya ingin mempertahankan rasa," ungkapnya. (fer/yun/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
pembeli Pedagang masyarakat jajanan tradisional kemasan