Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jajanan Tradisional Warisan Gastronomi dan Identitas Budaya, Pelestarian Tidak Cukup Hanya dengan Narasi

Suharli • Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:08 WIB
Muhir (DOK PRIBADI)
Muhir (DOK PRIBADI)

LombokPost - Jajanan tradisional masih tetap eksis meski digempur makanan modern. Hanya saja, untuk menikmati jajanan tersebut hanya terbatas. Persoalan itu menjadi perhatian serius. Sebab, jika jajanan itu tergerus warisan budaya itu pun lambat laun bisa punah. 

Pemerhati budaya Muhir mengatakan, jajanan tradisional merupakan warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, pengetahuan tradisional, dan identitas masyarakat Sasak.

Dari perspektif gastronomi, jajanan tradisional bukan sekadar makanan. Melainkan hasil cipta, rasa, dan karsa masyarakat yang lahir dari pemanfaatan sumber daya alam di sekitarnya. Hampir seluruh bahan bakunya berasal dari hasil alam yang mudah diperoleh masyarakat setempat.

Baca Juga: RM BTS Ditunjuk Sebagai Duta Global Museum Nasional Korea, Siap Bawa Warisan Budaya Negara Ginseng Mendunia

"Jajanan tradisional memiliki cerita sejarah di balik kemunculannya. Semua bahan diambil dari alam sekitar sebagai bentuk kearifan masyarakat Sasak dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia," kata Muhir.

Muhir menjelaskan, keberadaan jajanan tradisional perlu dipertahankan sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Artinya, menempatkan pengetahuan tradisional sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan. ”Karena itu, pelestarian jajanan tradisional tidak hanya menyangkut produknya, tetapi juga sumber daya manusia yang memiliki keterampilan membuatnya,” kata pria asli Lombok Timur (Lotim) itu.

Tentunya, lanjut Muhir, yang bertanggung jawab adalah masyarakat adat sebagai pemilik budaya. Ditambah dukungan juga dari pemerintah. ”Pemerintah memiliki peran penting melalui pembinaan, pengembangan, dan pemanfaatannya," ujarnya.

Baca Juga: Sastra Sasak Terancam Hilang, Akademisi Lombok Ubah Cerita Rakyat Jadi Drama Budaya untuk Selamatkan Warisan Leluhur

Menurutnya, perkembangan zaman sudah sedikit mendegradasi jajanan tradisional. Hal itu dikarenakan perkembangan masyarakat yang semakin mudah mengenal berbagai jenis makanan dari luar negeri. ”Kondisi tersebut secara perlahan mempengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda,” jelasnya.

Ia menilai, saat ini jajanan tradisional masih banyak dipertahankan oleh generasi yang lebih tua. Sedangkan generasi muda lebih akrab dengan makanan modern. Apalagi makanan itu populer di media sosial.

Akibatnya, jumlah masyarakat yang memiliki kemampuan membuat jajanan tradisional semakin berkurang. "Ini harus menjadi perhatian karena jajanan tradisional merupakan bukti peradaban masyarakat Sasak. Kalau tidak dijaga, lama-kelamaan akan kehilangan pelaku yang mampu membuatnya," ungkapnya.

Baca Juga: Jaga Warisan Budaya, Kemenkum NTB Dorong Perlindungan Kekayaan Intelektual Komunal di Lombok Tengah

Muhir menilai implementasi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan harus diwujudkan melalui kebijakan nyata di daerah. Salah satu indikatornya adalah hadirnya peraturan daerah yang mengatur pelestarian budaya, termasuk pangan tradisional. "Pelestarian tidak cukup hanya dengan narasi. Harus ada pendampingan, pembinaan, dan pemberdayaan agar masyarakat terus memproduksi serta mewariskan pengetahuan tradisional kepada generasi berikutnya," tegasnya.

Menurutnya, salah satu langkah yang dinilai efektif adalah mengintegrasikan materi mengenai budaya dan pangan tradisional ke dalam dunia pendidikan. Di beberapa daerah sudah ada sekolah yang memasukkan praktik membuat makanan tradisional sebagai bagian dari proses pembelajaran.

"Benih pelestarian itu harus ditanamkan sejak dunia pendidikan. Anak-anak perlu dikenalkan bagaimana membuat makanan tradisional sekaligus memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya," katanya.

Selain sebagai warisan budaya, jajanan tradisional juga memiliki potensi besar dalam mendukung sektor ekonomi dan pariwisata. Wisatawan yang datang ke Lombok sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap kuliner khas daerah. Namun, hingga kini belum tersedia sentra jajanan tradisional yang dapat menjadi destinasi wisata kuliner.

Sebagian besar wisatawan masih berbelanja di ritel modern. Karena itu, menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, Dinas Perdagangan, pelaku UMKM, dan industri pariwisata agar jajanan tradisional dapat dipasarkan di restoran maupun pusat perbelanjaan modern.

Muhir juga menilai Lombok dapat meniru keberhasilan Jogjakarta yang menjadikan bakpia sebagai oleh-oleh khas daerah. Dengan pengemasan, pemasaran, dan penguatan cerita sejarah di balik setiap produk, jajanan tradisional Sasak diyakini mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM. “Karena itu, pelestariannya harus menjadi tanggung jawab bersama," pungkasnya. (arl/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
warisan budaya pelestarian masyarakat Sasak jajanan tradisional