LombokPost - Jajanan tradisional menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. Untuk Pemkab Lombok Barat (Lobar) memperkuat sektor pariwisata yang terintegrasi dengan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Salah satu langkah konkret yang kini digencarkan adalah mendorong produk kuliner dan jajanan tradisional khas daerah agar mendapatkan ruang strategis di hotel-hotel berbintang serta jaringan ritel modern.
"Dalam sebuah paket wisata, ada akomodasi, destinasi, dan tentu saja kuliner. Kita tidak bisa memisahkan itu dari UMKM," ujar Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparekrafpora) Lobar Agus Gunawan.
Baca Juga: Bikin UMKM Banjir Rezeki, Ternyata Ini Rahasia Teras Udayana Jadi Ruang Publik Terfavorit di Mataram
Dia mengungkapkan, pariwisata dan kuliner merupakan dua hal yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Sebagai bentuk keberpihakan kepada perajin lokal, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini dikatakannya telah menginstruksikan agar setiap hotel di kawasan Lobar wajib mengadopsi minimal satu produk kuliner khas daerah. Kebijakan ini dinilai efektif untuk memperkenalkan kekayaan pangan lokal kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Meski demikian, Agus menekankan pentingnya proses kurasi sebelum produk pangan lokal tersebut dilempar ke pasar pariwisata maupun ritel modern. Kurasi ini mencakup aspek higienitas, kualitas rasa, hingga estetika kemasan.
Selain merambah hotel, jajanan tradisional juga dirancang untuk mengisi rak-rak di ritel modern. Langkah ini diharapkan dapat menjadikan jajanan tradisional sebagai pilihan paket oleh-oleh utama bagi para pelancong.
Baca Juga: Kemenkum NTB Permudah Legalitas UMKM, Kini Badan Hukum Bisa Diurus Online Mulai Rp50 Ribu
Pemkot Mataram Lakukan Pembinaan
Sementara, Pemkot Mataram memastikan jajanan lokal bermuatan kearifan lokal akan terus mendapatkan ruang dan perlindungan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM (Disperinkop UKM) Kota Mataram Jemmy Nelwan.
Menurutnya, inovasi resep dan pembuatan kue saat ini sangat variatif, sehingga kue modern maupun kue tradisional memiliki porsi pasar masing-masing yang tetap stabil. “Kue-kue tradisional itu kan kearifan lokal. Itu kita terus budayakan sehingga UKM-UKM yang berwirausaha ada juga yang membuat kue-kue tradisional. Jadi tidak tergerus,” ujar Jemmy, Jumat (10/7).
Untuk mendukung keberlanjutan usaha para perajin kuliner lokal tersebut, Disperinkop UKM Kota Mataram menjalankan program pembinaan terpadu yang menyasar masyarakat yang ingin berwirausaha. Langkah ini selaras dengan visi misi Wali Kota Mataram dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dan peningkatan daya saing daerah.
Selain penguatan dari sisi produksi dan kapasitas SDM pelaku UMKM, Pemkot Mataram juga menerapkan kebijakan proteksi pasar dengan mewajibkan penggunaan jajanan tradisional dalam setiap kegiatan formal publik.
"Misi Pak Wali Kota yaitu kemandirian ekonomi dan daya saing. Jadi mereka itu harus mengerti untuk berwirausaha kita harus ada ilmu yang didapat, kemudian berwirausaha itu semua ada alat yang kita peroleh. Maka Disperinkop sebagai pemangku daripada UKM se-Kota Mataram memberikan pelatihan dan peralatan kepada mereka yang mau berwirausaha," tambahnya.
Jemmy menyebutkan, budaya menyajikan kuliner lokal ini sudah diterapkan secara konsisten di internal pemerintahan, mulai dari sajian rapat hingga agenda-agenda kegiatan resmi berskala besar yang diselenggarakan di wilayah Kota Mataram.
“Kita sudah budayakan sih, seperti di rapat-rapat, kemudian di acara-acara event di Kota Mataram, salah satunya kita juga menyiapkan kuliner kue-kue tradisional," pungkasnya. (ton/chi/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post