LombokPost - Berbeda dengan Latief.
Habibi lebih memilih keris sebagai barang antik koleksinya.
Baginya, keris bukan sekadar senjata pusaka.
“Ia adalah simbol status sosial, karya seni, sekaligus gaya hidup,” ungkap Habibi, yang kini tercatat sebagai anggota Bidang Organisasi dan Keanggotaan Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) pada Lombok Post, Jumat (22/8).
Ia menyebut dirinya bukan kolektor “besar”.
Ia lebih nyaman dengan istilah alih rawat, meneruskan perawatan pusaka dari pemilik sebelumnya.
“Kalau disebut kolektor itu terlalu berat, karena butuh modal besar,” ucapnya sembari tersenyum.
Ia mengungkapkan secara pribadi hanya punya puluhan.
Sedangkan adik kandungnya pemilik galeri itu, koleksinya ratusan, lengkap dengan pedang, tombak.
“Sampai pusaka dari seluruh penjuru Nusantara,” ujarnya.
Di kalangan kolektor, jual beli keris kerap berlangsung diam-diam, tapi bernilai fantastis.
Ada yang menukar keris dengan motor, bahkan mobil.
“Banyak kolektor yang dengan bangga menukar keris dengan mobil baru, ini terjadi di Mataram, itu sudah biasa,” ujar Habibi.
Menurutnya, keris adalah aset sekaligus investasi.
Tak ada harga baku. Nilainya tergantung sejarah, bahan, hingga kelangkaan.
“Ada yang murah Rp 1 juta, ada juga yang setara rumah, semua tergantung kualitas bilah, warangka, dan cerita yang melekat di dalamnya,” ujarnya.
Habibi menilai keris kini menempati ruang yang sama dengan barang-barang mewah lain.
Ia bukan sekadar hobi, melainkan identitas.
“Dari dulu status sosial itu tidak berubah, hanya eranya yang berubah,” ucapnya.
Kalau dulu bangsawan memakai keris untuk menunjukkan wibawa.
“Sekarang orang modern memakainya di acara budaya untuk menunjukkan kelas,” jelasnya.
Bahkan beberapa pejabat, menurut Habibi, adalah kolektor serius.
Ia menyebut mantan Wali Kota Mataram Ahyar Abduh, juga sejumlah pejabat daerah lain.
“Mereka menyimpannya dengan eksklusif, bukan untuk pamer, tapi untuk kebanggaan dan juga sebagai bagian dari budaya,” katanya.
Keris, dalam pandangan Habibi, adalah gaya hidup yang bukan glamor melainkan berwibawa.
“Keris itu hanya dimiliki kalangan menengah ke atas,” ucapnya.
Butuh modal besar untuk memilikinya.
Kalau ada yang kerisnya dihias emas, itu pasti orang kaya.
“Status sosialnya langsung terbaca,” tegasnya.
Habibi optimistis keris tidak akan lekang oleh zaman.
“Hobi ini selalu menemukan jalannya,” ucapnya.
Sama seperti fashion, orang mencari pengakuan sosial.
Bedanya, keris punya nilai sejarah, nilai budaya, bahkan nilai spiritual.
“Itu yang membuatnya unik dan tak tergantikan,” tutupnya. (zad/r3)
Editor : Kimda Farida