SEBELUM menakhodai RRI Mataram, Yanto Prawironegoro mengawali karier sebagai seorang reporter bola. "Saya berasal dari reporter bola," tuturnya.
Beberapa penyiar radio menginspirasinya. Membentuk karakter suara saat melakukan siaran reportase. "Syamsul Muin Harahap, Edi Sihombing, dan Sazli Rais, semuanya tokoh yang menginspirasi saya," ungkapnya.
Mereka tokoh legendaris yang menjadi sesepuh RRI. Mereka pula yang sukses membangun karakter RRI sehingga publik mengenal RRI sebagai stasiun yang maskulin.
"Saat melamar pekerjaan, saya membawa satu rekaman kaset saya," kisahnya.
Di dalam kaset berbentuk kotak dengan pita suara berwarna coklat, terekam suaranya. "Lalu saya titip ke salah satu bidang pemberitaan," tuturnya.
Tapi Yanto belum diterima. Suara yang telah dilatihnya susah payah, belum cukup menjadi syarat bergabung di RRI kala itu. Anak kampung dari salah satu sudut ibu kota Jakarta itu diminta menyelesaikan pendidikan gurunya.
"Karena dulu saya sekolah di SPG," kisahnya.
Mimpi menjadi penyiar harus dipendam selama menempuh pendidikan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Barulah sekitar tahun 1986, cita-cita bergabung dengan RRI tercapai.
"Saya diangkat menjadi CPNS, terus masuk bagian administrasi. Tetapi padi setahun 1992 saya baru bisa menjadi reporter," kenangnya.
Apa yang diraih Yanto saat ini tidak instan dan gampang. Ia harus sabar menunggu sampai pendidikan selesai sekitar 1986. Setelahnya, kembali harus bersabar. Dan baru 1992 mendapat tugas sebagai reporter.
"Baru saya bisa siaran. Tentu saya bangga sekali, orang di kampung juga ikut bangga," kenangnya.
Tugas reportase yang paling istimewa ketika menyiarkan pebulu tangkis tunggal putri, nomor satu dunia Susi Susanti, bermain di National Indoor Arena, Birmingham, Inggris. Ini menjadi episode paling membanggakan dalam hidupnya. Yanto menyiarkan kesuksesan Susi Susanti keluar menjadi yang terbaik di dunia lagi.
"Kalau Asean Games event yang nyaris selalu dapat tugas menyiarkan," ujarnya.
Pencapaian luar biasa. Seorang anak kampung yang lahir di sengitnya persaingan hidup ibu kota. Ia dipercaya mewakili jutaan mata dan telinga masyarakat yang setia mendengar RRI. Tapi, kala itu.
Yanto mengatakan, syarat utama jadi reporter bola, pertama harus banyak referensi. Kedua, pandai berimprovisasi. Dua hal wajib dimiliki penyair sebelum menyentuh mic RRI yang sakral itu.
"Kemampuan (jadi reporter) saya dapat secara otodidak. Saya belajar sistem permainan, jenis pukulan, pokoknya yang terkait dengan pertandingan kita pelajari. Sampai ukuran lapangan pun harus diketahui," ujarnya.
Referensi itu diperlukan untuk bisa membuat Yanto terus bicara. Tanpa henti. Berjam-jam hingga pertandingan tuntas.
"Saya pelajari semua seperti, jenis shuttlecock dan tinggi net, kemudian jangkauan pemain, hingga profil pemain semua harus lengkap," bebernya.
Refrensi menjadi modal penting membangun teather of mind di alam pikiran pendengar. "Kalau lupa atau sedang istirahat, maka yang penting berikutnya adalah kemampuan berimprovisasi," ulasnya.
Ingat, Yanto harus terus bicara. Berjam-jam. Termasuk saat rehat pertandingan.
Tidak boleh ada yang kosong. "Jangan sampai penonton mendengar ada sesi waktu kosong yang lama. Mereka bisa bosan dan menganggap penyiarnya tidak profesional," tekannya.
RRI pernah menyiarkan pertandingan piala dunia pada tahun 2018 di Moscow, Rusia. Namun siaran itu melalui studio RRI di Jakarta.
Para penyair tidak terjun langsung ke lapangan. Tetapi, menonton siaran langsung dari televisi. Maka untuk mengesankan siaran langsung dari Rusia, RRI mendapatkan backsound. Backsound itu menimbulkan efek suara di tengah hujan salju.
"Referensi sekitar kota di mana stadion akan melangsungkan pertandingan juga kami riset, berapa kapasitas stadion, jumlah tempat duduk, hingga cuaca terkini," ungkapnya.
Masih tentang improvisasi, Yanto menceritakan pengalaman lucu seorang teman ketika menyiarkan pertandingan bola. Pertandingan itu disiarkan langsung sah satu stasiun televisi swasta nasional.
Sekitar setengah jam kemudian, terjadi gol. "Dalam reportasenya, penyiar menyampaikan skornya satu kosong," kisahnya.
Tetapi belum lagi penyiar selesai bercerita euforia penonton, bola terlihat masuk lagi ke gawang. "Gol! Teman itu sontak teriak dan mengabarkan telah terjadi gol kedua," jelasnya.
Tetapi kemudian pandangannya tertuju pada papan skor yang tak berubah. "Dia pun kebingungan kenapa skor tidak bertambah," ujarnya.
Sesaat kemudian ia pun sadar. Gol yang kedua bukan gol. Tetapi tayangan ulang gol pertama.
Penyiar itu kelabakan. Tetapi cepat mengendalikan diri, melakukan improvisasi, yang membuatnya terhindar dari rasa malu.
"Mengutip siaran dari televisi memang penuh tantangan, tidak hanya tayangan ulang berbagai momen penting dari gol, free kick, pelanggaran, yang menuntut penyiar radio harus serius menyaksikan tayangan bola," pungkasnya. (*)
Editor : Redaksi Lombok Post