LombokPost--Ketua Komisi 1 DPRD Kota Mataram Ismul Hidayat meminta PT Air Minum Giri Menang (AMGM) memberikan kontribusi yang lebih konkret terhadap masyarakat melalui program Corporate Sosial Responsibilty (CSR). Selama ini, perusahaan yang memonopoli penyaluran air bersih di Kota Mataram tersebut kontribusinya dinilai masih receh.
“Misalnya apa, kita di Kota Mataram saat ini persoalan utamanya adalah sampah,” katanya, Selasa (2/4).
Program CSR-nya dapat diarahkan ke sektor yang lebih dibutuhkan masyarakat. Salah satunya pengadaan motor roda tiga untuk mengangkut sampah.
“Kita tidak bahas, tentang retribusi konsumen Rp 5.000 di kota yang mencapai 6 ribu pelanggan, kalau itu jelas hitungannya,” tekannya.
Pihaknya menuntut PT AMGM berbuat untuk masyarakat dari pendapatan hasil penyaluran air bersih. “Misalnya arahkan CSR ke penanganan sampah tahun ini,” ujarnya.
Politisi PKS ini mengatakan, keterlibatan dunia usaha dalam penanganan sampah wajib dilibatkan. Berkaca dari daerah-daerah yang relatif dinilai sukses dalam pengelolaan sampah.
“Penanganan sampah jangan hanya dibebankan pada pemerintah dan masyarakat saja, tetapi dunia usaha juga harus terlibat,” tegasnya.
Ia mencontohkan seperti yang dilakukan Bank NTB sebagai bank daerah yang telah melibatkan diri dalam penanganan sampah. “Mereka beli mobil pick up untuk pengangkut sampah, nah seperti itu maksud kami,” ujarnya.
Sebagai perusahaan daerah, PT AMGM jangan hanya menuntut penyertaan modal yang besar. Tetapi kecil dalam memberikan kontribusi pada masyarakat.
“Kalau bicara konsumen, jangan lupa pelanggan terbesarnya kan dari warga kota,” tekannya.
Intervensi program CSR PT AMGM sangat dibutuhkan untuk pengadaan motor roda tiga. Kondisi motor pengangkut sampah di 325 lingkungan rata-rata sudah tidak layak pakai lagi.
“Motor roda tiga yang dipakai saat ini oleh lingkungan adalah hasil program lima tahun yang lalu, jadi kondisinya banyak yang tidak layak pakai,” paparnya.
PT AMGM menurutnya dapat mengambil peran strategis. Entah dengan menyumbangkan motor roda tiga atau jenis kendaraan pengangkut lainnya. “Jadi kontribusinya harus konkret,” tegasnya.
Ismul menilai PT AMGM mampu secara signifikan membantu penanganan sampah di kota. “Apalagi kalau melihat keuntungan bersih yang didapat mereka mencapai Rp 40 miliar,” bebernya.
Proses mengarahkan program ini ke penanganan sampah juga dinilai lebih mudah dibanding perusahaan yang berstatus usaha ritel. “Kalau ritel kan keputusannya ada di pusat, tapi kalau perusda, saya kira bisa dibicarakan antara direktur dengan kepala daerah, ya bisa selesai,” pungkasnya. (zad)
Editor : Hidayatul Wathoni