LombokPost-Rilisnya film Jangan ke Lombok, Nanti Nggak Mau Pulang melambungkan nama Dwi di produksi perfilman daerah.
Ketiadaan bioskop di tahun 2015 silam, tak menghalangi minat banyak orang menontonnya di sebuah gedung yang didesain serupa ruangan teather.
Tahun 2015, film Jangan ke Lombok, Nanti Nggak Mau Pulang rilis.
Publik banyak membincangkan film tersebut seperti halnya film Perempuan Sasak Terakhir.
Di balik kesuksesan film tersebut, tantangan yang dihadapi Dwi dan kawan-kawan tidak mudah. Berpacu dengan deadline dan listrik yang tidak stabil, beberapa romantika pembuatan film.
“Itu salah satu pengalaman yang tidak terlupakan,” kenangnya.
Ide awal film tersebut adalah film pendek. Dwi mengerjakan proyek ini bersama empat orang rekannya.
“Heri, Ivan, Wahyu, dan Rian,” kisahnya.
Setiap episode pembuatan film, Dwi dan kawan-kawan secara rutin menggambarkan progresnya melalui media sosial Twitter (sekarang: X).
“Saat itu sedang zamannya twitter,” kisahnya.
Berbekal pengalaman bekerja di studio foto, Dwi menghimpun scene demi scene gambar untuk dijahit menjadi sebuah film.
Mereka tak lupa mengambil foto setiap momen pengambilan gambar untuk diupload ke sosial media twitter.
Tak disangka, foto yang diupload itu menarik perhatian banyak orang.
Di antaranya, ada yang tertarik menyeponsori proyek itu.
“Saat itu foto kami di mention Info Lombok, sejak itu banyak sekali yang mengubungi kami dan bersedia menyeponsori,” tuturnya.
Dwi dan kawan-kawan sempat dibuat berpikir keras. Sponsor mengingkan agar film itu dibuat panjang.
“Jujur saja, saat itu kami terbilang pemula dalam memproduksi film. Itu yang membuat kami berpikir keras karena ini menyangkut ekspektasi pihak sponsor atas karya kami. Setelah berdiskusi, kami putuskan mengambil tantangan itu,” ucapnya.
Tim yang awalnya hanya empat orang, ditambah menjadi 10 orang.
“Lucunya, di antara kami tidak ada yang paham teknis (pembuatan) film,” celetuknya.
Teknis yang dimaksud yakni untuk penggarapan film profesional.
Sebab, kalau film amatir, Dwi menyebut itu sebagai film ketiganya.
“Jadi kami produksi, sambil belajar,” ujarnya.
Tantangan sudah diterima. Donatur siap membiayai produksi.
“Jadi kami harus memberikan hasil yang terbaik,” tekannya.
Dwi dan rekan-rekannya menghabiskan waktu sekitar satu tahun untuk menyelesaikan pengambilan gambar dan proses editing.
Di tengah kerja keras itu, mereka harus dihadapkan kondisi listrik yang belum stabil.
“Di tahun itu masih sering mati lampu,” ucapnya.
Suatu ketika, Dwi dan rekan-rekannya tengah berpacu dengan deadline dari pihak sponsor.
Mereka harus menyelesaikan segera film itu, mengingat pihak sponsor telah menentukan jadwal film diputar.
“Ketika sedang ngedit (video), tiba-tiba mati lampu. Matinya memang nggak lama, semenit dua menit, hidup lagi. Berulang-ulang,” ucapnya.
Puncak emosi Dwi terjadi saat lampu mati dan ketika PC dihidupkan lagi, file film mengalami masalah.
“Tidak bisa dibuka. Filenya error,” ucapnya.
Pikirkan Dwi kalut. Mau tidak mau, ia harus memulai ulang pekerjaan dari awal.
“Saya cabut CPU komputer, kemudian bawa ke luar. Tadinya saya mau bawa ke depan kantor PLN, tapi teman-teman mengejar dan meminta saya kembali,” kisahnya, sambil tersenyum mengenang peristiwa itu.
Tapi, jerih payah Dwi dan rekan-rekannya akhirnya terbayar.
Satu tahun berlalu dan deadline film sesuai pesanan sponsor bisa dituntasksn dengan baik.
“Saat itu belum ada bioskop di Lombok. Film ini diputar di sebuah gedung di kawasan Jempong. Film juga diputar di hotel,” ucapnya.
Karya Dwi dan rekan-rekannya mendapat apresiasi dari banyak pemerhati film lokal.
Lebih dari itu, film juga mendapat atensi banyak penonton luar daerah.
“Itu menjadi karya kami yang pertama mendapat atensi dan apresiasi banyak orang,” ucapnya. (Bersambung/r3)
Editor : Kimda Farida