Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hujan Datang, Banjir Mengancam Kawasan Batu Ringgit Mataram

Galih Mega Putra S • Rabu, 31 Juli 2024 | 14:15 WIB
HINDARI BANJIR: Sejumlah petugas mengangkut sampah di selokan yang berada di Dasan Cermen, Kota Mataram, kemarin (30/7).(HARLI/LOMBOK POST)
HINDARI BANJIR: Sejumlah petugas mengangkut sampah di selokan yang berada di Dasan Cermen, Kota Mataram, kemarin (30/7).(HARLI/LOMBOK POST)

LombokPost-Hujan dengan intensitas sedang sempat mengguyur Mataram, Selasa (30/7).

Melihat kondisi cuaca itu, tim dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram pun siaga.

Mereka turun melihat semua kondisi sungai.

Termasuk Sungai Brenyok dan Unus yang masih dikhawatirkan bisa merendam rumah warga di kawasan hilir.

”Kalau debit air sih masih aman. Tetapi kami tetap stand by,” kata Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning.

Belajar dari banjir yang merendam kawasan Sekarbela Rabu (3/7) lalu, Lale tak mau kecolongan lagi.

Ancaman banjir kini diantisipasi lebih dini.

Ketinggian debit air di semua sungai dipantau.

”Jika air sungai naik mencapai 90 sentimeter, sudah pasti akan terjadi banjir. Tetapi, kita lihat tadi masih di posisi aman,” ujarnya.

Di wilayah yang dialiri sungai Brenyok dan Unus, potensi banjirnya cukup tinggi. Terutama di wilayah Baturinggit, Sekarbela.

”Di kawasan Batu Ringgit terdapat pertemuan dua sungai itu,” jelasnya.

Sehingga langkah yang dilakukan adalah melakukan sedimentasi. Termasuk juga memperbaiki talud sungai.

”Semua sudah kita kerjakan,” ujarnya.

Penanganan dua sungai tersebut untuk mengantisipasi banjir tidak hanya harus dilakukan Pemkot Mataram.

Karena, sumber aliran air yang berada di hulu masuk wilayah Lombok Barat (Lobar).

”Walau pun di Kota Mataram tidak hujan, lalu di kawasan Lombok Barat bagian Sesaot dan Narmada hujan lebat, debit air dua sungai itu pasti akan tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, harus melibatkan semua pihak. Termasuk juga Pemkab Lobar.

”Kami sudah mengundang Balai Wilayah Sungai dan SDA membahas mengenai persoalan itu,” jelasnya.

Dari hasil pertemuan, BWS akan turun mengkaji persoalan itu. Mencari solusi terbaik atas persoalan banjir.

”Untuk sementara ini yang kita lakukan pencegahan sementara. Yakni dengan lakukan sedimentasi dan membersihkan sampah yang menyumbat aliran sungai,” tegasnya.

Sampah menjadi persoalan klasik yang sampai sekarang belum bisa ditangani. Masih banyak masyarakat yang belum sadar akibat dari membuang sampah ke sungai.

”Kalau masih belum ada kesadaran masyarakat, ya pasti banjir akan terus mengancam,” ungkapnya.

Tidak hanya di sungai. Di saluran pun masih banyak ditemukan sampah. Misalnya saja di saluran dekat kantor imigrasi.

”Semua rata-rata kalau hujan datang sampah sungai pasti menumpuk,” kata dia. (arl/r3) 

Editor : Kimda Farida
#Mataram #PUPR