LombokPost-Ribuan warga tumpah ruah memadati pantai Pondok Prasi, Ampenan, Kota Mataram.
Mereka tidak hanya warga Kota Mataram tetapi datang dari berbagai tempat di Lombok hingga Bali.
Kedatangan warga tersebut untuk menyaksikan Lomba Perahu Layar yang dikemas dalam Festival Kampung Nelayan Pondok Prasi 2024.
Festival ini merupakan event yang kedua kalinya, setelah di tahun 2023 lalu sukses digelar.
“Ini event yang luar biasa, ribuan warga datang dari berbagai tempat untuk mengikuti seluruh rangkaian acaranya,” ucap Asisten 1 Setda Kota Mataram Lalu Martawang takjub, Minggu (18/8).
Pria yang beken disapa Aweng ini, tak segan melontarkan pujiannya atas kemeriahan acara.
Ia melihat, event tersebut berpotensi menjadi acara lebih besar lagi yang dapat meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi warga pesisir pantai.
“Ini acara sejenis pesta rakyat,” ucapnya.
Sekalipun kegiatan itu diinisiasi oleh warga yang notabene remaja namun mampu menarik antusias warga yang besar.
Sejak pagi, kawasan pantai telah dipadati pengunjung yang datang dari berbagai tempat.
“Meskipun sangat ramai, warga berinteraksi dengan guyub, menikmati kebahagiaan secara bersama-sama,” paparnya.
Event ini juga berkontribusi memeriahkan momen-momen bersejarah HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus dan HUT Kota Mataram ke 31.
“Saya kira kegiatan ini sangat penting untuk terus dikesinambungkan ke depan dengan nilai tambah yang terus ditingkatkan,” harap Aweng yang menjelaskan kehadirannya mewakili wali kota.
Tidak hanya pariwisata yang meningkat, tetapi sektor ekonomi juga hidup.
“Tadi (kemarin, Red) saya lihat juga seperti pelaku UMKM masyarakat turut meramaikan dan mendapatkan manfaat dari kegiatan ini,” paparnya.
Aweng berharap, ke depan kegiatan ini dapat menjadi atensi dinas pariwisata.
“Masuk dalam kalender event pariwisata,” ucapnya.
Event itu sukses dalam mempersatukan semua kelompok masyarakat.
Terutama untuk bersama-sama memeriahkan acara yang digelar di pinggir pantai.
“Dan saya tadi mendapat informasi, ternyata yang ikut lomba tidak hanya dari (nelayan) Kota Mataram tetapi ada juga dari Lombok Utara, Lombok Barat, hingga Bali,” katanya.
Aweng kembali menegaskan, acara tersebut sangat potensial dan produktif dalam meningkatkan pariwisata dan ekonomi masyarakat.
“Ada dukungan dari dinas perikanan dan juga tidak lepas dari dukungan Bu Nyayu (Ernawati) sebagai pembina di sini,” katanya.
Kegiatan ini, diinisiasi pemuda yang tergabung dalam Kumpulan Remaja Masjid Baitul Islam (Kurma-Baim) Pondok Prasi.
Mereka bersama tokoh masyarakat setempat, telah menyiapkan segala sesuatunya secara swadaya menyukseskan acara.
Dewan Pembina Kurma Baim Pondok Prasi Nyayu Ernawati mengungkapkan kesyukurannya dapat terlibat menyukseskan acara luar biasa tersebut.
“Saya melihat anak-anak remajanya punya kreativitas, inisatif, dan semangat kerja yang tinggi, sehingga acara ini dapat terselenggara dengan luar biasa,” paparnya.
Sekalipun event digelar sekumpulan remaja di kampung, namun gemanya hingga provinsi Bali.
Nelayan asal Lombok Barat dan Lombok Utara juga punya ‘kontingen’ yang ikut lomba.
“Alhamdulillah, ini kegiatan positif,” paparnya.
Nyayu melihat event ini mendapat dukungan dari semua kelompok masyarakat. Meramaikan kegiatan ini sebagai tradisi dan juga budaya.
Camat Ampenan Muzakir Wallad, turut memberikan dukungan dan supportnya pada acara tersebut.
Ia turut langsung menyaksikan kemeriahan dan ramianya warga yang tumpah ruah di sepanjang pantai Pondok Prasi.
“Sekalipun zaman telah berubah alat dayung berganti mesin kentinting, tapi substansi alatnya tetap sama yakni perahu layar, jadi saya kira ini bagian dari cara menjaga tradisi,” ucapnya.
Acara itu telah berhasil menarik wistaswan domestik hingga mancanegara.
Beberapa bule ikut membaur dalam euforia festival.
“Ini potensi lokal perlu terus kita ekspose ke luar supaya semakin meriah,” ucapnya.
Warga telah merencanakan acara ini jauh hari. Termasuk menentukan ‘hari baiknya’ dengan mempertimbangkan cuaca.
“Tadi mereka sempat menyampaikan harapannya agar pemerintah dapat terlibat lebih besar lagi mendukung acara, misalnya melalui tambahan hadiah, membantu promosi acara dan lain-lain,” paparnya.
Muzakir yakin jika masyarakat dan pemerintah berkolaborasi maka event ini berpeluang menjadi kegiatan setara nasional.
“Seperti lomba perahu layar yang terkenal di Sulawesi,” paparnya.
Lomba ini juga dapat menjadi sarana mempertahankan tradisi dan predikat sebagai bangsa pelaut.
“Banyak sekali yang terlibat menyukseskan kegiatan ini, kami (kecamatan, Red), pihak kelurahan, support juga dari bunda Nyayu, dan banyak lagi yang lain,” paparnya.
Pengarah Festival Kampung Nelayan Mutammimul Ula atau Tommy mengatakan acara ini digelar secara swadaya dan mendapat dukungan banyak sejumlah pihak.
“Kami berharap di tahun depan, keterlibatan pemerintah bisa lebih besar lagi. Misalnya dari dinas pariwisata,” sebutnya.
Total yang ikut berlomba sebanyak 50 peserta.
“Lima peserta di antaranya berasal dari Bali,” jelasnya.
Peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 150 ribu.
Mereka yang keluar sebagai juara I berhak membawa pulang sepeda motor listrik, juara II kulkas, dan juara III mesin cuci.
“Rute lombanya dari pinggir kemudian berpacu ke tengah, lalu ke samping, bergerak ke selatan, dengan rute zig-zag. Sangat seru,” pungkasnya. (zad/r3)
Editor : Kimda Farida