Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Nyamuk DBD "Bersarang" di Kopajali, Dokter Emirald: Fogging Langkah Terakhir

nur cahaya • Selasa, 12 November 2024 | 11:07 WIB

 

ANTISIPASI DBD: Sejumlah warga membersihkan sampah yang diduga dijadikan sebagai tempat sarang nyamuk DBD di kawasan Pagesangan, beberapa waktu lalu.
ANTISIPASI DBD: Sejumlah warga membersihkan sampah yang diduga dijadikan sebagai tempat sarang nyamuk DBD di kawasan Pagesangan, beberapa waktu lalu.

LombokPost-Musim hujan tiba. Kasus demam berdarah dengue (DBD) mengancam. Terbukti sejak akhir Oktober kasus DBD di Kota Mataram meningkat.

“Meningkat tetapi tidak signifikan. Tidak seperti peningkatan nasional yang meningkat tiga kali lipat kasus DBD. Penambahannya ada 10 kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram dr Emirald Isfihan.

Terakhir, kasus ditemukan di BTN Kopajali, Mataram.

Dari pemetaan tim ke lingkungan tersebut terdapat beberapa rumah yang menjadi sarang jentik nyamuk DBD.

”Jadi, di situ (BTN Kopajali) ada sebanyak 20 rumah. Dari sekian banyak rumah 14 rumah menjadi sarang jentik nyamuk,” ujarnya.

Dari peristiwa itu dapat menjadi pelajaran. Ketika musim hujan datang harus rajin membersihkan kawasan rumahnya.

”Jangan ada sampah botol atau plastik yang terdapat genangan air. Hal itu berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk DBD,” terangnya.

Jika ada kolam yang mengakibatkan genangan, seharusnya dikuras. Bisa dicampurkan dengan abate.

Abate adalah pestisida berbentuk bubuk atau cair yang digunakan untuk membasmi larva nyamuk pembawa DBD.

”Abate bisa didapatkan di kantor atau puskesmas secara gratis. Bisa dimaksimalkan untuk itu,” ujarnya.

Di rumah-rumah juga memiliki banyak pot bunga. Terkadang itu luput dari pembersihan pemiliknya.

“Hal itu rentan menjadi kubangan air. Kondisi itu dapat berpotensi untuk memunculkan jentik nyamuk,” kata dia.

Berdasarkan data, secara akumulatif dari Januari hingga memasuki pertengahan November ini, DBD sudah mencapai 500 kasus. Potensi peningkatannya masih ada.

”Kami tidak bisa bergerak sendiri. Harus bersama masyarakat,” ujarnya.

Langkah untuk menekan DBD, Dikes sudah meminta seluruh jajaran di puskesmas bekerjasama dengan lurah dan kepala lingkungan.

”Rutin melakukan kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk),” terangnya.

Setiap hujan datang, mereka harus blusukan ke lingkungan-lingkungan. Mengajak seluruh masyarakat untuk turut membersihkan rumahnya.

“Itu cara yang paling ampuh untuk menekan perkembangbiakan nyamuk DBD,” kata Emirald.

Mantan Wakil Direktur RSUD Kota Mataram itu mengungkapkan, fogging merupakan cara terakhir. Sebab, jangkauannya tidak terlalu meluas.

”Kalau fogging itu hanya bisa membunuh nyamuk dewasa. Tidak bisa membasmi jentiknya,” jelasnya.

Nyamuk itu juga jangkauannya luas. Bisa terbang hingga 100 meter.

”Tentu, nyamuk itu juga bisa menghindari fogging,” ujarnya.

Sistem fogging juga berdampak mencemari lingkungan. Menimbulkan penyakit lain. Seperti asma dan gangguan pernapasan lain.

”Sebab, itu menggunakan bahan kimia. Itu kan menggunakan solar. Menyebabkan iritasi gangguan nafas,” bebernya. (arl/r3) 

Editor : Kimda Farida
#DBD #nyamuk #pemetaan #PSN #Demam Berdarah #lingkungan