Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jembatan Kuning Remora: Janji yang Dilunasi, Warga Ucapkan Terima Kasih pada Wali Kota Mataram

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 5 Desember 2024 | 09:20 WIB

 

KOKOH DAN AMAN: Sahab (celana pendek) dan Adi (celana panjang) memberikan jempol untuk pengerjaan jembatan Remora, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Selasa (3/12)
KOKOH DAN AMAN: Sahab (celana pendek) dan Adi (celana panjang) memberikan jempol untuk pengerjaan jembatan Remora, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Selasa (3/12)

LombokPost--Mata Surip Ahmadi berkaca-kaca. Senyumnya mengembang.

Dadanya membusung dengan punggung yang tegak.

Isyarat tubuh yang menggambarkan hati yang penuh.

“Kami, kami sangat bersyukur dan terharu,” ucapnya terbata-bata, Selasa (3/11).

Sinar matanya berbinar-binar. Tangannya menjabat erat koran ini.

Adi, begitu ia akrab disapa berupaya menceritakan suasana hatinya.

Namun keterbatasan kata-kata, membuatnya malah terbata-bata.

“Terima kasih pak Wali (Kota), terima kasih, wah ini sangat luar biasa,” imbuhnya dengan senyum dan tawa bahagia.

Jembatan besi berwarna kuning yang membentang di depan kampungnya adalah sumber kebahagiaan yang diceritakan Adi.

Kini, jembatan itu sarana melintas yang aman bagi ia, anak, istri, dan warga lain yang tinggal di kampung kecil tersebut.

Kampung ini bernama Remora. Terletak di Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Disebut kampung kecil karena didiami belasan orang.

Sebenarnya kampung itu bagian dari RT yang cukup luas.

Namun warga yang tinggal di tempat tersebut, terisolir sungai di sisi Utara dan tembok tinggi di sisi lain.

Jembatan itu menjadi satu-satunya pembuka isolasi kehidupan mereka ke luar.

Jembatan itu baru beroperasi sekitar seminggu. Tetapi mampu meluruhkan beban pikirkan yang berkelindan lima belas tahun lebih lamanya di benak warga.

Jembatan besi itu menggantikan peran jembatan reyot yang memperihatinkan sebelumnya.

Sebelumnya, jembatan kayu yang dibuat warga secara swadaya telah belasan kali diperbaiki, bahkan pernah juga terseret arus sungai yang deras.

“Belasan kali, setiap tahun harus diperbaiki karena lapuk,” timpal warga lainnya, Sahabudin.

Adi dan Sahab mengacungi jempol respons cepat pemerintah memperbaiki jembatan tersebut.

Respons dihitung sejak koran ini mengangkat kondisi jembatan kayu Remora pada 25 Maret 2024 lalu dengan judul: Lima Belas Tahun, Tanpa Perubahan Apapun.

“Terima kasih, respons (pemerintah) sangat cepat, nggak ada satu tahun ditanggapi dengan serius,” ucap Adi lagi masih dengan senyum lebar.

 Baca Juga: Disdik Mataram Berharap Makan Gratis Diberikan Pagi Hari

Sederhana tapi Simbol Pemerataan Pembangunan

Sebenarnya, jembatan kuning Remora hanya jembatan besi biasa. Anggaran yang dihabiskan untuk pembuatannya sekitar Rp 200 juta. 

Jembatan ini menjadi sangat bermakna karena fungsinya yang vital.

Jembatan itu menjadi satu-satunya jalan untuk membuka akses warga ke luar.

Di balik kesederhanaan jembatan, terkandung pesan pemerataan pembangunan yang dicanangkan pemerintah saat ini.

Seperti yang diceritakan warga, jembatan itu baru terwujud setelah 15 tahun lebih lamanya.

“Bahkan lebih (dari 15 tahun),” ucap Adi.

Di balik tampilan sederhana jembatan besi itu, belasan warga di kampung kecil Remora akhirnya bisa menikmati makna sesungguhnya pemerataan pembangunan di ibu kota.

“Akhirnya kami terbebas setelah belasan tahun (dirundung perasaan khawatir),” ucapnya haru.

Jembatan kayu sebelumnya bagaikan ironi bagi Mataram yang berpredikat kota.

Kebanggaan pada pembangunan, pendidikan, hingga investasi runtuh karena ada belasan warganya kesulitan menyebrang sungai yang mengolasi kampungnya.

Bagi Adi, jembatan itu juga adalah simbol pembebasan ekonomi.

“Anggaran swadaya (untuk memperbaiki jembatan setiap tahun), kini bisa kami gunakan untuk kebutuhan keluarga kami,” ucapnya senang.

Di atas jembatan itu, anak-anak mereka yang akan pergi sekolah bisa melintas dengan aman dan tenang.

Termasuk saat musim hujan seperti sekarang di mana arus sungai semakin besar dan berbahaya.

“Bawa gerobak (usaha) juga lancar,” imbuhnya lagi. 

Jembatan itu melampaui ekspektasi Adi, Sahab, dan warga lainnya. Tadinya bantuan lonjoran besi saja sudah cukup bagi mereka.

“Kami tak berharap muluk-muluk, tapi pemerintah membangunkan jembatan yang lebih baik, lebih kokoh, lebih awet. Kami sekarang tidak lagi was-was melintas,” ucapnya dengan nada riang.

Jembatan Kayu, Tinggal Kenangan

Sahab adalah salah satu warga yang pertama kali tinggal di lahan terisolir itu.

Namun baru kali ini merasakan kemerdekaan dalam arti bisa tenang dan nyaman melintas di atas jembatan tanpa merasa waswas. 

“Saya pernah jatuh dan ikut hanyut karena jembatan kayu tiba-tiba ambruk. Jembatan tidak kuat menahan arus sungai. Saat terjatuh itu, saya sedang memperbaiki jembatan,” kenangnya. 

Peristiwa itu nyaris merenggut nyawanya.

Ia sempat kesulitan berenang selain karena arus sungai yang deras, juga material kayu jembatan menindih badannya hingga sulit keluar dari dalam air.

“Untung masih bisa berenang,” tuturnya, mengenang kengerian peristiwa itu.

Usaha lainnya yang dilakukan untuk memperbaiki jembatan adalah dengan ‘mempertebal wajah’ meminta sumbangan pada warga luar.

“Sebenarnya kami malu, tapi kami sangat butuh. Jumlah warga yang tinggal di sini sedikit, kalau patungan tetap saja tidak cukup untuk membuat jembatan yang lebih kokoh,” ucapnya.

Namun dana sumbangan yang diharapkan tak kunjung terkumpul.

Sahab dan warga lain pun mengubur dalam-dalam harapan untuk mendapatkan uluran tangan donatur.

“Ada juga yang ngaku pejabat, ambil foto, setelahnya tidak ada kabar lagi. Sejak itu, kami sulit percaya pada orang luar. Apalagi pernah ada yang bertaruh potong telinga kalau bisa jembatan ini dapat anggaran perbaikan dari pemerintah,” tutur Adi lagi.

Di tengah banyaknya nada sumbang yang menganggap jembatan Remora mustahil diperbaiki tiba-tiba hal mengejutkan terjadi.

“Pemerintah turun tangan, kami diberi tahu (petugas dari dinas PUPR ketika survei) bahwa jembatan ini diatensi pak wali kota. Kami sangat kaget, tak percaya bercampur senang,” ucapnya.

Sahab kembali menekankan bahwa Jembatan kayu Remora menyisakan banyak kenangan.

Ia menyebut ada kisah, sedih.

“Bahkan ada pertengkaran,” ucapnya.

Sebagian besar warga yang tinggal di lahan terisolir itu berekonomi rendah.

Mereka kelimpungan ketika harus mengumpulkan biaya perbaikan jembatan yang telah reyot. 

“Jadi kami bertengkar juga dengan warga lain, ya soal besaran sumbangan yang harus dikeluarkan,” ucapnya sambil tertawa mengenang peristiwa itu. 

Lainnya lagi, mereka pernah digoda seorang pemodal kaya.

Pemodal itu bersedia membangunkan jembatan dengan biaya besar. 

“Tapi setelah jembatan jadi, kami harus mencicil angsuran biayanya (yang telah berbunga). Warga di sini menolak dan akhirnya tetap bertahan dengan jembatan kayu,” timpal Adi.

Warga Janji Menjaga Jembatan dengan Nyawa

Sahab mengatakan jembatan itu adalah pemberian terbaik dari wali kota.

Ia bersyukur walaupun jumlah warga yang tinggal di sana belasan orang, namun mendapat perhatian tidak kalah dengan mereka yang tinggal di tengah kota.

“Kalau ada yang mau macam-macam, mengganggu, merusak apalagi mempermasalahkan (jembatan) ini, kami akan jaga dengan taruhan nyawa,” tegasnya dengan raut wajah tegang.

Menurutnya, tidak boleh ada yang menganggu apalagi mengutak-atik jembatan itu.

Mempermasalahkan jembatan baginya, sama saja dengan mengusik kembali masa lalu mereka yang sulit.

“Kalaupun lebarnya sekarang cuma satu meter dan ada yang menawarkan memperbesarnya, kami tidak mau. Apa yang ada ini sudah sangat kami syukuri,” tegasnya.

Wali Kota Tunaikan Janjinya

Ketika koran ini mengangkat kondisi jembatan kayu pada Maret 2024 lalu, Wali Kota Mataram Dr H Mohan Roliskana memberikan tanggapannya langsung.

Salah satu jawaban singkatnya adalah akan segera mencari jalan keluar atas kondisi warga Remora. 

“Ya nantilah kita lihat kodisinya dulu ya,” kata Mohan kala itu.

Setelahnya diketahui keputusan pemerintah adalah memperbaiki jembatan kayu dengan jembatan besi.

Mohan kembali memberikan tanggapan pendeknya dengan telah dapat dimanfaatkannya jembatan tersebut.

“Semoga bermanfaat. (Intinya) kami sudah merespon aspirasi itu. Dan membuka akses lingkungan ke jalan utama. Sehingga aktifitas masyarakat lebih leluasa,” pendeknya.

Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning mengatakan pengerjaan jembatan bersumber dari dana ABT. 

“Anggarannya sekitar Rp 200 juta,” katanya.

Jembatan ini lebih kokoh dari jembatan sebelumnya karena menggunakan rangka besi.

“Di atasnya kami gunakan plat besi,” ucapnya.

Jembatan itu tidak hanya aman untuk dilintasi orang, tetapi juga kendaaran roda dua.

“Sesuai arahan dan perintah pak Wali, jembatan langsung kami atensi. Kami memulai dengan desain gambar dan kemudian menyiapkan anggarannya melalui ABT,” pungkasnya. (zad/r3)

Editor : Kimda Farida
#Kehidupan #isolasi #jembatan #kebahagiaan #Pembuka