Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sekolah Pedalangan Wayang Sasak Mengenalkan Wayang Sasak hingga Beijing (3-Habis)

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 5 Desember 2024 | 11:45 WIB

 

USAI MENTAS: Latief, Fitri, bersama beberapa pemerhati budaya di Beijing, China.
USAI MENTAS: Latief, Fitri, bersama beberapa pemerhati budaya di Beijing, China.

Perjalan panjang sampai SPWS didirikan berawal dari kepedulian tinggi pada warisan budaya luhur.

Kepedulian yang diungkapkan oleh Latief sebagai: Cinta!

------------

LombokPost--Abdul Latief Apriaman mengungkapkan rasa terima kasih tak terhingga atas undangan CRIHAP.

“Seperti yang kami sampaikan, itu adalah panggung yang terhormat,” tutur sang Ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak, pada Lombok Post.

Capaian Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) hingga bisa manggung di Beijing, China dan mendapatkan penghargaan adalah buah dari cinta.

“Cinta pada budaya yang sudah ditebar para pendahulu kami, para orang tua kami, para penjaga tradisi dan budaya yang tak ada lelahnya,” ucapnya.

Ia menuturkan salah satu kenangan yang sangat melekat di ingatannya pada sekitar tahun 2011.

“Saat itu kami menyaksikan sebuah pertunjukan Wayang Sasak di Taman Budaya Mataram,” tuturnya.

Di awal pertunjukan, terdapat puluhan penonton, termasuk anak-anak menyaksikan jalannya pertunjukan.

Namun ketika malam semakin larut, satu persatu mereka pergi meninggalkan pertunjukan.

“Dan di akhir pertunjukan, kami mendapati hanya ada sekitar lima orang  penonton yang bertahan,” ucapnya sambil memperlihatkan foto kejadian tersebut.

Pemandangan ini menurut Latief, sangat berbeda dengan masa lalunya.

“Ketika kami masih kecil,” tekannya.

Saat itu, pertunjukan wayang sangat sering ditemui di desa maupun kota.

Baik itu dalam perayaan pesta perkawinan, maulid nabi, atau pun di perayaan hari kemerdekaan.

“Pertunjukan wayang sangat disukai, tak jarang saya temui para penonton, termasuk anak-anak yang tertidur di lapangan hingga pertunjukan berakhir,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, terutama setelah hadirnya beragam media hiburan modern berbasis digital, Wayang Sasak mulai tersingkirkan.

Jumlah dalang terus berkurang, pertunjukan Wayang Sasak semakin jarang ditemui.

“Sementara, sebagian besar dalang di Lombok lahir dari keluarga dalang. Kemampuan mendalang diperoleh secara turun temurun. Seorang dalang mengajarkan ilmu pedalangan pada anak, cucu, atau keluarga terdekat. Proses regenerasi ini berlangsung secara alamiah,” paparnya.

Padahal, keterampilan mendalang bisa dipelajari siapa saja.

Sehingga pada tahun 2015, muncul ide mendirikan Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS).

“Ide ini lahir dari seorang perempuan, seorang ibu, (namanya) Fitri Rachmawati. Ia muncul berbarengan dengan sebuah sayembara membuat program seni untuk lingkungan oleh Yayasan RUJAK yang menyalurkan dana SAM,” ungkapnya.

Maka didirikanlah SPWS. Pada tahun 2016, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, resmi bernaung di bawah Yayasan Pedalangan Wayang Sasak.

“Sekolah kami adalah sekolah informal, beberapa muridnya mereka yang putus sekolah,” ucapnya.

Sekolah ini mengajarkan kelas dalang, kelas musik, dan kelas tatah wayang.

Selama proses belajar mendalang, para siswa sering mendapat undangan menggelar pertunjukan.

“Ada sekitar 60 kali pertunjukan yang digelar sejak 2015 hingga 2019,” ucapnya.

Dalam setiap pertunjukan, Latief mendapati kenyataan yang sangat menggembirakan.

“Penonton terbesar kami adalah anak-anak. Ini berarti masih ada harapan besar membuat Wayang Sasak tetap lestari, karena ada anak-anak yang masih setia mencintai mereka,” tekannya penuh makna. (Lalu Mohammad Zaenuddin/r3)

 

 

 

Editor : Kimda Farida
#penonton #putus #Sekolah #pertunjukan #Wayang Sasak #beijing #China