Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kenaikan Harga Makanan Ancam Daya Beli, BPS Catat Inflasi di Mataram 1,02 Persen

Sanchia Vaneka • Kamis, 6 Februari 2025 | 19:51 WIB

 

MENUNGGU PEMBELI : Seorang pedagang eceran sedang merapikan dagangannya, beberapa waktu lalu. 
MENUNGGU PEMBELI : Seorang pedagang eceran sedang merapikan dagangannya, beberapa waktu lalu. 
 

 

LombokPost-Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram mencatat inflasi tahunan (year on year) sebesar 1,02 persen pada Januari 2025. Dari sebelas kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan harga tertinggi kedua, yaitu 5,11 persen. Kenaikan ini menjadi perhatian utama karena menyangkut kebutuhan pokok masyarakat.

”Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 7,91 persen, diikuti oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau (5,11 persen)," kata Kepala BPS Kota Mataram Mohammad Reza Nugraha Kusumowinoto.

Sektor penyediaan makanan dan minuman atau restoran juga mengalami kenaikan sebesar 2,62 persen. Hal ini semakin memberatkan pengeluaran masyarakat, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah.

Namun, ada dua kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan harga, yaitu informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (-0,97 persen), serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang turun hingga 9,12 persen.

”Meski begitu, kita juga mengalami deflasi month to month sebesar 0,66 persen pada Januari 2025, yang juga menjadi tingkat deflasi year to date (y-to-d) di bulan yang sama," jelasnya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Mataram Dr Firmansyah mengatakan, kenaikan harga makanan dapat mengancam daya beli masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

”Kebutuhan awal tahun konsumen nampaknya belum cukup tinggi, tapi kemungkinan menjelang bulan Ramadan harga akan kembali meningkat," ujarnya.

Firmansyah menambahkan, jika harga bahan pokok terus naik, masyarakat akan semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

”Tim pengendali harga harus memberikan perhatian khusus pada deflasi tajam di sektor perumahan, air, dan listrik, karena ini bisa mencerminkan menurunnya konsumsi rumah tangga akibat tekanan ekonomi," katanya.

Ia mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah antisipasi, seperti menjaga ketersediaan pasokan bahan pokok, menstabilkan harga, dan memberikan subsidi bagi masyarakat yang membutuhkan.

”Kebijakan stabilisasi harga bahan pokok dan subsidi energi perlu dipertimbangkan agar daya beli masyarakat tetap terjaga," tandasnya. (chi/r7)

Editor : Redaksi Lombok Post
#BPS #harga #deflasi #penyediaan #Inflasi #masyarakat #Ekonomi #KONSUMSI #penurunan #kebutuhan