LombokPost-Bulan Ramadan tiba, pasar takjil bermunculan di berbagai titik, menawarkan beragam makanan untuk berbuka puasa.
Namun, peredaran takjil tak layak konsumsi hingga mengandung bahan berbahaya menjadi perhatian Balai Badan Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Mataram.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BBPOM mengimbau masyarakat, terutama umat Muslim, lebih selektif dalam memilih makanan yang ditawarkan pedagang.
“Nanti akan turun juga, sedang kami koordinasikan dengan tim,” kata Kepala BBPOM Mataram Yosef Dwi Irwan, Minggu (2/3).
Terkait waktu pelaksanaan, pihaknya masih menunggu hasil koordinasi dengan tim.
“Pelaksanaannya tergantung kesiapan, karena kita juga akan melibatkan stakeholder lain. Nanti akan kami informasikan lebih lanjut,” ujarnya.
Meski belum memiliki data pasti jumlah titik penjualan takjil yang akan diawasi, BBPOM memastikan pengambilan sampel akan dilakukan secara acak.
“Kami tidak memiliki data pasti berapa jumlahnya, karena memang banyak sekali. Jadi, kami akan melakukan pengambilan sampel secara random, terutama di lokasi-lokasi yang ramai menjual takjil,” tambahnya.
Yosef juga mengingatkan masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih takjil. Makanan dengan warna mencolok atau bahan tambahan tertentu bisa mengandung zat berbahaya seperti boraks dan formalin.
“Yang masih sering kami temukan adalah boraks pada jajanan seperti kerupuk dan mi basah. Pewarna tekstil pada makanan sudah jarang ditemukan, tetapi boraks masih cukup banyak digunakan, terutama pada kerupuk,” jelasnya.
Ia menyarankan masyarakat lebih selektif, misalnya memilih kerupuk berwarna alami.
“Seperti kerupuk yang berwarna putih atau kerupuk udang dibandingkan yang berwarna mencolok,” sarannya.
Tips Memilih Takjil yang Aman
BPOM Kota Mataram juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan beberapa hal dalam memilih takjil yang aman.
Antara lain, pertama, memastikan kebersihan lingkungan penjualan.
“Hindari membeli makanan yang dijajakan di pinggir jalan dengan paparan debu dan polusi,” ucapnya.
Kedua, perhatikan cara penyajian, pilih pedagang yang menggunakan sarung tangan atau alat penjepit untuk mengambil makanan.
“Ketiga, hindari penggunaan koran atau kertas bekas sebagai alas makanan, karena bisa mengandung tinta dan zat berbahaya lainnya,” ucapnya.
Keempat, cermati warna makanan, hindari makanan yang terlalu mencolok karena berpotensi menggunakan pewarna non-pangan.
Lalu berikutnya, kelima pilih produk dengan kemasan yang baik dan tertutup, untuk menghindari kontaminasi dari udara dan lingkungan sekitar.
Pihaknya menegaskan, akan terus melakukan pengawasan dan segera menginformasikan hasil temuan di lapangan.
“Kami tetap turun ke lapangan dan melakukan pengujian. Nanti hasilnya akan kami sampaikan kepada masyarakat,” tutup Yosef.
Masyarakat diimbau lebih waspada dan melaporkan jika menemukan indikasi penggunaan bahan berbahaya dalam makanan.
Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan takjil yang beredar di pasaran aman dikonsumsi selama Ramadan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr Emirald Isfihan menyampaikan kesiapan pihaknya untuk melakukan pemantauan takjil.
“Seperti tahun lalu, kami juga turun bersama BBPOM untuk mengawasi makanan yang beredar,” katanya.
Meski demikian, jika ditemukan makanan tak layak konsumsi atau mengandung bahan berbahaya, pihaknya mengedepankan langkah edukasi dan pembinaan.
“Bagaimanapun, para pedagang adalah UMKM kita yang membutuhkan dukungan,” ujarnya. (zad/r7)
Editor : Kimda Farida