Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Robyan Abel Penulis Sastra yang Realistis Menghadapi Kehidupan, Finansial Stabil Bikin Menulis Lebih Tenang

nur cahaya • Senin, 21 April 2025 | 14:30 WIB

 

HOBI DAN USAHA: Robbyan Abel saat berswafoto beberapa waktu lalu. 
HOBI DAN USAHA: Robbyan Abel saat berswafoto beberapa waktu lalu. 
 

Di tengah riuhnya dunia bisnis dan kesibukan sebagai ayah, Abel kembali menemukan ruang sunyi yang telah lama ditinggalkannya: menulis.

Setelah vakum hampir setahun, penulis sekaligus pengusaha ini bangkit, membuktikan bahwa karya sastra bisa tumbuh subur di antara kesibukan domestik dan dunia usaha.

 Berbisnis untuk Hidup, Menulis untuk Jiwa.

------------------------------------------

Vakum dari dunia literasi selama hampir setahun sejak pertengahan 2023, Abel—begitu ia akrab disapa—akhirnya kembali menemukan gairah menulis.

Di tengah persiapan penerbitan buku dan semangat berkarya yang kembali membuncah, ia menyempatkan diri hadir dalam sebuah festival sastra bergengsi.

“Dulu vakum karena bisnis. Banyak pekerjaan, penelitian, proyek, dan juga menikah di tahun 2023. Lalu punya anak, agak riuh memang,” ujarnya sambil tersenyum, menggambarkan kesibukan yang sempat menjauhkannya dari dunia pena.

Abel mengakui, rutinitas barunya sebagai ayah dan suami turut mengubah ritme hidupnya.

“Di rumah itu kan saya merawat anak, masak juga. Saya ini pria domestik ya. Jadi ke pasar, masak, lalu baru bisa buka laptop dan buku itu di atas jam 10 atau 11 malam.”

Ia jujur bahwa dunia kepenulisan bukanlah sumber utama penghasilannya.

“Penghasilan utama saya saat ini dari bisnis. Menulis itu lebih ke refleksi diri, menyalurkan apa ya, bukan hobi juga sebenarnya. Hobi itu kan kalau tidak dilakukan tidak jadi beban. Tapi saya menganggap menulis ini beban yang menyenangkan. Harus menulis dan membaca tiap hari,” ujarnya

Photo
Photo

Dengan nada sedikit bercanda, ia menyebut menulis sebagai “pekerjaan sampingan”, sebelum meralat, “Bisnis pekerjaan utama, menulis pekerjaan sampingan saya.”

Di tengah kesibukan mengelola bisnis transportasi daring lokal “Jekol” yang menjangkau Kota Mataram hingga seluruh Pulau Lombok, usaha kuliner “Geprek Sosial”, dan jaringan minuman “Tek Poci” yang telah memiliki enam cabang di Lombok Barat, Abel justru merasa lebih nyaman bergelut dengan tulisan.

“Menulis itu lebih menyenangkan. Bisnis itu ya tempat mencari uang saja,” katanya lugas.

Menariknya, latar belakang pendidikan Abel di bidang Ilmu Komunikasi terasa hampir tak berhubungan dengan dunia bisnis yang ditekuninya.

Namun, ia meyakini apa yang dibacanya dari buku memberi perspektif berharga dalam menghadapi dinamika kehidupan, termasuk dalam bisnis.

Keputusan fokus berbisnis diambil saat ia merasa perlu menstabilkan kondisi domestik dan finansial.

“Akhirnya 2022 sampai 2023 itu saya fokus menyelesaikan kehidupan domestik dulu. Rumah tangga. Setelah merasa cukup aman dan bisnis bisa berjalan di ‘autopilot’ dengan passive income, barulah saya bisa lebih fokus menulis.”

Tentang bisnisnya, Abel menjelaskan “Jekol” adalah ojek daring yang unik karena tetap mengandalkan komunikasi melalui WhatsApp, berbeda dengan aplikasi pada umumnya.

“Geprek Sosial” memanfaatkan lokasi strategis di sebuah perumahan, sementara “Tek Poci” hadir dengan gerobak sederhana di pinggir jalan, menyasar pasar yang lebih luas.

Abel juga aktif menjadi konsultan “politik bisnis” bagi investor yang ingin menanamkan modal di Lombok.

Ia membantu mereka memahami pasar lokal, merancang sistem keuangan, pemasaran, operasional, hingga rekrutmen sumber daya manusia.

Soal pendapatan, ia menyadari bahwa menulis tidak bisa dibandingkan dengan bisnis.

“Kalau diukur dari jumlah uang yang dihasilkan, tentu saja bisnis. Saya tidak mencari uang di penulisan. Saya hanya merasa perlu menulis, seperti bernapas.”

Namun, ia mengakui, stabilitas finansial dari bisnis membuatnya lebih tenang dalam berkarya.

“Ketika seorang penulis tidak punya uang di dunia saat ini, pasti dia akan khawatir. Dan kekhawatiran saya itu semakin kecil saat saya berkecukupan.”

Menurut Abel, dunia kepenulisan saat ini lebih fleksibel.

Seorang penulis tak hanya terbatas pada karya sastra, tetapi bisa merambah ke copywriting, konten media sosial, hingga kampanye sosial dan politik.

Ini dianggapnya sebagai peluang besar bagi generasi muda yang ingin menjadikan menulis sebagai mata pencaharian utama.

Meski demikian, ia lebih menikmati menulis sastra. Bahkan, baru kali ini ia secara terbuka mengungkapkan kepemilikan bisnisnya.

Dalam perjalanan kepenulisannya, Abel telah menghasilkan ratusan karya, meski tak lagi menghitung jumlah pastinya.

Tulisan-tulisannya telah terbit di berbagai media cetak dan daring.

Namun, buku solo yang akan segera terbit ini menjadi karya perdana dalam bentuk buku utuh.

Sebelumnya, ia aktif menulis dalam berbagai antologi.

Meskipun tidak menjadikan menulis sebagai sumber pendapatan utama, Abel bersyukur rezekinya mengalir dari jalur lain.

Ia menyadari bahwa industri kepenulisan membutuhkan ekosistem yang kuat, melibatkan produser, editor, hingga penerbit.

Di luar kesibukannya berbisnis, Abel tetap aktif dalam dunia literasi.

Ia pernah menjadi juara pertama dalam sayembara cerpen lingkungan yang diselenggarakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada tahun 2021 atau 2022.

Cerpen itu kini tengah dikembangkannya menjadi sebuah novel.

Selain itu, pada 2023, naskah kritik film yang ditulisnya juga masuk daftar terbaik Dewan Kesenian Jakarta.

Di tengah aktivitasnya mengelola “Jekol”, “Geprek Sosial”, dan “Tek Poci”, Abel terus merajut kata.

Ia membuktikan bahwa semangat berkarya bisa tumbuh subur di tengah kesibukan duniawi.

Baginya, menulis bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan jiwa, yang kini kembali menemukan ruangnya di tengah riuh kehidupan seorang wirausahawan di Pulau Seribu Masjid. (Sanchia Vaneka/r7)

Editor : Kimda Farida
#literasi #usaha #lingkungan #sastra #konsultan