LombokPost – Bencana banjir bandang yang melanda Kota Mataram pada 6 Juli lalu menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur pengelolaan sampah.
Dinding Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Modern Sandubaya dilaporkan roboh sepanjang 20 meter akibat terjangan air bah.
Tembok ini nantinya akan diajukan untuk perbaikannya sambil menghitung anggarannya.
“Iya hanya 20 meter itu,” kata Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Vidi Partisan Yuris Gamanjaya saat ditemui di ruangannya, Senin (7/7).
Vidi mengungkapkan perbaikan sementara telah dilakukan dengan mengganti dinding yang roboh menggunakan spandek. Namun, untuk perbaikan permanen, pihaknya masih menghitung kebutuhan anggaran yang pasti.
Anggaran pemeliharaan TPST Modern Sandubaya ada sekitar Rp 100 juta. Dan nantinya akan dihitung kebutuhan untuk perbaikan tembok yang roboh. Kisaran anggaran pastinya belum dapat dipastikan saat ini.
"Kita hitung dulu, alokasinya memang untuk pengelolaan tapi untuk itu nanti kita sesuaikan," imbuhnya.
Vidi menjelaskan amblasnya tembok tersebut disebabkan oleh derasnya aliran air hujan. Dalam perencanaan pembangunan TPST Modern Sandubaya, ia menyebutkan selokan di kali yang berada di bawah TPST tidak memadai.
Ditambah lagi, adanya pipa berukuran 8 inci di dalamnya, menyebabkan sistem pembuangan air tidak dapat menampung debit air yang besar.
Vidi menggambarkan bagaimana genangan air yang tinggi di area tersebut menyebabkan dinding tidak mampu menahan beban dan akhirnya roboh.
"Itu yang akhirnya penuh di atas kayak kolam dan amblas," jelasnya.
Meskipun demikian, Vidi memastikan kondisi sampah di dalam TPST masih aman karena lokasi penampungan sampah berada di dataran yang lebih tinggi. Hal ini mencegah sampah ikut terbawa arus banjir.
“Kalau sampah aman ya, karena tiap harinya kosong diangkut,” akunya.
Namun, tidak semua aset TPST luput dari dampak banjir. Paving block hasil cetakan dari olahan sampah di TPST Sandubaya yang siap digunakan, dilaporkan ikut hanyut terbawa arus.
Area seluas sekitar 15 x 10 meter persegi dari paving block tersebut hanyut dan diambil oleh masyarakat. Vidi menambahkan kondisi paving block tersebut masih utuh dan bagus, tidak retak, hanya saja ikut terseret arus banjir.
“Masih utuh, karena plastiknya ringan kan jadi keangkat,” tandasnya. (chi/r9)
Editor : Jelo Sangaji