LombokPost - Angga terpilih jadi Paskibraka di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne dan Federation Square.
Ini menjadi titik balik penting prestasinya, setelah 13 tahun lalu gagal dalam seleksi Paskibraka SMA 5 Mataram.
I PUTU Angga Prasada Arnaya, mahasiswa Monash University asal Mataram, sukses mewujudkan mimpinya mengibarkan bendera Merah Putih di Melbourne, Australia. Pengalaman ini menjadi "balas dendam" manis setelah 13 tahun lalu gagal lolos seleksi Paskibraka di SMA 5 Mataram.
Baca Juga: Dua Paskibraka Nasional 2025, Dari Arena DBL ke Istana Negara
“Kebetulan saya SMA di SMA 5 Mataram, dulu saya seleksi Paskib tapi saya nggak lolos, jadi inilah pengalaman pertama saya,” tutur Angga melalui saluran seluler.
Ia berkelakar dengan menyebut kesempatan ini menjadi mimpi besar yang sangat ingin digapai dulu.
“Ibaratnya untuk membalaskan dendam yang dulu nggak lolos, walaupun usia saya udah lewat banget,” ucapnya.
Baca Juga: Sosok Bianca Alessia, Pembawa Baki Bendera dan 76 Anggota Paskibraka 2025
Angga saat ini sedang menempuh tugas belajar dari Bank BTN, menjadi salah satu dari 10 anggota Paskibraka KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) di Melbourne bertugas pada perayaan HUT RI ke-80.
Perjalanan Angga tidaklah mudah, ia harus menantang perbedaan usia, cuaca ekstrem, hingga ketakutan insiden saat bertugas.
Perjalanan Angga menjadi Paskibraka KJRI Melbourne dimulai dengan proses seleksi ketat pada 14 Maret lalu.
Bersama para peserta lain, ia mengikuti serangkaian tes, mulai dari Peraturan Baris Berbaris (PBB), fisik, Focus Group Discussion (FGD), hingga wawancara.
Setelah lolos, Angga dan rekan-rekannya menjalani latihan sangat intensif. Total 17 minggu dengan 51 kali pertemuan.
"Latihan kami cukup lama dan yang paling challenging adalah bagaimana kami dilatih fisik dan mentalnya," kisahnya.
Meskipun usianya jauh lebih matang, Angga kelahiran 1993, sementara anggota termuda kelahiran 2006. Ia tak lantas patah semangat.
Ia menghadapi tantangan perbedaan generasi dengan pola pikir yang beragam. Latihan fisik yang keras, seperti lari dan push-up, menjadi santapan sehari-hari.
Hukuman tanggung renteng, jika satu orang salah, semua dihukum juga diterapkan, mirip seperti di Indonesia. “Kami dilatih seperti diteriaki dan lain-lain, walaupun tujuannya baik untuk melatih mental, tapi dengan perjalanan itu, menurut saya paling challenging," kenangnya.
Tantangan lain yang tak kalah berat adalah cuaca. Angga dan tim berlatih saat musim dingin Melbourne yang terkenal tidak menentu.
Hujan, dingin, dan angin kencang sering kali menyertai sesi latihan. “Kami latihan dalam kondisi yang dingin, kadang hujan, ya serba salah, kadang pakai jaket, karena gerakan bolak-balik panas, akhirnya buka jaket, buka jaket dingin," tuturnya.
Angga menjelaskan Paskibraka KJRI Melbourne awalnya beranggotakan 12 orang. Namun, di tengah perjalanan, beberapa anggota keluar dan masuk.
"Kami awalnya ber 12, tapi di tengah jalan 2 orang keluar, 2 orang masuk, tapi ada 2 orang lagi keluar, jadi kami akhirnya ber 10," jelasnya.
Tim Paskibraka ini memiliki dua lokasi pengibaran, pertama di KJRI Melbourne pada siang hari. Kedua di Federation Square (Fed Square) sebuah ruang publik di pusat kota, untuk sore harinya.
Di Fed Square, pengibaran bendera dapat disaksikan masyarakat umum, baik warga Indonesia maupun warga negara lain. Jadi tidak ada prosesi upacara penurunan bendera seperti di Indonesia.
"Selama ini kami fokus latihannya itu di KJRI, karena untuk di Fed Square sendiri kami tidak bisa latihan, mengingat itu adalah tempat publik," ungkapnya.
Angga menambahkan ia baru bisa mempelajari medan pengibaran di Fed Square 30 menit sebelum acara. “Jadi 30 menit sebelum pengibaran, diberangkatkan lebih dulu, melihat bagaimana talinya, bagaimana kita nanti membentangkan benderanya," jelasnya.
Ini menjadi momen paling krusial karena ia dan tim belum siap sama sekali dengan kondisi di lapangan. Waktu latihan yang lama dari Maret hingga hari H-1, diakuinya sangat ketat.
Angga menjelaskan fokus utama latihan adalah menciptakan kekompakan dan keanggunan tim. “Sebenarnya untuk PBB (Peraturan Baris Berbaris, Red) itu bukan hanya gerak saja, jadi bagaimana kita bisa elegan dan kompak, itu yang susah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, jika semua gerak sendiri-sendiri tidak asa masalah. “Tapi menggabungkan yang sebelumnya 12 jadi 10, bergerak kompak dan elegan itu tantangannya,” jelasnya.
Selain itu, ia menyebutkan beberapa anggota tidak memiliki dasar PBB sama sekali, membuat proses latihan menjadi lebih panjang. Momen lain yang juga mendebarkan bagi Angga adalah saat H-1 pengibaran.
Sebagai tim pengerek, ia merasa khawatir dengan kondisi bendera pusaka yang baru pertama kali ia pegang. Pengaitnya sedikit bermasalah dan harus dimodifikasi dengan selotip oleh para senior Purna Paskibraka.
Ia juga khawatir salah memasang bendera hingga terbalik, karena bendera duplikat tersebut memiliki garis putih di bagian atas. Ketakutan itu semakin menjadi-jadi saat melihat video insiden pengibaran di berbagai daerah di Indonesia yang beredar di media sosial.
"Ketika saya lihat TikTok, semua itu di Kupang ada bendera lepas, di Surabaya kebalik, banyak banget, itu sih yang jadi challenge yang saya takutin," ujarnya.
Meskipun terbiasa di depan banyak orang, Angga mengaku sangat tegang dan deg-degan saat harus bertanggung jawab sebagai pengerek bendera. Semua mata dan kamera merekam setiap gerakan mereka.
Ia menyadari risiko besar yang bisa terjadi, seperti bendera terbalik atau tali terlepas. “Tali lepas, itu adalah ketakutan saya yang saya rasakan sebelum ngibar paginya," katanya.
Namun, berkat doa dan persiapan yang matang, Angga berhasil melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Bersama 9 rekan, ia sukses mengibarkan bendera Merah Putih dua kali, di KJRI Melbourne dan di Federation Square, salah satu ruang publik utama di kota tersebut.
"Untung banget semua aman, berkat doa dari keluarga, teman-teman semua, anggota paskib juga, jadi harinya lancar," ucapnya lega.
Kebanggaan Angga semakin berlipat ganda karena ia merupakan orang Lombok kedua secara berturut-turut menjadi anggota inti Paskibraka KJRI Melbourne. Tahun lalu, Hiban dari Lombok Timur terpilih sebagai pembentang bendera.
"Dua tahun berturut-turut, nama NTB itu disebut di KJRI Melbourne, kebetulan dua-duanya sebagai pasukan penggibar, saya sebagai pengerek, Mas Iban tahun lalu sebagai pengibar,” terangnya.
Angga juga merasa terharu saat mendengar komentar positif dari salah seorang TNI AU yang bertugas di Victoria. “Oh, bagus juga nih Paskibnya KJRI Melbourne," tiru Angga. (SANCHIA VANEKA, Mataram /r9)
Editor : Pujo Nugroho