LombokPost – Matahari Mataram menyinari semangat ratusan siswa SMPN 15 Mataram yang antusias mengikuti program cek kesehatan gratis.
Dengan sabar, mereka menunggu giliran untuk diperiksa, mulai dari tensi hingga kadar gula darah, demi kesehatan optimal.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, menyebut program ini sebagai terobosan penting yang patut dicontoh.
“Ini hal yang positif, dengan deteksi dini, kasus seperti anemia, hipertensi, atau diabetes bisa segera diketahui, kalau sudah terdeteksi lebih awal, intervensinya tentu akan lebih mudah,” ujarnya, Selasa (19/8).
Para guru mendampingi, sementara tenaga medis sibuk mencatat hasil pemeriksaan.
Spanduk besar bertuliskan Launching Pelaksanaan CKG – Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah Kota Mataram terbentang, menandai langkah baru yang digagas pemerintah.
Program ini bukan sekadar seremoni, melainkan strategi kesehatan jangka panjang yang diarahkan mendeteksi dini penyakit pada usia muda.
Jika sebelumnya layanan CKG hanya menyasar masyarakat umum dengan momentum tertentu, kini pemerintah memperluas cakupannya ke sekolah-sekolah.
Kota Mataram dipilih menjadi pelopor dan SMPN 15 mendapat kehormatan sebagai sekolah pertama tempat program ini diluncurkan, Selasa, 19 Agustus 2025.
Hamzi menambahkan, sejak program CKG secara umum diluncurkan di NTB pada 16 Agustus lalu untuk masyarakat umum, sudah 108.472 orang mengikuti pemeriksaan dari target 120.658.
Di Kota Mataram sendiri, lebih dari seribu orang tercatat aktif mengikuti pemeriksaan kesehatan.
Maka hadirnya terobosan CKG bagi anak sekolah ini dinilai sebagai model efektif karena sekolah sekaligus dapat mengetahui profil kesehatan siswanya.
“Dari data SMPN 15 saja bisa terlihat apakah ada kasus anemia atau bagaimana korelasi dengan Gerakan Sekolah Sehat,” ucapnya.
Dengan begitu, sekolah bisa mengambil kebijakan dan tindak lanjut sesuai kondisi anak-anak. Meski sempat dihadapkan kendala sistem, Hamzi mengapresiasi kerja sama lintas pihak.
“Teman-teman di lapangan bisa mengombinasikan aplikasi digital dengan manual sehingga kesalahan bisa diminimalisir,” jelasnya.
Data Dinas Kesehatan NTB menunjukkan tren peningkatan penyakit tidak menular (PTM) dalam 10 tahun terakhir mencapai lebih dari 10 persen.
Gaya hidup modern—mulai dari konsumsi makanan manis, asin, hingga berlemak—menjadi penyebab utamanya.
“Kalau kita tidak bergerak sekarang, anak-anak akan menghadapi risiko yang lebih besar,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya edukasi Puskesmas dan keterlibatan sekolah.
Launching CKG di SMPN 15 Mataram ditekankan sebagai awal dari perjalanan panjang menuju generasi sehat.
Dengan strategi pemeriksaan bertahap, pelibatan Puskesmas, dan dukungan sekolah, program ini diharapkan menjangkau seluruh siswa di Kota Mataram.
Bagi pemerintah daerah, deteksi dini adalah investasi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. H Emirald Isfihan, MARS., MH., CMC., FISQua., menegaskan CKG adalah program berkelanjutan, bukan acara satu hari.
Targetnya ambisius: 160 ribu siswa diperiksa setahun penuh.
“Strateginya adalah penjadwalan per sekolah oleh Puskesmas sesuai wilayah kerjanya,” terangnya.
Ia mencontohkan SMPN 15 dengan jumlah siswa lebih dari seribu, butuh sekitar 10 hari menuntaskan pemeriksaan.
“Jadi sistemnya bertahap dan terukur,” papar dr. Emirald.
Ia menjelaskan pemeriksaan tidak hanya fokus pada penyakit menular, tetapi juga penyakit tidak menular (PTM) akibat gaya hidup seperti hipertensi, diabetes, dan anemia.
Jika ditemukan kasus, tindak lanjut dilakukan di Puskesmas.
“Kalau di Puskesmas tidak bisa ditangani, baru dirujuk ke rumah sakit,” katanya.
Selain fisik, aspek kesehatan mental juga mulai dilirik. Screening awal dilakukan oleh petugas jiwa di Puskesmas.
“Kita ingin CKG tidak berhenti pada kesehatan jasmani saja, tapi juga memberi perhatian pada kondisi mental anak-anak,” tambahnya.
Bagi pihak sekolah, program ini adalah anugerah.
Kepala SMPN 15 Mataram Hj. Sri Wahyu Indriani, S.Pd., menyebut kepercayaan sebagai sekolah pertama yang dipilih menjadi lokasi launching sebagai sebuah kehormatan.
“Kami bersyukur anak-anak mendapatkan kesempatan ini,” ucapnya.
Ia menjelaskan sejak dua tahun terakhir, telah menjalankan Gerakan Sekolah Sehat.
“Dengan adanya CKG, hasilnya bisa lebih terukur, linear dengan apa yang mereka konsumsi sehari-hari,” ujarnya.
Sri Wahyu berharap program ini tidak hanya berhenti pada pemeriksaan, melainkan menjadi pengingat bagi siswa tentang pentingnya pola makan sehat dan gaya hidup bersih.
“Harapan kami, anak-anak benar-benar bisa menjaga kesehatan dengan disiplin, sesuai arahan dokter dan guru,” tambahnya.
Editor : Kimda Farida