LombokPost - Aisya anak kelas 4 di SDN 39 Mataram mengatakan kerap membawa pulang lauk MBG untuk kakaknya. "Untuk kakak," ungkapnya polos
Ayahnya bekerja di Malaysia, sementara ibunya sakit. Kakaknya yang bekerja di gudang sering berangkat pagi tanpa sarapan.
“Kalau nggak habis, aku ambil lauknya buat kakak,” ujar Aisya. Ia tahu, apa pun yang bisa dibawa pulang berarti bagi keluarganya.
Dulu, sarapan disiapkan kakaknya untuk dirinya. Kini, peran itu berbalik. “Sekarang aku yang bawain buat kakak,” katanya.
Ia menyukai timun dan sering bilang timun itu sehat, seperti pesan ibunya dulu. “Rasanya enak,” ujarnya ringan.
Setiap hari, ia membawa pulang sebagian lauk MBG. Mungkin kecil, tapi penuh kasih.
Di balik program bergizi itu, tumbuh pelajaran tentang berbagi dan cinta keluarga.
Aisya belajar, kepedulian tak selalu lahir dari kelimpahan — kadang dari sisa lauk di piring sederhana.
"Enak, saya suka (MBG)," ucapnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin